MAKASSAR, UNHAS.TV - Tahun Baru Imlek atau yang dikenal sebagai Tahun Baru Cina atau Festival Musim Semi, adalah salah satu hari terpenting di Tiongkok dan banyak negara Asia Timur lainnya, tak terkecuali di Indonesia.
Sebagaimana di negara lainnya, Tahun Baru Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional. Pemerintah Indonesia resmi menetapkan tahun baru itu sebagai hari libur nasional sejak 19 Januari 2001 melalui Keputusan Menteri Agama No 13/2001 tentang penetapan hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif yang kemudian dikuatkan melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2022 tentang Hari Tahun Baru Imlek.
Setelah munculnya peraturan itu, barulah untuk pertama kalinya sejak era Reformasi, Tahun Baru Imlek dirayakan secara nasional pada 1 Februari 2003 atau bertepatan dengan Tahun baru Imlek 2553 Kongzili.
Adapun sejarah dimulainya Tahun baru Imlek, sampai saat ini tidak ditemukan pendapat atau informasi yang sangat jelas mengenai kapan Tahun Baru Imlek dimulai,.
Namun, perayaan hari itu tetap diyakini berakar pada praktik pertanian kuno dan pemujaan leluhur. Para petani merayakan hari itu sebagai perayaan akhir musim dingin dan menyambut musim semi.
Musim semi bagi mereka merupakan perlambang awal dari siklus kehidupan baru, pertumbuhan, dan tentu saja kemakmuran.
Selama Dinasti Shang (1600-1046 SM), orang-orang mengadakan upacara pengorbanan untuk menghormati dewa dan leluhur di awal atau akhir setiap tahun.
Pada Dinasti Zhou (1046-256 SM), istilah "Nian" (tahun) pertama kali muncul. Menjadi kebiasaan untuk mempersembahkan kurban kepada leluhur atau dewa dan menyembah alam untuk memberkati panen pada pergantian tahun.
Dinasti Han (202 SM-220 M) lalu menetapkan tanggal festival sebagai hari pertama bulan pertama dalam kalender bulan Tiongkok.
Satu tahun dalam penanggalan kalender Tiongkok selalu diwakili oleh salah satu dari 12 hewan sebagai shio (Shengxiao) dan lima unsur yang mewakili pembentuk alam semesta. Siklus ini berulang setiap 12 tahun.
Adapun 12 shio tersebut yakni tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Sedangkan lima unsur itu yakni loham, kayu, air, api, dan tanah. Khusus tahun ini ditandai dengan Shio Ular Kayu.
Paduan dari 12 hewan dan unsur pembentuk halam semesta ini diyakni melambang satu keadaan yang terjadi sepanjang tahun itu.
Inilah sebabnya mereka yang meyakini shio ini bisa memperkirakan keadaan sepanjang tahun menurut shio yang berlaku, termasuk peruntungan dan kesehatan.
Seiring berjalannya waktu, perayaan Tahun Baru Imlek berevolusi hingga mencakup berbagai adat dan tradisi.
Beberapa yang paling terkenal meliputi pembersihan rumah secara menyeluruh untuk menyingkirkan nasib tahun sebelumnya dan menyambut nasib baik yang dilambangkan melalui kebersihan.
Pada malam tahun baru, selalu ada pesta meriah di mana keluarga berkumpul untuk menikmati makanan lezat dan menghabiskan waktu berkualitas bersama.
Hidangan yang disajikan selalu mengandung simbol tertentu. Misal, kue bulan yang dibagikan ke keluarga dan tetamu sebagai simbol rasa syukur atas berkah baiik sepanjang tahun.
Juga selalu ada jeruk di meja makan sebagai lambang keberuntungan karena dalam pelafazan bahasa Tionghoa untuk jeruk mirip dengan pelafazan kata "emas" atau "kekayaan". Jeruk sering diletakkan bersama dengan angpao/hongbao atau amplop di samping bantal anak-anak.
Angpao diberikan diberikan dari orang dewasa kepada anak-anak dan atau kepada mereka yang belum menikah sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran.
Ikan bandeng selalu jadi pilihan santapan di Tahun Baru Imlek. Pada budaya Tionghoa, ikan bandeng memiliki makna rezeki melimpah.
Ikan bandeng dalam bahasa Mandarin sering disebut sebagai "yu". Kata "yu" ini juga punya makna melimpah sehingga menghadirkan ikan bandeng berarti menghadirkan kelimpahan pada kehidupan sepanjang tahun.
Selain simbol-simbol yang berada di meja makan, juga terdapat simbol khusus yang ditempatkan di depan rumah, yakni pemasangan pohon tebu.
Tanaman tebu memiliki perlambang kehidupan yang manis, bahagia, dan penuh keberuntungan. Semakin tinggi dan segar tanaman tebu yang dipasang di rumah, semakin besar harapan keberuntungan yang diidamkan.
Beberapa sumber menyebutkan, tanaman tebu pernah punya sejarah perlindungan terhadap para leluhur yang selamat dari amukan musuh karena berlindung di rimbunan pohon tebu. Tebu pun dimaknai sebagai simbol keberuntungan dan keselamatan.
Tanaman tebu ini diikat di rumah selama 15 hari hingga perayaan Cap Go Meh. Beberapa orang meyakini tebu sebaiknya diikat di rumah sebelum Imlek. Sebagian lagi berpendapat tanaman tebu disediakan di rumah bertepatan dengan hari Imlek.(*)