Sport

Stadion Azteca Jadi Ancaman Tersembunyi Inggris, Main di Ketinggian 2.240 Meter

Inggris bakal main melawan Meksiko di Stadion Azteca di ketinggian 2240 meter. (Screenshot The Sun)

LONDON, UNHAS.TV – Tim nasional Inggris diperkirakan menghadapi tantangan yang tidak hanya datang dari kekuatan Meksiko ketika kedua tim bertemu pada babak 16 besar Piala Dunia.

Bermain di Stadion Azteca, Mexico City, yang berada pada ketinggian sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut, diyakini menjadi faktor yang dapat memengaruhi performa fisik para pemain The Three Lions sepanjang pertandingan.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengakui kondisi geografis tersebut menjadi keuntungan besar bagi Meksiko sebagai tuan rumah bersama turnamen.

Menurut dia, perbedaan karakter udara di dataran tinggi akan mengubah jalannya pertandingan, mulai dari pergerakan bola hingga daya tahan para pemain.

"Bolanya akan melaju dengan cara yang berbeda. Bisa bergerak lima yard lebih jauh. Kondisi ini memang sulit," ujar Tuchel.

Stadion Azteca dikenal sebagai salah satu arena paling ikonik dalam sejarah sepak bola dunia. Namun, bagi tim tamu, stadion itu juga memiliki reputasi sebagai tempat yang sulit ditaklukkan.

Meksiko hanya dua kali menelan kekalahan dalam 89 pertandingan yang dimainkan di stadion tersebut, sebuah catatan yang menunjukkan kuatnya pengaruh faktor kandang, termasuk kondisi ketinggian.

Sebagai perbandingan, stadion dengan lokasi tertinggi di Inggris, markas West Bromwich Albion, hanya berada sekitar 168 meter di atas permukaan laut.

Selisih lebih dari dua kilometer itu membuat para pemain Inggris harus beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali berbeda dibandingkan kompetisi domestik yang biasa mereka jalani.



Statistik Timnas Inggris lawan Meksiko di Azteca. (The Sun)


Bermain di dataran tinggi bukan sekadar persoalan stamina. Pada ketinggian seperti Azteca, tekanan udara lebih rendah sehingga kandungan oksigen yang masuk ke aliran darah ikut berkurang.

Kondisi tersebut dapat memicu sesak napas, peningkatan denyut jantung, dehidrasi, hingga kelelahan yang datang lebih cepat dibandingkan pertandingan di permukaan laut.

Pengalaman itu pernah dirasakan mantan kapten West Ham United, Nigel Reo-Coker, ketika membela Montreal Impact menghadapi Club America pada final Liga Champions CONCACAF 2015 di Stadion Azteca.

Ia menyebut laga tersebut sebagai pertandingan paling menguras tenaga sepanjang kariernya.

"Datang dari Eropa lalu bermain di ketinggian seperti itu sangat sulit. Anda benar-benar tidak bisa bernapas dengan lega. Selama sekitar 45 hingga 55 menit pertama, fokus Anda hanya berusaha terus bernapas," katanya.

Menurut Reo-Coker, pemain tidak bisa terus-menerus melakukan tekanan tinggi atau sprint karena tenaga akan terkuras jauh lebih cepat. Kecerdasan membaca tempo permainan menjadi faktor penting agar energi dapat dihemat hingga pertandingan berakhir.

Pendapat serupa disampaikan mantan kapten Meksiko, Pavel Pardo. Mantan pemain Club America itu mengatakan setiap tim tamu yang datang ke Azteca sudah memahami bahwa mereka akan menghadapi penderitaan fisik sejak peluit pertama dibunyikan.

"Sebagai lawan, Anda tahu bahwa ketika datang ke sana, Anda akan menderita," ujarnya.

Keuntungan Tim Tuang Rumah

>> Baca Selanjutnya