Watch Unhas TV Live
Watch Unhas TV Live
Budaya

Uang Panai: Simbol Tanggung Jawab atau Harga Diri Orang Bugis-Makassar?

Amir PR09 Jul, 2024
BUGIS - Pernikahan Andi Amar Ma'ruf Sulaiman yang memakai adat Bugis. (foto: IG @andiamarms)

MAKASSAR, UNHAS.TV Entah sejak kapan tradisi uang panai diberlakukan pada saat akad nikah di Suku Bugis dan Makassar. Bagi sebagian orang, tradisi ini seolah menjadi penyataan harga diri dan gengsi dari seorang pria yang hendak melamar perempuan.

Doi Panai dalam istilah Suku Makassar atau Doi’ Menre pada Suku Bugis adalah uang seserahan yang diberikan oleh seorang pria yang hendak melamar perempuan Bugis ata Makassar.

Jumlahnya biasanya ditetapkan oleh pihak perempuan kepada calon mempelai pria dan mempelai pria bisa bernegosiasi mengenai jumlah yang ia sanggupi.

Terkadang pula si pria yang mengajukan jumlahnya. Terkadang nilai yang disebutkan lebih kecil dibanding keinginan pihak perempuan, terkadang malah lebih besar dari yang diduga sebelumnya.

“Tetapi pada hakikatnya, uang panai’ ini selau dinilai sebagai simbol awal tanggung jawab pihak pria kepada perempuan,” kata budayawan dan dosen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, DR Firman Saleh SS SPd MHum, kepada Unhas TV.

Kewajiban menyiapkan uang panai dari pihak pria, kata Firman, dimaksudkan agar pihak perempuan dapat menggunakan uang tersebut untuk menyiapkan pesta penyambutan yang layak bagi keluarga pria yang datang.

Meskipun tidak dimaksudkan menyulitkan pihak pria sebab uang panai’ disesuaikan dengan peruntukannya, nyatanya jumlah uang panai; kini semakin menjulang tinggi.

Entah sebab kebutuhan pokok yang semakin banyak atau untuk menjaga gengsi. Faktor gengsi inilah yang juga penyebab pergeseran makna uang panai’ di masyarakat modern.

“Sekarang ini uang panai’ menjadi momok juga bagi calon mempelai pria apabila ingin meminang pujaan hatinya. Uang panai’ juga menjadi salah satu identitas Bugis-Makassar. Dia memiliki tempat tersendiri untuk dibicarakan, namun tidak menutup kemungkinan ada kesepakatan untuk tidak memberatkan kedua pihak,” tambah Firman Saleh.

Setidaknya ada dua alasan yang mendasari uang panai’ yang tinggi sebagai simbol gengsi, menurut Firman Saleh. Pertama, keinginan pria mengangkat derajat martabat si calon mempelai perempuan. Dia ingin menunjukkan keberadaannya bahwa dia memiliki ekonomi tinggi.

Kedua, cara halus pihak perempuan menolak laki laki dengan meninggikan uang panai. Pada kondisi ini, pihak pria yang tertantang akan menyanggupi, namun yang sadar kondisinya, akan memilih mundur.

“Inilah pertarungan gengsi terjadi,” ujarnya.

Pada kalangan tertentu, uang panai sering kali merupakan tanggungan bersama antara pihak pria dan perempuan. Pada situasi ini, jumlah tanggungan bersama itu seringkali diucapkan di depan publik seolah tanggungan pria.

“Ada banyak faktor pendorong situasi ini muncul. Keinginan kuat untuk segera membentuk keluarga baru, pandangan untuk memudahkan urusan pernikahan, dan dorongan agama,” ujarnya.

Zulkarnaen & Muhammad Syaiful (Unhas TV)