GOWA, UNHAS.TV - Perkembangan riset dan inovasi membutuhkan proses yang tidak hanya berfokus pada menghasilkan temuan baru, tetapi juga memastikan hasil penelitian dapat dikembangkan dan dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan.
Hubungan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri menjadi bagian penting dalam mempercepat proses pengembangan inovasi.
Salah satu tantangan dalam pengembangan riset adalah bagaimana menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri serta masyarakat.
Banyak penelitian telah menghasilkan berbagai temuan dan prototipe, namun masih membutuhkan dukungan ekosistem agar dapat dikembangkan menuju tahap pemanfaatan.
Upaya memperkuat hubungan tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan Temu Bisnis Industri Berbasis Riset dan Inovasi 2026 yang diselenggarakan Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Gedung Center of Technology (CoT) Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Gowa, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, lembaga riset, serta mitra industri untuk mengenalkan potensi kerja sama dan membahas peluang pengembangan hasil penelitian agar dapat memberikan nilai tambah melalui proses hilirisasi.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik Unhas, Dr Eng Hendra Pachri ST MEng menjelaskan bahwa Temu Bisnis Industri menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pemanfaatan hasil riset oleh industri.
Menurut Hendra, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan penelitian dengan kebutuhan pengguna.
“Temu bisnis ini adalah suatu kegiatan yang mempertemukan stakeholder untuk berbicara bagaimana hilirisasi riset inovasi yang bisa coba dimanfaatkan oleh industri, stakeholder di dalam hal menghilirisasi produk-produk sumber daya alam,” ujar Hendra.
Ia menjelaskan bahwa salah satu persoalan dalam pengembangan riset saat ini adalah belum optimalnya integrasi antara proses penelitian hingga tahap pemanfaatan.
“Permasalahannya adalah sekarang banyak riset-riset tetapi belum terintegrasi, belum terintegrasi sampai di hilir. Kita ini masih berjalan masing-masing, ada yang bekerja di hulu, ada yang bekerja di hilir,” jelasnya.
Menurut Hendra, pengembangan riset perlu diarahkan tidak hanya menghasilkan produk penelitian, tetapi juga melihat dampak dan pihak yang dapat memanfaatkan hasil tersebut.
“Padahal hari ini kita bagaimana menghasilkan suatu produk-produk penelitian, bukan hanya berhenti di produk penelitiannya, bukan hanya berhenti di prototipenya, tapi kita memikirkan bagaimana dampaknya, dampaknya ke mana, masyarakat siapa,” katanya.
Direktur Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Joannes Ekaprasetya Tandjung PhD menyampaikan bahwa penguatan kolaborasi menjadi salah satu langkah penting dalam membangun ekosistem riset dan inovasi.
Menurut Joannes, BRIN terus mendorong kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi yang memiliki peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia.
“Badan Riset Inovasi Nasional meningkatkan kolaborasi dengan berbagai sektor, dengan berbagai pemangku kepentingan. Kita juga percaya pada kekuatan generasi muda dan kekuatan pendidikan,” ujar Joannes.
Ia menyampaikan bahwa Universitas Hasanuddin menjadi salah satu mitra yang memiliki potensi dalam pengembangan kerja sama riset.
“Kami memang sudah merancang kerja sama dengan Universitas Hasanuddin. Oleh karena itu, hari ini kita menyaksikan ada penandatanganan PKS juga antara Universitas Hasanuddin dan BRIN yang tentunya menjadi awal dari penguatan kolaborasi lebih lanjut,” jelasnya.
Infrastruktur Riset Jadi Bagian Kerja Sama
>> Baca Selanjutnya
TEMU INDUSTRI - Universitas Hasanuddin bersama BRIN menggelar Temu Bisnis Industri Berbasis Riset dan Inovasi 2026 di Gedung CoT Fakultas Teknik Unhas, Gowa, Rabu (30/9/2026). Kegiatan mempertemukan akademisi, peneliti, dan industri untuk memperkuat hilirisasi riset melalui kolaborasi. (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)




-300x169.webp)



