Breaking News
News

Tim Unhas Pelajari Model Holding Bisnis IPB, Jadikan Referensi Pengembangan Hadin

STUDI BANDING - Tim penyusun blueprint PT Hadin Unhas studi banding ke PT Bogor Life Science and Technology (BLST), holding company milik Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (4/6/2026). (Dok PT Hadin)

BOGOR, UNHAS.TV – Tim penyusun blueprint PT Hadin Metavisi Akademika (Hadin) Universitas Hasanuddin melakukan studi banding ke PT Bogor Life Science and Technology (BLST), holding company milik Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (4/6/2026).

Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian benchmarking yang dilakukan Universitas Hasanuddin untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan badan usaha perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH).

Rombongan dipimpin Ketua Tim Penyusunan Blueprint Hadin, Dr. Eka Sastra. Turut hadir Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Hasanuddin Prof. Nurhaedar Thalib, Dekan Fakultas Teknik Unhas Prof. Irsan Ramli, serta Sekretaris Rektor Universitas Hasanuddin Sawedi Muhammad. Hadir pula Direktur Inovasi Unhas Asmi Citra Malina PhD, serta staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas.

Kedatangan tim Unhas diterima langsung oleh Direktur Utama BLST, Luhur Budijarso, yang memaparkan perkembangan bisnis dan tata kelola holding company milik IPB tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Luhur menjelaskan bahwa BLST merupakan holding company yang dibentuk IPB untuk mengelola seluruh aktivitas bisnis universitas secara terpusat. 

Didirikan pada tahun 2003, BLST saat ini berkembang menjadi salah satu model pengelolaan badan usaha kampus yang cukup maju di Indonesia dengan portofolio usaha yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari konsultansi, pendidikan dan pelatihan, penerbitan, pangan, pertanian, bioteknologi, perbankan syariah, hingga properti.




Portofolio bisnis BLST dikelompokkan ke dalam beberapa bidang utama. Pada sektor expertise based, BLST mengelola PT Prima Kelola IPB yang bergerak di bidang konsultansi profesional berbasis kepakaran kampus, PT Global Scholarship Services Indonesia atau IPB Training yang menyediakan layanan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, PT Penerbit IPB Press, serta PT Biomedical Technology Indonesia yang bergerak di bidang biomedis dan bioteknologi.

Di sektor pangan dan agribisnis, BLST mengelola PT Serambi Botani Food Industry yang mengomersialisasikan berbagai produk pangan berbasis inovasi riset IPB serta PT Botani Seed Indonesia yang mengembangkan benih pangan dan hortikultura, teknologi pertanian, serta berbagai layanan agribisnis.

Pada sektor keuangan, BLST memiliki PT BPRS Botani Bina Rahmah yang bergerak di bidang perbankan syariah berbasis perguruan tinggi.

Sementara itu, pada sektor properti, BLST mengelola sejumlah aset bisnis yang cukup dikenal di Kota Bogor, antara lain Botani Square Mall, IPB International Convention Center (IICC), IPB Convention Hotel, Plaza Botani, serta kepemilikan pada Hotel Santika Bogor. IPB International Convention Center sendiri mampu melayani kegiatan hingga 2.000 peserta dan menjadi salah satu pusat konvensi terbesar di Bogor.

Selain membahas struktur holding dan portofolio bisnis, diskusi juga menyoroti perjalanan pengembangan berbagai unit usaha tersebut, termasuk Botani Square Mall, Hotel Santika Bogor, dan IPB International Convention Center yang menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi holding company IPB.

Menurut Dr. Eka Sastra, salah satu pelajaran paling berharga yang diperoleh dari IPB adalah kejelasan regulasi dalam memisahkan aktivitas akademik dan aktivitas bisnis kampus.

“IPB memiliki regulasi yang sangat jelas. Aktivitas akademik, riset, dan pengembangan inovasi dikelola oleh pusat studi dan Science Techno Park. Sedangkan seluruh aktivitas bisnis diarahkan ke BLST. Jadi BLST menjadi satu-satunya institusi yang mengelola bisnis, baik yang berada di dalam maupun di luar kampus,” kata Eka Sastra.

Menurutnya, model tersebut membuat arah pengembangan bisnis menjadi lebih fokus dan profesional. Tidak terjadi tumpang tindih kewenangan antara unit akademik dan unit bisnis sehingga seluruh portofolio usaha dapat dikelola dalam satu sistem yang terintegrasi.

“Yang menarik adalah semua aktivitas bisnis berada dalam satu holding. Tidak tersebar di berbagai unit. Dengan model seperti itu, BLST dapat tumbuh lebih cepat, lebih fokus, dan memiliki arah pengembangan yang jelas. Ini menjadi salah satu pelajaran penting yang kami pelajari untuk pengembangan Hadin,” ujarnya.

Eka menambahkan bahwa pengalaman IPB menjadi referensi penting bagi Universitas Hasanuddin yang saat ini sedang menyusun road map dan struktur holding company Hadin.

Salah satu isu yang sedang dikaji adalah bagaimana membangun hubungan yang sehat antara aktivitas akademik, riset, hilirisasi inovasi, dan pengembangan bisnis kampus.

“Pelajaran penting yang kita dapatkan hari ini adalah BLST bisa berkembang pesat karena dukungan kuat dari Rektor IPB, melalui regulasi dan keberpihakan pada bisnis kampus. Ini menjadi salah satu praktik baik yang sangat relevan untuk kami pelajari dalam pengembangan Hadin ke depan,” katanya.



Kunjungan ke IPB merupakan bagian dari rangkaian benchmarking ke enam PTNBH yang dinilai berhasil mengembangkan badan usaha kampus secara profesional.

Sebelumnya tim Unhas melakukan kunjungan ke Universitas Gadjah Mada (UGM), sementara setelah dari Bogor, rombongan melanjutkan studi banding ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada saat yang sama, tim lainnya melakukan benchmarking ke Universitas Airlangga (UNAIR), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Brawijaya.

Hasil dari seluruh kunjungan tersebut akan menjadi bahan dalam penyusunan blueprint Hadin, khususnya terkait pengembangan portofolio bisnis, struktur holding, serta tata kelola perusahaan yang diharapkan mampu menjadikan Hadin sebagai mesin penggerak ekonomi Universitas Hasanuddin di masa mendatang.