Kesehatan
News
Tahukah Kamu?

Tak Pakai Kaos Kaki saat Menggunakan Sepatu, Ini Risiko Masalah Kulit Kaki?

Risiko Kaki yang tak pakai kaos kaki saat bersepatu menurut dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi. (dok chatgpt)

UNHAS.TV - Kebiasaan mengenakan sepatu tanpa kaos kaki kerap dianggap praktis dan sepele, terutama dalam aktivitas harian yang singkat.

Namun di balik kenyamanan semu itu, risiko gangguan kesehatan kulit kaki mengintai. Mulai dari lecet, iritasi, bau kaki, hingga infeksi jamur dan bakteri dapat muncul jika kebiasaan ini dilakukan secara berulang.

Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi di Klinik dan Apotek Saoraja Medika, dr Andi Nurhaerani Zainuddin SpDVE, mengatakan penggunaan sepatu tanpa kaos kaki menjadi salah satu faktor risiko terjadinya masalah kulit pada kaki.

Menurut dia, gesekan langsung antara kulit dan bagian dalam sepatu dapat memicu lecet, terutama jika sepatu digunakan dalam waktu lama.

“Sepatu tanpa kaos kaki itu bisa menyebabkan lecet dan iritasi, apalagi bila dipakai dalam durasi yang panjang,” kata Andi Nurhaerani saat ditemui di Klinik Saoraja Medika, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, risiko tersebut semakin besar jika sepatu yang digunakan tidak dalam kondisi bersih. Kaki yang tertutup di dalam sepatu akan berkeringat.

Tanpa kaos kaki yang berfungsi menyerap keringat, kelembapan akan meningkat dan menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri serta jamur untuk berkembang.

Menurut Andi Nurhaerani, bau kaki merupakan salah satu dampak paling umum dari kebiasaan tersebut. Bau muncul akibat bakteri dan jamur yang mengurai keringat di area kaki.

“Bakteri atau jamur yang berada di sepatu akan mengurai keringat dan menimbulkan bau tidak sedap,” ujarnya.


Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi di Klinik dan Apotek Saoraja Medika, dr Andi Nurhaerani Zainuddin SpDVE. (unhas tv/venny septiani)


Kondisi ini, kata dia, akan semakin parah pada orang yang memiliki produksi keringat berlebih di kaki.

Jika dibiarkan, lingkungan lembap tersebut dapat berkembang menjadi infeksi kulit, baik infeksi jamur maupun infeksi bakteri. “Kaki yang lembap sangat rentan terkena infeksi kulit,” tutur Andi Nurhaerani.

Ia menambahkan, penggunaan kaos kaki sebenarnya menjadi lapisan pelindung antara kulit dan sepatu.

Kaos kaki membantu menyerap keringat sekaligus mengurangi gesekan langsung. Namun, kaos kaki yang digunakan juga harus dalam kondisi bersih dan kering. “Kalau kaos kakinya basah atau kotor, risikonya tetap ada,” katanya.

Andi Nurhaerani menyarankan agar kaos kaki diganti secara rutin setiap hari atau segera diganti jika sudah basah akibat keringat. Selain itu, sepatu juga perlu dijaga kebersihannya dan diberi waktu untuk kering sebelum digunakan kembali.

Penggunaan sepatu yang sama secara terus-menerus tanpa jeda pengeringan dapat memperparah kondisi lembap di dalam sepatu.

Selain kebersihan, pemilihan sepatu juga berpengaruh terhadap kesehatan kaki. Sepatu yang terlalu sempit atau berbahan tidak menyerap keringat akan meningkatkan risiko iritasi dan infeksi.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan kebiasaan sederhana dalam penggunaan sepatu dan kaos kaki.

“Hal-hal kecil seperti memakai kaos kaki bersih dan menjaga sepatu tetap kering itu penting untuk mencegah masalah kulit kaki,” ujar Andi Nurhaerani.

Dengan memperhatikan kebiasaan tersebut, risiko gangguan kulit pada kaki dapat diminimalkan. Kesehatan kaki, meski sering luput dari perhatian, menjadi bagian penting dalam menjaga kenyamanan dan kualitas aktivitas sehari-hari.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)