Prof Agussalim menyebutkan, diperlukan komitmen kolektif di antara para pihak guna menciptakan solusi berkelanjutan yang mampu mengatasi kemiskinan secara nyata.
Dengan menggunakan cara pandang yang lebih luas, sejatinya kemiskinan perlu dipandang dari kaca mata moral, bahwa menghilangnya rasa empati dan solidaritas sosial dari lingkungan sosial, berpotensi melanggengkan kemiskinan.
Prof Dr Madris membawakan pidato "Integrasi Pasar Output, Pasar Tenaga Kerja, dan Pengembangan Mutu Human Capital dalam Mereduksi Angka Pengangguran di Indonesia".
Prof Madris menyebutkan permintaan suatu komoditas (output), merupakan hubungan fungsional antara tingkat harga dengan komoditas yang para konsumen bersedia untuk membelinya.
Dalam perspektif ketenagakerjaan, menurutnya, kelompok penduduk usia 15-18 tahun merupakan tenaga kerja muda yang sudah atau bersiap siap memasuki pasar kerja, baik yang terpaksa bekerja karena putus sekolah, maupun yang memang sudah menyelesaikan pendidikan formalnya sehingga kebijakan perluasan maupun penciptaan kesempatan kerja baru merupakan issue pembangunan yang krusial selama ini.
Terkait perencanaan ketenagakerjaan ke depan, Prof Madris menekankan perlunya melihat dari dua sisi, yakni sisi permintaan dan sisi penawaran tenaga kerja. Dari sisi permintaan, secara teoritis permintaan tenaga kerja ditentukan oleh permintaan output. Semakin tinggi permintaan, semakin tinggi permintaan jasa tenaga kerja. Untuk itu, perencanaan pengembangan mutu human capital harusnya berbasis permintaan di pasar output.
Prof Ismail memberikan penjelasan mengenai "FOMO sebagai Paradigma Baru dalam Perilaku Konsumen Generasi Z: Kontribusi Teoritis Terhadap Keputusan Pembeli dan Loyalitas".
Dirinya menyebutkan, temuan penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa FOMO pada generasi Z memiliki karakter yang khas. Sifatnya lebih kolektif, lebih normative dan sangat dipengaruhi oleh komunitas sosial digital. Konsumsi tidak lagi sekadar tindakan ekonomi, melainkan juga sarana menjaga keterhubungan sosial dan identitas kelompok.
Berbagai riset dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa FOMO memiliki pengaruh signifikan terhadap percepatan Keputusan pembelian dan meningkatnya perilaku impulsive pada generasi Z.
Lebih jauh lagi, FOMO fomo terbukti berperan sebagai penghubung psikologis antara keterlibatan media sosial, promosi digital dan niat beli konsumen. Namun, yang lebih menarik adalah dampak fomo terhadap loyalitas konsumen.
Prof Rini Rachmawaty memberikan penjelasan tentang penelitian yang dilakukan mengenai "Integrated Clinical Pathways (ICP) dan Icare System sebagai Strategi Manajemen Keperawatan dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia".
Prof Rini menjelaskan, manajemen keperawatan merupakan proses koordinasi dan integrasi sumber daya keperawatan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pasien.
Di era rumah sakit modern, manajemen keperawatan tidak dapat dipisahkan dari upaya standarisasi proses perawatan yang menjamin keselamatan, efektivitas, dan efisiensi pelayanan. Dalam menjalankan fungsi ini, clinical pathways menjadi instrument penting.
ICP merupakan salah satu alat kunci dalam manajemen keperawatan kontemporer. ICP bertujuan menerjemahkan rekomendasi pedoman praktik klinis ke dalam proses perawatan, sehingga memaksimalkan keselamatan pasien dan efisiensi klinis.
Secara keseluruhan, Prof Rini menyebutkan, penerapan model praktik keperawatan professional berbasis ICP, baik pada penyakit fisik maupun gangguan kesehatan jiwa, memberikan kemanfaatan yang luas bagi berbagai pemangku kepentingan. Bagi pasien, ICP menjamin konsistensi dan kualitas keperawatan, mempercepat pemulihan, serta meningkatkan kepuasan terhadap layanan kesehatan.(*)








