Kesehatan
Pendidikan

Satellite Symposium A ICNPH Unhas Dorong Intervensi Gizi Nasional Berbasis Riset Kolaboratif Mutakhir

Akademisi Gizi FKM Unhas dan Dietisien Dr Healthy Hidayanty SKM MKes

MAKASSAR, UNHAS.TV - Strategi penanganan masalah gizi terpadu menjadi pokok bahasan dalam Satellite Symposium A pada hari kedua The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health 2026, Kamis (9/4/2026).

Forum yang berlangsung di Innovate Room B, Unhas Hotel and Convention, Makassar, itu menampilkan sejumlah hasil riset akademisi Universitas Hasanuddin yang diarahkan untuk menjawab persoalan gizi di Indonesia.

Tiga pemateri dari Universitas Hasanuddin hadir dalam sesi tersebut, yakni Dr Abdul Salam SKM MKes, Dietisien Dr dr Anna Khuzaimah MKes, serta Dietisien Dr Healthy Hidayanty SKM MKes.

Mereka memaparkan temuan penelitian yang berfokus pada intervensi gizi, mulai dari pengawasan garam beriodium, penanganan gizi buruk terpadu, hingga pencegahan anemia pada remaja putri.

Salah satu materi yang disorot adalah studi mengenai Universal Salt Iodization atau USI. Penelitian itu mengangkat praktik baik pengawasan garam beriodium di Kabupaten Majene dan Enrekang.

Temuan tersebut menekankan pentingnya penguatan pengawasan di daerah sebagai langkah mencegah gangguan akibat kekurangan iodium.

“Yang pertama tadi ada studi tentang Universal Salt Iodization atau USI, menceritakan praktik baik yang dilakukan di dua kabupaten, Majene dan Enrekang,” kata Healthy Hidayanty.

Menurut dia, hasil studi itu merekomendasikan agar pengawasan garam beriodium di daerah diperkuat sebagai bagian dari kebijakan intervensi gizi.

Dalam sesi yang sama, dipaparkan pula studi mengenai peningkatan kapasitas dan peran para pemangku kepentingan dalam penanganan gizi buruk secara terpadu.

Riset itu menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk jejaring perguruan tinggi, agar penanganan masalah gizi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Healthy mengatakan, jejaring perguruan tinggi diperlukan untuk memperkuat dukungan ilmiah dan implementasi program.

Menurut dia, penanganan masalah gizi terpadu tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan akademisi, pemerintah daerah, dan mitra terkait.

Selain dua studi itu, Healthy juga memaparkan riset kolaboratif antara Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Andalas.

Penelitian tersebut berfokus pada edukasi gizi berbasis teori kognitif sosial untuk meningkatkan kepatuhan remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah.

Ia menjelaskan, pendekatan itu dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, efikasi diri, ekspektasi, dan regulasi diri remaja putri.

“Studi ini memberikan efek positif karena edukasi gizi berbasis teori kognitif sosial bisa meningkatkan pengetahuan, regulasi diri, serta efikasi diri remaja untuk konsumsi tablet tambah darah,” ujarnya.

Intervensi tersebut dinilai penting karena angka anemia defisiensi besi pada remaja masih tinggi, sementara kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah juga masih rendah.

Para peneliti berharap hasil-hasil studi yang dipresentasikan dalam symposium ini tak berhenti sebagai rujukan akademik, melainkan dapat menjadi dasar kebijakan dan pengembangan program intervensi gizi di tingkat nasional.

(Venny Septiani Semuel / Rahmatia Ardi / Unhas TV)