Internasional

Serangan Drone Menghantam Depot Bahan Bakar, 153 Jiwa Tewas

DRONE - Serangan drone yang menghantam pasar dan depot bahan bakar di perbatasa Sudan dan Sudan Selatan menewaskan lebih dari 100 orang pada konflik antar dua negara. Foto: tangkapan layar X

SUDAN SELATAN, UNHAS.TV - Serangan pesawat nirawak (drone) terhadap sebuah pasar di Abyei —wilayah perbatasan yang dipersengketakan oleh Sudan dan Sudan Selatan —mengenai pasar dan depot bahan bakar di dekatnya. Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 153 orang dan memicu kebakaran yang masih terus berkobar hingga Selasa, ungkap seorang pejabat setempat.

Kelompok Dokter Tanpa Batas menemukan lebih dari 20 orang terluka parah dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Ameth Bek di mana kelompok itu bekerja sama dengan staf Kementrian Kesehatan Sudan Selatan.

Yohanna Akol Ngor, pejabat sementara menteri informasi untuk pemerintahan Abyei, menuding militer Sudan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan hari Senin di Pasar Amiet, yang terletak di sebelah utara kota Abyei.

"Kami mencatat 153 korban jiwa,” ujar Ngor kepada Associated Press melalui sambungan telepon pada hari Selasa. Ia menambahkan bahwa jumlah korban tewas terus bertambah seiring dengan kobaran api yang masih menyala.

Pihak Kementrian Luar Negeri Sudan Selatan juga menyatakan pihak Sudan menyerang sejumlah wilayah termasuk pasar yang mengakibatkan jumlah korban tewas bertambah. Namun pihak Sudan membantah hal itu dengan menegaskan bahwa serangan hanya ditujukan ke fasilitas militer dan pihak yang membantu militer.

Seorang perwira senior militer Sudan menyatakan bahwa angkatan bersenjata melakukan serangan drone pada hari Senin dengan menyasar truk-truk tangki bahan bakar yang tiba dari Sudan Selatan. Menurutnya, bahan bakar tersebut ditujukan bagi kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Ia menyampaikan informasi ini dengan syarat anonimitas karena tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada pers.

Wilayah Sengketa 2 Negara

Wilayah Abyei yang kaya minyak terus disengketakan oleh pihak Sudan dan Sudan Selatan dan sengketa itu tidak terselesaikan dalam perjanjian damai tahun 2005 yang mengakhiri perang saudara selama beberapa dekade, bahkan ketika Sudan Selatan menyatakan kemerdekaan pada tahun 2011. Rencana referendum pun terhenti akibat ketidaksepakatan mengenai siapa saja yang berhak memberikan suara.

Mayoritas penduduk wilayah tersebut, yakni suku Ngok Dinka, menginginkan untuk bergabung dengan Sudan Selatan, sementara kelompok nomaden Misseriya —yang memanfaatkan padang rumput di wilayah itu —lebih memilih untuk tetap bersama Sudan. Abyei juga sempat dilanda kekerasan komunal yang mematikan, termasuk konflik perebutan lahan antara suku Ngok Dinka dan komunitas tetangga, suku Twic Dinka.(*)