RIYADH, UNHAS.TV - Megabintang sepakbola dunia, Cristiano Ronaldo datang ke Arab Saudi dengan satu hal yang nyaris tak terbantahkan: uang dalam jumlah yang belum pernah ada sebelumnya di dunia sepak bola.
Terbaru, Ronaldo kembali menjadi pusat perhatian. Bukan karena gol atau rekor baru, melainkan kabar ketegangan di klubnya, Al-Nassr.
Penyerang asal Portugal itu dilaporkan absen pada laga Al-Nassr melawan Al-Riyadh, Senin (2/2/2026) lalu, karena disebut tengah melakukan aksi mogok.
Sumber media Eropa menyebut Ronaldo sedang “sangat marah” terhadap situasi internal klub, meski manajemen Al-Nassr belum memberikan pernyataan resmi.
Kabar ini menandai babak baru yang tak mulus dalam petualangan Ronaldo di Arab Saudi. Tiga tahun lalu, kepindahannya ke Timur Tengah mengguncang dunia sepak bola.
Ronaldo meninggalkan Eropa setelah konflik terbuka dengan manajer Manchester United saat itu, Erik ten Hag. Ia kemudian meneken kontrak fantastis bersama Al-Nassr, yang kala itu disebut sebagai kesepakatan paling mahal dalam sejarah sepak bola.
Dengan bayaran hampir £500 ribu per hari—setara sekitar Rp10 miliar—Ronaldo diperkirakan telah mengantongi sekitar £441 juta atau Rp8,8 triliun dari kontrak awalnya saja.
Perpanjangan kontrak yang diteken musim panas lalu menambah pundi-pundi kekayaannya, termasuk bonus tanda tangan senilai £24,5 juta (sekitar Rp490 miliar) serta kepemilikan saham di Al-Nassr yang ditaksir mencapai £33 juta atau Rp660 miliar.
Jika digabung dengan gaji lanjutan dan berbagai fasilitas eksklusif, total pendapatan Ronaldo selama berkarier di Arab Saudi diperkirakan mencapai £600 juta—setara sekitar Rp12 triliun.
Al-Nassr bahkan menyediakan 16 staf penuh waktu untuk mendukung kehidupan Ronaldo dan keluarganya, mulai dari sopir, koki, hingga petugas keamanan. Sebuah jet pribadi juga disiapkan untuk menunjang mobilitasnya.
Namun, kekayaan itu rupanya tidak sejalan dengan kepuasan di lapangan. Dalam lebih dari tiga tahun berseragam Al-Nassr, Ronaldo baru mempersembahkan satu trofi.
Yakni Arab Club Champions Cup—gelar yang tidak diakui FIFA sebagai turnamen resmi. Bagi pemain yang lima kali meraih Ballon d’Or, catatan tersebut jauh dari kata ideal.
Sumber ketidakpuasan terbaru Ronaldo disebut berasal dari aktivitas klub di bursa transfer musim dingin. Al-Nassr dinilai kurang agresif memperkuat skuad, dengan rekrutan utama hanya pemain muda asal Irak, Haydeer Abdulkareem.
Sementara itu, rival mereka yang juga berada di bawah naungan Public Investment Fund (PIF), Al-Hilal, justru aktif mendatangkan pemain seperti Pablo Marí dan Kader Meïté.
Media Portugal, A Bola, melaporkan bahwa Ronaldo merasa Al-Nassr tidak menjadi prioritas utama PIF dibanding klub-klub Saudi lainnya.
Isu ini sensitif, terutama setelah pelatih Al-Hilal, Jorge Jesus, menuai kontroversi usai menyebut adanya “kekuatan politik” yang lebih besar di klubnya. Pernyataan itu bahkan memicu tuntutan sanksi skorsing selama satu tahun dari pihak Al-Hilal sendiri.
Ronaldo, yang akan berusia 41 tahun pekan ini, masih memiliki ambisi besar. Ia menargetkan pencapaian 1.000 gol sepanjang karier sebelum gantung sepatu.
Pada Desember 2025 lalu, ia menegaskan bahwa ambisi itu tak terikat lokasi. “Gairah saya masih tinggi. Tidak masalah saya bermain di mana, di Timur Tengah atau di Eropa,” ujar Ronaldo.
Bukan kali pertama Ronaldo menunjukkan ekspresi frustrasi di Arab Saudi. Pada 2023, ia pernah meninggalkan lapangan sambil menendang botol air usai kalah dari Al-Ittihad. Ia juga sempat membungkam suporter yang meneriakkan nama Lionel Messi dalam sebuah pertandingan.
Dengan torehan 117 gol dari 133 penampilan bersama Al-Nassr, kontribusi Ronaldo di lapangan tak terbantahkan.
Namun, apakah hubungan bernilai Rp12 triliun ini masih bisa diselamatkan, atau justru akan berakhir dengan konflik terbuka, kini menjadi tanda tanya besar di sepak bola Saudi. (*)
RETAK. Cristiano Ronaldo saat memperkuat Al Nassr. Dikabarkan hubungan antara Ronaldo dan manajemen klub retak. (the sun)








