
Mochammad, Clash of Champions Season 2 Participant saat hadir dalam event SICLUS di Baruga AP Pettarani Unhas, 30 Agustus 2026. (Unhas TV / Venny Septiani)
SICLUS 2026 juga memperkenalkan hubungan antara energi terbarukan dan ekonomi sirkular. Dalam konsep ini, sumber daya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi dikelola agar tetap bernilai, dapat dipulihkan, serta menghasilkan dampak lingkungan sekecil mungkin.
Topik tersebut disampaikan Mochammad, peserta Clash of Champions musim kedua. Ia mengatakan sistem energi terbarukan tidak cukup hanya berkelanjutan. Sistem itu juga perlu memiliki kemampuan regeneratif dan dibangun dengan prinsip ekonomi sirkular.
Menurut Mochammad, pengembangan energi harus memperhitungkan seluruh siklus sumber daya. Dengan demikian, energi bersih tidak sekadar menggantikan sumber energi fosil, tetapi juga mengurangi limbah, mempertahankan nilai material, dan memperbesar manfaat sosial maupun lingkungan.
“Energi terbarukan tidak hanya harus berkelanjutan, tetapi juga regeneratif dan selaras dengan ekonomi sirkular,” ujarnya.
Sistem yang dirancang dengan prinsip tersebut, kata dia, dapat memperkecil dampak negatif sekaligus menghasilkan manfaat yang lebih besar.
Mochammad juga menyoroti peluang yang dimiliki generasi muda pada era digital. Mahasiswa kini dapat mengikuti kegiatan produktif, mengakses pengetahuan dengan cepat, membangun jaringan, dan menyampaikan gagasan kepada khalayak yang lebih luas melalui berbagai platform.
Namun, kemudahan itu perlu digunakan secara bertanggung jawab. Ia mengingatkan agar media digital tidak hanya dipakai untuk menyebarkan fenomena negatif atau membuat sesuatu menjadi viral tanpa tujuan.
Platform digital semestinya menjadi ruang untuk membangun diskursus yang sehat dan memperluas pendidikan lingkungan.
“Jangan membuat tren hanya karena ingin viral. Pikirkan pula bagaimana informasi itu dapat memberikan dampak kepada audiens yang lebih luas,” kata Mochammad.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan SICLUS 2026: generasi muda tidak ditempatkan sebagai penonton dalam transisi menuju sistem yang lebih berkelanjutan. Mereka didorong menjadi penggagas, komunikator, sekaligus pelaksana perubahan di lingkungan masing-masing.
Melalui kompetisi dan forum pertukaran gagasan, peserta memperoleh ruang untuk menguji ide mengenai energi, iklim, dan pengelolaan sampah.
Pertemuan antara mahasiswa, pegiat lingkungan, dan figur muda juga membuka peluang kolaborasi setelah kegiatan berakhir.
Kolaborasi dinilai penting karena persoalan sampah dan energi melibatkan banyak pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat perlu bekerja dalam satu arah agar inovasi tidak berhenti sebagai rancangan, tetapi dapat diterapkan dan diperluas.
SICLUS 2026 menegaskan bahwa transisi menuju energi sirkular dan kondisi nol sampah membutuhkan perpaduan pengetahuan, inovasi, komunikasi, dan tindakan.
Dari kampus, generasi muda diharapkan mampu membawa gagasan itu ke ruang publik serta mengubahnya menjadi solusi yang terukur dan berkelanjutan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)


 Kota Makassar Dr Helmy Budiman SSTP MM-300x175.webp)





