GOWA, UNHAS.TV - Usia lanjut tak menghentikan Nurlia untuk menunggu hari sekolah. Perempuan berusia 59 tahun itu bahkan kerap mempertanyakan ketika kegiatan Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui di Desa Pallangga, Kabupaten Gowa, harus diliburkan.
Baginya, sekolah tersebut bukan hanya tempat mengikuti kegiatan, tetapi juga ruang untuk bertemu dan berinteraksi dengan sesama lansia.
“Sangat senang dan sangat bahagia. Selalu menunggu-nunggu hari Jumat, kapan sekolah. Kalau diliburkan kadang saya masuk di grup, jangan diliburkan,” kata Nurlia, Ketua Kelas Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui.
Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui berdiri pada Juli 2025 di Kecamatan Pallangga, Desa Pallangga, Kabupaten Gowa.
Sekolah itu dirancang sebagai ruang bagi masyarakat lanjut usia untuk tetap belajar, bergerak, bertemu, dan membangun hubungan sosial di tengah perubahan aktivitas yang mereka alami seiring bertambahnya usia.
Pengelola Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui, Hj Sitti Rohani AM MAP mengatakan sekolah tersebut mengembangkan kegiatan yang tidak terbatas pada pembelajaran akademik.
Peserta mengikuti aktivitas keagamaan, olahraga, edukasi, hingga kegiatan bersama yang melibatkan sejumlah pihak.
“Ini Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui, sekolah lansia sekolah alam yang ada di Kecamatan Pallangga, Desa Pallangga, Kabupaten Gowa,” kata Rohani.
Menurut dia, sekolah mendapat dukungan dari akademisi dan aktivis yang terlibat dalam berbagai kegiatan. Bentuk kegiatan juga dibuat bervariasi agar peserta memperoleh pengalaman berbeda dalam setiap pertemuan.
“Alhamdulillah, Sekolah Lansia disupport oleh beberapa akademisi dan aktivis. Itu berubah-ubah terus. Jadi lansia sangat bahagia. Setiap pertemuan pasti ada sesuatu yang nuansanya berbeda,” ujarnya.
Keberagaman kegiatan menjadi salah satu alasan peserta tetap antusias datang. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga mendapat kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang baru, mengikuti aktivitas fisik, dan membangun rutinitas di luar rumah.
Nurlia mengatakan sekolah tersebut memperluas lingkungan pergaulannya. Sebelum bergabung, ia tidak mengenal banyak lansia lain yang tinggal di sekitarnya.
“Dengan adanya sekolah lansia ini, saya banyak mengenal ibu-ibu lansia. Saya sangat bahagia. Yang tadinya saya tidak kenal, saya bisa kenal,” katanya.
Pertemuan rutin kemudian berkembang menjadi ruang sosial yang dianggap penting oleh peserta. Nurlia mengatakan suasana sekolah membuat para lansia merasa lebih gembira karena dapat bertemu dengan teman sebaya.
“Kalau ke sekolah itu kayak happy, bertemu dengan sesama lansia,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui semakin dikenal masyarakat. Publikasi kegiatan melalui media sosial dinilai dapat membuka peluang keterlibatan komunitas lain untuk memberikan edukasi kepada peserta.
“Harapan ke depan, semoga dengan terkenalnya sekolah lansia ini karena sudah ada di Instagram, sudah ada di YouTube, semoga banyak yang datang dari komunitas-komunitas lain untuk bergabung mengadakan edukasi di sekolah ini,” kata Nurlia.
Dari Rutinitas di Rumah ke Ruang Sosial
Pengalaman serupa dirasakan Badaria, 58 tahun. Ia mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sebelum bergabung dengan sekolah lansia.
Minimnya aktivitas membuat ruang pergaulannya terbatas dan memengaruhi kepercayaan dirinya ketika bertemu dengan orang lain.
“Kalau sebelum saya masuk di sekolah lansia, kayaknya tinggal di rumah terus, tidak ada kegiatan. Jadi pergaulan kayak minder-minder terasa kalau sama teman. Tapi setelah masuk lansia ini, alhamdulillah,” kata Badaria.
Sekolah kemudian memberinya rutinitas baru. Peserta mengikuti kegiatan yang dimulai dengan pembinaan rohani, dilanjutkan olahraga dan aktivitas lain yang disusun pengelola.
“Pertama kalau kita datang, siraman rohani dulu. Terus kedua, olahraga. Terus selanjutnya kalau ada acara-acara begini, happy-happy sama teman-teman,” ujarnya.
Badaria berharap kegiatan itu dapat terus berlangsung karena telah menjadi bagian dari kesehariannya. “Semoga lanjut. Semoga sekolah lansia ini terus beraktivitas dan hidup selamanya,” katanya.
Indriyanti, 65 tahun, juga menilai kesempatan bertemu dengan teman sebaya menjadi bagian penting dari sekolah tersebut. Menurut dia, aktivitas bersama memberikan suasana berbeda dari keseharian di rumah.
“Oh, perasaan ikut sekolah lansia ini happy. Apalagi mendapat teman di sini, bergaul sesama teman lansia, bergaul sesama suhu. Itu yang menyenangkan di sini,” ujar Indriyanti.
Rutinitas pertemuan bahkan membuat sebagian peserta merasa kehilangan ketika kegiatan diliburkan. Indriyanti mengatakan sekolah sudah menjadi aktivitas yang selalu ditunggu.
“Kami memohon kepada Ibu Ketua, kalau bisa ini diteruskan kegiatan sekolah lansia kami ini. Karena sudah terbiasa ikut sekolah lansia ini, libur satu hari saja kayaknya kurang enak, pokoknya lemas,” katanya.
Rohani mengatakan manfaat sekolah tidak hanya dirasakan peserta. Keluarga para lansia juga memberikan respons positif karena melihat orang tua mereka memiliki kegiatan yang lebih teratur dan ruang sosial yang lebih luas.
“Keluarga-keluarga lansia juga melihat bahwa ini adalah suatu kegiatan yang sangat bermanfaat buat orang tuanya, buat dirinya, dan buat keluarganya,” ujar Rohani.
Ia berharap program sekolah dapat terus berkembang dengan dukungan berbagai pihak. Kegiatan yang konsisten dinilai penting untuk menjaga kesempatan lansia tetap belajar, bergerak, berinteraksi, dan memperoleh pengalaman baru.
“Kami berharap ada kegiatan seperti ini lagi karena membuat masyarakat sekolah lansia sangat bahagia dan juga masyarakat sekitar melihat ini sesuatu hal yang sangat baik,” katanya.
Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui kini menjadi salah satu ruang pertemuan bagi lansia di Pallangga. Kegiatan belajar, olahraga, pembinaan rohani, dan interaksi sosial membentuk rutinitas baru bagi para peserta.
Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan. Pertemuan setiap pekan juga menjadi kesempatan untuk keluar dari rutinitas rumah, memperluas pergaulan, menjaga aktivitas, serta membangun hubungan dengan sesama lansia.
Harapan terbesar para peserta kini sederhana. Mereka ingin sekolah tetap berjalan agar ruang untuk belajar, bertemu, dan menjalani masa lanjut usia secara aktif tetap tersedia.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
SEKOLAH LANSIA - Peserta mengikuti kunjungan bakti sosial di Sekolah Lansia Anrong Salama Sikatutui di Desa Pallangga, Kabupaten Gowa, Jumat (25/9/2026). Sekolah ini membantu lansia tetap aktif, belajar, berolahraga, dan memperluas pergaulan. (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)


-300x158.webp)





