Oleh: Syamsir Nadjamuddin, S. Ag*
Artikel ini mengkaji konsep Syajaratin Nubuwwah (pohon kenabian) sebagai paradigma ekoteologi Islam melalui pendekatan reflektif-spiritual terhadap Doa Sya‘bāniyyah.
Metafora pohon kenabian tidak hanya merepresentasikan silsilah kenabian secara teologis, tetapi juga menghadirkan visi kosmik tentang keterhubungan antara wahyu, manusia, dan alam semesta. Dengan menautkan Doa Sya‘bāniyyah dan Surah Ibrāhīm ayat 24, artikel ini menunjukkan bahwa spiritualitas Islam memuat fondasi etika ekologis yang menempatkan alam sebagai manifestasi rahmat dan tajalli ilahi. Pendekatan ini memperkaya diskursus ekoteologi Islam dengan perspektif doa dan tasawuf sebagai sumber kesadaran lingkungan.
Pendahuluan
Krisis ekologis global dewasa ini menuntut pembacaan ulang terhadap sumber-sumber keagamaan sebagai basis etika lingkungan. Dalam Islam, alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi semata, melainkan sebagai ayat-ayat Tuhan yang hidup dan berbicara. Salah satu simbol teologis yang kaya makna ekologis adalah konsep Syajaratin Nubuwwah—pohon kenabian—yang muncul dalam teks-teks doa dan tradisi spiritual Islam, khususnya dalam Doa Sya‘bāniyyah.
Metafora pohon dalam Islam mengandung makna kehidupan, kesinambungan, pertumbuhan, dan keterhubungan kosmik.
Oleh karena itu, membaca Syajaratin Nubuwwah sebagai paradigma ekoteologi berarti menempatkan kenabian sebagai poros keseimbangan antara Tuhan, manusia, dan alam.
Syajaratin Nubuwwah dalam Doa Sya‘bāniyyah
Doa Sya‘bāniyyah yang diriwayatkan dari Imam ‘A.li Zainal Abidin ra merupakan doa spiritual yang sarat dengan dimensi kosmologis dan teologis. Salah satu penggalannya berbunyi:
اللهم صل على محمد وآل محمد شجرة النبوة وموضع الرسالة
ومختلف الملائكة ومعدن العلم
Terjemahan:
“ Penggambaran Nabi Muhammad dan Ahlulbait sebagai syajarah (pohon) menegaskan bahwa kenabian bukanlah entitas terputus, melainkan organisme spiritual yang hidup, berakar, bertumbuh, dan berbuah. Akar pohon melambangkan wahyu ilahi, batangnya adalah risalah, cabangnya adalah ajaran, dan buahnya adalah peradaban serta akhlak manusia¹.
Metafora Pohon sebagai Prinsip Ekoteologi
Dalam perspektif ekoteologi, pohon bukan sekadar simbol biologis, tetapi entitas sakral yang mengajarkan keseimbangan. Pohon hidup dengan memberi: oksigen, keteduhan, dan keberlanjutan. Demikian pula kenabian hadir untuk memelihara kehidupan, bukan merusaknya.
Al-Qur’an menegaskan metafora ini dalam Surah Ibrāhīm ayat 24:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
Terjemahan:
“ Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” (QS. Ibrāhīm: 24)
Ayat ini memperkuat gagasan bahwa kebenaran ilahi bekerja mengikuti hukum-hukum ekologis: berakar kuat, bertumbuh seimbang, dan memberi manfaat luas².
Syajaratin Nubuwwah dan Etika Lingkungan
Menjadikan Syajaratin Nubuwwah sebagai paradigma ekoteologi berarti memandang kenabian sebagai model relasi harmonis. Nabi tidak hanya diutus untuk manusia, tetapi juga sebagai rahmatan lil ‘ālamīn, yang mencakup alam non-manusia.
Dalam kerangka ini, merusak alam berarti memutus cabang-cabang pohon kenabian; sementara merawat lingkungan adalah bentuk kesetiaan spiritual terhadap risalah. Doa, dengan demikian, bukan sekadar ibadah verbal, melainkan praksis kesadaran ekologis yang membentuk cara pandang dan perilaku manusia³.
Refleksi Spiritual: Dari Doa ke Kesadaran Ekologis
Doa Sya‘bāniyyah mengajarkan bahwa hubungan dengan Tuhan harus berbuah dalam keterhubungan dengan ciptaan-Nya. Spiritualitas tanpa kepedulian ekologis berisiko menjadi kering dan abstrak. Sebaliknya, ekologi tanpa spiritualitas kehilangan dimensi sakralnya.
Syajaratin Nubuwwah mengundang manusia untuk meneladani cara pohon hidup: diam namun memberi, kokoh namun rendah hati, dan selalu terhubung dengan langit dan bumi sekaligus.
Kesimpulan
Konsep Syajaratin Nubuwwah dalam Doa Sya‘bāniyyah menawarkan paradigma ekoteologi Islam yang integral, di mana kenabian, doa, dan alam berada dalam satu kesatuan makna. Dengan menautkan metafora pohon dalam Al-Qur’an dan doa, artikel ini menegaskan bahwa spiritualitas Islam mengandung visi ekologis yang mendalam. Paradigma ini relevan untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis iman dan cinta kosmik.
*Penulis adalah Penghulu KUA Lau Maros, Penggiat Moderasi Beragama, Pemerhati Kearifan Lokal dan Ekoteologi Islam dan Praktisi Tarekat
Syamsir Nadjamuddin, S.Ag, menghadirkan Syajaratin Nubuwwah sebagai paradigma ekoteologi Islam yang menautkan doa, kenabian, dan alam semesta dalam satu kesadaran spiritual untuk merawat bumi sebagai amanah ilahi.



-300x225.webp)




