MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin menggelar Student Innovation Competition in Climate, Energy, and Sustainability atau SICLUS 2026 untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjawab persoalan perubahan iklim, energi, dan sampah.
Kegiatan SICLUS 2026 ini berlangsung di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Makassar, Minggu (30/8/2026).
Evant ini diselenggarakan oleh Society of Renewable Energy Universitas Hasanuddin atau SRE Unhas. SICLUS 2026 mengangkat tema “Progressive Professional Re-Generate: Youth Innovation for Circular Energy and Zero-Waste Solutions”.
Tema tersebut menempatkan inovasi anak muda sebagai bagian penting dalam pengembangan energi sirkular dan solusi pengelolaan sampah berkelanjutan.
SICLUS dirancang bukan sekadar sebagai forum diskusi. Sejumlah rangkaian kegiatan disiapkan untuk mempertemukan pengetahuan, gagasan, kompetisi, dan hiburan. Agenda itu meliputi Ignition Dialogues, The Brainstorming Lab, The Re-Gen Clash, serta penampilan bintang tamu.
Para peserta diajak memahami persoalan lingkungan sekaligus menyusun gagasan yang dapat diterapkan.
Pendekatan tersebut diperlukan karena tantangan lingkungan tidak cukup dihadapi melalui kampanye, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku, inovasi teknologi, serta pembenahan sistem pengelolaan sumber daya.
Salah satu narasumber yang hadir adalah Benedict Wermter, pembuat konten sekaligus pegiat pengelolaan sampah yang dikenal dengan nama Bule Sampah. Dalam sesinya, Benedict menyoroti persoalan sampah dan perlunya perbaikan sistem pengelolaan sampah di Indonesia.
Ia meminta mahasiswa tidak berhenti pada diskusi di ruang pertemuan. Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan, menurut dia, harus diterjemahkan menjadi langkah sederhana dan konsisten, mulai dari mengurangi timbulan sampah hingga memperluas pembicaraan mengenai persoalan lingkungan melalui media digital.
“Hari ini kita berbicara tentang solusi untuk mengurangi sampah dan memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Indonesia,” kata Benedict.
Ia melihat mahasiswa Universitas Hasanuddin memiliki motivasi untuk terlibat, tetapi motivasi tersebut perlu diikuti tindakan nyata.
Benedict mengatakan perubahan dapat dimulai setelah kegiatan selesai. Ia mendorong peserta mengambil tindakan sejak keesokan hari, baik melalui kebiasaan mengurangi sampah maupun menyebarkan informasi yang dapat meningkatkan perhatian masyarakat terhadap masalah tersebut.
Menurut dia, perguruan tinggi memiliki modal pengetahuan dan sumber daya manusia yang dapat digunakan untuk mempercepat perubahan.
Kontribusi universitas tidak hanya berasal dari perilaku individu, tetapi juga dari keahlian, penelitian, dan potensi mahasiswa serta tenaga akademik.
Energi Terbarukan dan Ekonomi Sirkular
>> Baca Selanjutnya
Benedict Wermter, Content Creator and Waste Management Advocate saat hadir dalam event SICLUS di Baruga AP Pettarani Unhas, 30 Agustus 2026. (Unhas TV / Venny Septiani)

-300x202.webp)



-300x169.webp)


