MAKASSAR, UNHAS TV - Rasa aman dalam mengajar dan belajar menjadi perhatian tenaga pendidik serta perwakilan lembaga perlindungan perempuan dan anak di Sulawesi Selatan.
Mulai dari kesejahteraan guru, penanganan perundungan, hingga pencegahan kekerasan terhadap anak, sejumlah persoalan tersebut mengemuka dalam Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2026.
Forum yang berlangsung di Aula Sipurio, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulawesi Selatan, Makassar, pada 27–28 Oktober 2026 ini mempertemukan pelajar, guru, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Para peserta menyampaikan pandangan serta langkah penanganan yang telah dilakukan untuk mendukung lingkungan pendidikan yang lebih aman dan ramah anak.
Kongres tersebut mengusung tema “Dari Aksi Menjadi Kebijakan: Mengakar, Berdampak, dan Berkelanjutan”. Kegiatan ini digagas BASAibu Wiki melalui BASAibu Wiki Sulawesi Selatan dengan menggandeng Rumah Budaya Makassar sebagai mitra.
Guru SMK Negeri 10 Makassar, Adil Akbar SPd Gr MPd menyoroti tiga persoalan utama yang perlu mendapat perhatian, yakni perlindungan guru, kesejahteraan tenaga pendidik, dan pemanfaatan ruang kolaborasi untuk menunjang proses pembelajaran.
Menurut Adil, perlindungan terhadap guru merupakan kebutuhan mendasar agar tenaga pendidik dapat menjalankan tugas secara aman dan nyaman.
Perlindungan tersebut juga perlu diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan sehingga guru dapat berfokus pada tanggung jawabnya sebagai pendidik.
“Tanpa perlindungan guru, itu kita tidak akan mengajar dengan aman dan nyaman,” ujar Adil.
Ia menilai kesejahteraan yang belum memadai dapat mendorong guru mencari pekerjaan tambahan di luar tugas utamanya. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi waktu dan perhatian yang seharusnya dapat dicurahkan untuk kegiatan pembelajaran.
“Kalau kesejahteraannya terjamin, mereka akan fokus untuk mengajar, fokus untuk mewujudkan cita-cita Undang-Undang Dasar, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelasnya.
Selain itu, Adil menekankan pentingnya menghadirkan ruang pembelajaran di luar kelas. Menurutnya, keterlibatan siswa dalam forum seperti Kongres Pemuda dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan memahami persoalan sosial secara langsung.
Meski mengapresiasi penyelenggaraan kongres, Adil berharap koordinasi dengan instansi pendidikan dapat ditingkatkan, terutama terkait penyampaian informasi dan perizinan peserta.
Ia juga mendorong agar kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan pada momentum Sumpah Pemuda, tetapi dapat berlanjut pada kesempatan lain, termasuk Hari Pendidikan Nasional dan Hari Guru.
Program Gamara untuk Cegah Perundungan
Persoalan perundungan atau bullying turut menjadi perhatian dalam forum tersebut. Guru UPT SPF SMP Negeri 18 Makassar, Nisbayanti SPd Gr MM menilai perundungan sebagai masalah serius karena dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan akademik peserta didik.
Menurutnya, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak dan inklusif.
Sebagai salah satu langkah penanganan, SMP Negeri 18 Makassar telah mengembangkan program antiperundungan bernama Gamara. Program tersebut menerapkan dua pendekatan, yakni pencegahan atau preventif dan mitigasi.
“Program kami ini memiliki dua pendekatan, dari segi preventif dan juga mitigasi. Untuk preventif itu kita menggerakkan teman sebaya, yakni Duta Gamara, dalam mencegah jika ada indikasi terjadi perundungan di sekitar mereka,” ujar Nisbayanti.
Melalui pendekatan tersebut, siswa dilibatkan sebagai bagian dari upaya pencegahan dengan membangun kepedulian terhadap teman sebaya dan mengenali indikasi perundungan di lingkungan sekolah.
Sementara itu, pendekatan mitigasi dilakukan melalui penyediaan kanal pengaduan yang memungkinkan siswa melaporkan dugaan perundungan tanpa harus mengungkapkan identitasnya.
“Kemudian untuk mitigasi, berupa kanal laporan pengaduan perundungan, di mana setiap ada perundungan yang terjadi, siswa dapat melaporkan di kanal tersebut, dan kanal tersebut dapat menjamin kerahasiaan dari pelapor,” jelasnya.
Nisbayanti menerangkan bahwa fitur anonim pada kanal tersebut bertujuan mengurangi kekhawatiran siswa terhadap kemungkinan menjadi sasaran perundungan setelah menyampaikan laporan.
Dalam kongres tersebut, Nisbayanti juga mendampingi empat siswa. Ia berharap gagasan dan hasil diskusi yang diperoleh dapat disosialisasikan kembali di sekolah serta menjadi bahan pengembangan kegiatan kokurikuler.
Pemuda Jadi Pelopor Pencegahan Kekerasan
>> Baca Selanjutnya
Guru SMPN 18 Makassar, Nisbayanti SPd Gr MM dan Guru SMKN 10 Makassar, Adil Akbar SPd Gr MPd. (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)






-300x183.webp)

