JAKARTA, UNHAS.TV — Di tengah dunia yang terus diguncang perang, polarisasi identitas, kekerasan berbasis agama, dan retaknya kepercayaan antarmasyarakat, Universitas Hasanuddin (Unhas) membuka jembatan akademik baru bersama Hartford International University for Religion and Peace, Amerika Serikat, melalui penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di Jakarta.
Pertemuan itu bukan sekadar mempertemukan dua pimpinan universitas di meja penandatanganan, melainkan mempertautkan pengalaman Indonesia dalam merawat kemajemukan dengan tradisi panjang Hartford dalam mengembangkan studi lintas agama dan pendidikan pembangunan perdamaian.
Dalam kesepakatan tersebut, kedua universitas membuka peluang penelitian pada bidang yang menjadi kepentingan bersama, pertukaran bahan akademik, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta penyelenggaraan seminar, lokakarya, konferensi, dan kegiatan ilmiah lainnya.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., memandang kerja sama internasional sebagai ruang perjumpaan berbagai pengalaman dan cara pandang untuk menghasilkan jawaban yang lebih menyeluruh terhadap persoalan kemanusiaan global.
“Kerja sama ini memperkuat hubungan kedua institusi, khususnya dalam pengembangan riset dan pembelajaran, serta kami berharap kolaborasi ini dapat menghasilkan pengetahuan dan gagasan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Jamaluddin Jompa.
Bagi Unhas, kerja sama tersebut juga menghadirkan kesempatan membawa pengalaman sosial Indonesia—terutama Sulawesi Selatan—ke dalam percakapan ilmiah internasional mengenai agama, kebudayaan, rekonsiliasi, dan penyelesaian konflik.
Di hadapan mitra internasionalnya, Prof. Jamaluddin memperkenalkan tiga nilai luhur masyarakat Bugis-Makassar, yakni Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi, yang telah lama menjadi pedoman dalam membangun hubungan antarmanusia.
“Di Sulawesi Selatan, kami memiliki nilai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi yang mengajarkan kami untuk saling menghormati, saling mengingatkan, serta menjunjung tinggi martabat manusia,” tuturnya.
.webp)
Rektor Unhas dan Presiden Hartford menunjukkan naskah MoU kolaborasi riset, pendidikan, dan pembangunan perdamaian global. (Foto: Alya/Humas Unhas).
Sipakatau mengandung prinsip saling memanusiakan tanpa membedakan asal-usul dan kedudukan, Sipakainge mengajarkan keberanian untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, sedangkan Sipakalebbi menanamkan penghormatan terhadap harkat orang lain.
Ketiga nilai tersebut menempatkan perdamaian bukan hanya sebagai keadaan tanpa perang, melainkan sebagai hubungan sosial yang dibangun melalui penghormatan, tanggung jawab moral, kesetaraan, dan kesediaan mendengarkan pihak yang berbeda.
Kearifan Lokal Bertemu Ilmu Perdamaian Global
Di sinilah kerja sama Unhas dan Hartford menemukan keunikannya, karena pengetahuan lokal yang tumbuh dalam masyarakat Sulawesi Selatan dapat dipertemukan dengan teori, metode, dan pengalaman internasional mengenai dialog lintas agama serta transformasi konflik.
Kearifan lokal tidak lagi hanya dipelajari sebagai peninggalan kebudayaan, tetapi berpeluang diuji secara ilmiah sebagai sumber pendekatan dalam mediasi, rekonsiliasi masyarakat, pendidikan perdamaian, perlindungan kelompok rentan, dan pemulihan hubungan sosial pascakonflik.
.webp)
Rektor Unhas menyerahkan cendera mata kepada Presiden Hartford sebagai simbol persahabatan dan kolaborasi perdamaian. (Foto: Alya/Humas Unhas).
Presiden Hartford International University for Religion and Peace, Sheryl L. Turner, Ph.D., menyambut kemitraan tersebut sebagai kesempatan memperluas pertukaran gagasan dan pengalaman akademik antara Amerika Serikat dan Indonesia.
“Kerja sama ini membuka peluang bagi kita untuk saling bertukar gagasan, mengembangkan penelitian, serta memperluas pembelajaran bersama sehingga berbagai persoalan dapat dipahami melalui perspektif dan pengalaman yang berbeda,” ujar Sheryl Turner.
Hartford International University memiliki akar sejarah sejak 1834 dan kini memusatkan pendidikan serta penelitiannya pada agama, hubungan lintas iman, keadilan, dan pembangunan perdamaian dalam masyarakat majemuk.
