Budaya
Mahasiswa

Tallasa Ri Pasisi Angkat Kehidupan Masyarakat Pesisir dalam Pentas Karya Talenta 24

TALLASA RI PASISI - Mahasiswa UKM BKSI Unhas mementaskan Tallasa Ri’ Pasisi di Baruga A.P. Pettarani, Makassar, Kamis (1/10/2026) malam. Pertunjukan ini mengangkat kehidupan masyarakat pesisir Ampekale melalui musik, sastra, tari, dan kreativitas untuk menyoroti persoalan lingkungan. (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kehidupan masyarakat pesisir Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, naik ke atas panggung melalui pementasan Tallasa Ri’ Pasisi.

Pertunjukan ini menjadi bagian dari Pentas Karya Talenta 24 yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Belantara Kreatif Sylva Indonesia Universitas Hasanuddin (UKM BKSI-Unhas) di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Kamis (1/10/2026) malam.

Pementasan tersebut memotret keseharian masyarakat pesisir sekaligus berbagai persoalan yang mereka hadapi. Mulai dari keterbatasan air, persoalan sampah, hingga kondisi ekonomi nelayan menjadi bagian dari cerita yang diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk pertunjukan seni.

Ketua UKM BKSI-Unhas, Natasya Amelia Annas, mengatakan karya yang ditampilkan dalam Pentas Karya Talenta 24 terdiri atas sejumlah unsur seni. “Ada item musik, sastra, kreatif, dan tari,” kata Natasya.

Menurut dia, rangkaian karya itu berangkat dari kehidupan masyarakat di Desa Ampekale yang masih berhadapan dengan sejumlah persoalan lingkungan dan ekonomi.

Salah satunya ialah keterbatasan pengelolaan sampah yang berpengaruh terhadap kondisi kawasan pesisir.

Sampah yang tidak tertangani secara optimal menjadi keresahan masyarakat setempat. Kondisi tersebut kemudian diterjemahkan para mahasiswa ke dalam pertunjukan yang menggambarkan hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka menggantungkan kehidupan.

Selain persoalan sampah, kebutuhan air turut menjadi perhatian dalam pementasan. Masyarakat pesisir digambarkan menghadapi kesulitan memperoleh air untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Kondisi perekonomian nelayan juga mendapat sorotan. Natasya mengatakan pendapatan sebagian nelayan menghadapi tekanan karena ketersediaan bahan bakar untuk melaut tidak selalu mudah diperoleh.

Situasi tersebut memaksa masyarakat mencari cara untuk beradaptasi dan mempertahankan aktivitas ekonomi mereka. Dalam Tallasa Ri’ Pasisi, berbagai persoalan itu tidak ditampilkan sekadar sebagai kesulitan.



Ketua UKM BK SI-Unhas, Natasya Amelia Annas. (Unhas TV/Zahra Tsabita)


Pertunjukan juga menggambarkan kemampuan masyarakat pesisir untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada, termasuk mencari alternatif dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal yang digunakan untuk melaut.

Perpaduan musik, sastra, tari, dan karya kreatif menjadi medium untuk membawa realitas tersebut ke hadapan penonton.

Melalui pendekatan seni, UKM BKSI-Unhas berupaya memperlihatkan kehidupan pesisir tidak hanya dari sisi keindahan kawasan, tetapi juga dari tantangan yang sehari-hari dihadapi masyarakatnya.

Natasya mengatakan Pentas Karya Talenta 24 diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan realitas sosial melalui karya seni.

Mereka juga ingin memperkenalkan Desa Ampekale sebagai wilayah pesisir yang memiliki potensi, tetapi masih menghadapi persoalan lingkungan yang cukup signifikan.

Melalui Tallasa Ri’ Pasisi, panggung seni malam itu menjadi ruang untuk mempertemukan kreativitas mahasiswa dengan cerita masyarakat pesisir.

Pertunjukan tersebut sekaligus membawa pesan mengenai pentingnya perhatian terhadap pengelolaan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan kehidupan masyarakat pantai.

(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)