MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di sepanjang Jalan Pendidikan dan Jalan Sahabat, kawasan Universitas Hasanuddin (Unhas), dipadati mahasiswa yang berburu takjil, Rabu (26/2/2026).
Deretan pedagang menawarkan aneka menu berbuka, mulai dari bakso bakar, dimsum, es buah, hingga jalangkote. Di tengah ragam pilihan yang menggoda, mahasiswa dituntut cermat mengatur pengeluaran agar tidak boros selama Ramadan.
Fenomena “lapar mata” menjelang magrib kerap membuat belanja takjil membengkak tanpa disadari. Karena itu, sejumlah mahasiswa mulai menerapkan strategi sederhana untuk menjaga kondisi dompet tetap aman hingga akhir bulan.
Fitri Ramadani, mahasiswa yang ditemui di Jalan Sahabat, mengaku tidak setiap hari membeli takjil. Ia menetapkan batas pengeluaran agar tidak melampaui anggaran harian.
“Kalau saya tidak setiap hari berbelanja takjil. Tapi kalau beli, kisaran Rp20 ribu sampai Rp25 ribu,” ujar Fitri.
Hal serupa disampaikan Ayu Dzakira. Ia mengalokasikan anggaran sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu setiap kali membeli menu berbuka. Meski memilih membeli karena dinilai lebih praktis, Ayu tetap membatasi frekuensi belanja.
Menu segar seperti es buah menjadi favorit keduanya. Selain itu, camilan seperti bakso bakar, dimsum, dan jalangkote juga menjadi pilihan utama untuk membatalkan puasa. Harga yang relatif terjangkau membuat jajanan tersebut laris menjelang waktu berbuka.
Menurut Fitri, pengeluaran selama Ramadan berpotensi meningkat jika tidak dikontrol. Apalagi, saat rasa lapar memuncak, keinginan membeli makanan dalam jumlah lebih banyak sulit dihindari.
Untuk menyiasatinya, Fitri sesekali memilih memasak sendiri di tempat kos agar lebih hemat. “Mungkin kalau saya lebih baik masak sendiri supaya lebih hemat untuk anak kos,” katanya.
Sementara itu, Ayu menilai membeli takjil memang lebih sederhana dari sisi waktu dan tenaga. Namun, ia sepakat bahwa pengeluaran harus dibatasi. Ia menerapkan strategi membeli takjil hanya dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Selain membatasi frekuensi, keduanya juga membagikan tips agar belanja takjil tidak berlebihan. Salah satunya dengan membawa uang pas sesuai anggaran yang telah ditentukan. Cara ini dinilai efektif untuk menekan godaan membeli makanan di luar rencana.
“Tips dari saya, kurangi lapar mata menjelang magrib. Bisa juga bawa uang pas, jadi kalau mau beli banyak, tidak ada uang lebih,” ujar Fitri.
Ayu menambahkan, mahasiswa perlu disiplin dalam mengatur jadwal belanja. “Takjilnya bisa dibatasi dua sampai tiga kali sepekan saja, tidak setiap hari, supaya lebih hemat,” katanya.
Strategi sederhana seperti menentukan batas anggaran harian dan mengatur frekuensi pembelian dinilai cukup efektif menjaga stabilitas keuangan mahasiswa selama Ramadan. Dengan perencanaan yang matang, momen berburu takjil tetap bisa dinikmati tanpa harus mengganggu kebutuhan lain.
Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas jual beli meningkat tajam menjelang magrib. Meski demikian, sebagian mahasiswa tampak selektif memilih menu dan menghitung kembali uang yang dibawa sebelum memutuskan membeli.
Ramadan memang identik dengan ragam kuliner berbuka yang menggoda. Namun, bagi mahasiswa, disiplin mengelola keuangan menjadi kunci agar tradisi berburu takjil tetap menyenangkan tanpa meninggalkan beban pengeluaran berlebih.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
mahasiswa Unhas Fitri Ramadani dan Ayu Dzakira. (unhas tv/venny septiani)
-300x200.webp)