Universitas yang berlokasi di Hartford, Connecticut, itu menawarkan bidang pendidikan seperti International Peacebuilding, Interreligious Studies, dan pelayanan keagamaan serta menaungi Hartford Institute for Religion Research yang mengembangkan penelitian tentang perubahan kehidupan beragama dan komunitas keagamaan.
Hartford juga memiliki hubungan panjang dengan kajian Islam melalui Duncan Black Macdonald Center for the Study of Islam and Christian-Muslim Relations serta jurnal akademik The Muslim World, sehingga kemitraan dengan Unhas memiliki landasan intelektual yang relevan untuk dikembangkan.
Pengalaman Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus rumah bagi ratusan kelompok etnis, bahasa, tradisi, dan agama menghadirkan laboratorium sosial yang sangat berharga bagi penelitian perdamaian.
Sheryl Turner melihat keragaman tersebut bukan sebagai kumpulan perbedaan yang hanya perlu dikelola, melainkan sebagai sumber pengetahuan untuk memahami bagaimana masyarakat membangun kepercayaan, merundingkan identitas, menyelesaikan ketegangan, dan mempertahankan kehidupan bersama.
Dalam konteks itu, Sulawesi Selatan dapat menawarkan berbagai objek kajian, mulai dari tradisi musyawarah, perjumpaan agama dan kebudayaan, peran tokoh masyarakat, rekonsiliasi berbasis adat, hingga pembentukan solidaritas dalam komunitas yang majemuk.
Menuju Laboratorium Perdamaian Lintas Benua
Kolaborasi ini berpeluang melahirkan penelitian lintas disiplin yang mempertemukan ilmu agama, antropologi, sosiologi, sejarah, hubungan internasional, psikologi sosial, komunikasi, hukum, kebudayaan, dan ilmu lingkungan.
.webp)
Rektor Unhas Jamaluddin Jompa memaparkan pentingnya kolaborasi akademik dan kearifan lokal bagi perdamaian dunia. (Foto: Alya/Humas Unhas).
Kajian perdamaian modern memang tidak lagi terbatas pada perundingan untuk menghentikan perang, tetapi juga mempelajari ketidakadilan struktural, perubahan iklim, perebutan sumber daya, migrasi, informasi palsu, ujaran kebencian, trauma kolektif, dan diskriminasi yang dapat memicu konflik.
Mahasiswa Unhas- seluruh sivitas akademika Unhas- dan Hartford nantinya berpeluang belajar langsung dari konteks sosial yang berbeda melalui mobilitas akademik, kelas kolaboratif, penelitian lapangan, diskusi kasus, dan perjumpaan dengan komunitas lokal.
Pertukaran akademisi juga dapat mempertemukan para peneliti untuk merancang publikasi bersama, mengembangkan modul pendidikan perdamaian, membentuk jejaring riset, serta membangun rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
Agar tidak berhenti sebagai dokumen seremonial, kerja sama tersebut dapat diterjemahkan ke dalam agenda terukur berupa kelompok riset bersama, pertukaran tahunan mahasiswa dan dosen, konferensi berkala, penerbitan artikel ilmiah, serta program pengabdian kepada masyarakat.
Hasil penelitian juga dapat dikembangkan menjadi bahan ajar dan model pelatihan bagi sekolah, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, pemerintah, media, dan komunitas yang berhadapan langsung dengan persoalan intoleransi serta konflik sosial.
Kerja sama ini semakin penting ketika ruang digital memungkinkan prasangka dan disinformasi bergerak melampaui batas negara dalam hitungan detik, sementara kemampuan berdialog dan memeriksa informasi sering berkembang jauh lebih lambat.

Rektor Unhas dan Presiden Hartford menandatangani MoU penguatan riset, pertukaran akademik, serta pendidikan perdamaian. (Foto: Alya/Humas Unhas).
Melalui ilmu pengetahuan, kedua universitas dapat membantu mengubah perdamaian dari slogan normatif menjadi keterampilan yang dapat dipelajari, dipraktikkan, diukur, dan disempurnakan berdasarkan pengalaman masyarakat.
Dari Jakarta, Unhas dan Hartford akhirnya menanam sebuah harapan bahwa pengetahuan global dan kearifan lokal dapat berjalan bersama, sementara Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi memperoleh ruang baru untuk berbicara kepada dunia tentang cara memuliakan manusia di tengah perbedaan.(*).
Rektor Unhas dan Presiden Hartford bersama delegasi meneguhkan persahabatan lintas negara untuk mengembangkan riset, mobilitas akademik, dialog antaragama, serta pendidikan perdamaian berkelanjutan bagi kemanusiaan global. (Foto: Alya/Humas Unhas).








