Internasional
News
Travel

WEF Davos Hari Ke-4: Ketika Dunia Berbicara Keras, Indonesia Menawarkan Arah

undefined

Laporan EKA SASTRA dari World Economic Forum di Davos, Swiss*

Ruang-ruang pertemuan di Davos pagi itu dipenuhi nada yang meninggi. Di sejumlah sesi pleno, para pemimpin dunia berbicara dengan bahasa yang lebih tegas, bahkan keras, tentang kepentingan nasional, energi, teknologi, dan arah tatanan global.

Di kursi hadirin, bisik-bisik tak henti terdengar, catatan cepat ditulis, dan tatapan saling bertukar, seolah semua sadar bahwa dunia sedang memasuki fase baru yang jauh dari tenang.

Hari keempat World Economic Forum (WEF) 2026 pun terasa sebagai puncak perbincangan global. Bukan lagi sekadar pembacaan risiko atau adu gagasan, melainkan penegasan arah. Setiap pernyataan dibaca bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai sinyal kebijakan.

Alhamdulillah, pagi itu Davos kembali disinari matahari. Udara tetap dingin, tetapi percakapan terasa hangat dan intens.

Di sela-sela agenda resmi, Indonesia menampilkan kehadiran yang hidup melalui Indonesia Pavilion, ruang dialog yang dipenuhi pebisnis Indonesia, mitra internasional, serta diaspora yang datang membawa jejaring dan harapan.

Indonesia sebagai “Land of Opportunity”

Pidato Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu sorotan hari keempat. Presiden menegaskan Indonesia sebagai Land of Opportunity, negara dengan pasar besar, sumber daya strategis, dan potensi kerja sama jangka panjang.

Namun pesan yang disampaikan tidak berhenti pada undangan investasi. Ia menekankan stabilitas dan perdamaian sebagai prasyarat kemakmuran, serta pentingnya kerja sama lintas negara di tengah ketidakpastian global.

Dari sudut pandang reflektif, pesan ini menempatkan Indonesia pada posisi yang khas dalam lanskap global yang semakin terpolarisasi.

Ketika banyak negara memilih mengeraskan posisi, mempertebal proteksionisme, atau menarik diri ke dalam blok kekuasaan masing masing, Indonesia justru menegaskan kembali tradisi politik luar negeri yang bebas dan aktif, yakni tidak larut dalam konflik blok, tetapi aktif membangun jembatan kepentingan.

Dalam konteks inilah tawaran kerja sama yang disampaikan Presiden Prabowo bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan strategi untuk menjaga ruang gerak nasional di tengah rivalitas global yang kian tajam.

Konsep yang sering dirujuk sebagai Prabowonomics kemudian memberi landasan ekonomi bagi sikap politik tersebut.

Pertumbuhan tidak dikejar semata sebagai angka, tetapi sebagai proses transformasi struktural yang bertumpu pada penguatan industri domestik, hilirisasi sumber daya, serta investasi besar pada kualitas sumber daya manusia.

Dengan pendekatan ini, Indonesia berupaya keluar dari jebakan ekonomi berbasis ekspor bahan mentah dan ketergantungan teknologi, sekaligus memastikan bahwa manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi pada segelintir sektor dan kelompok.

Ambisi untuk tumbuh dipadukan dengan kebutuhan menjaga legitimasi sosial, karena stabilitas jangka panjang tidak mungkin bertahan tanpa rasa keadilan yang dirasakan masyarakat luas.

Energi, AI, dan Tatanan Global yang Dipersoalkan

Di luar pidato Indonesia, hari keempat diwarnai oleh beberapa isu besar yang mendominasi diskusi lintas forum.

Pertama, energi dan net zero dalam tarik menarik geopolitik. Perdebatan transisi energi memanas. Kritik terhadap kebijakan net zero sebagai sumber ketergantungan strategis berhadapan dengan argumen energi terbarukan sebagai masa depan bersama.

Diskusi ini menegaskan bahwa energi bukan sekadar isu lingkungan, melainkan arena persaingan kekuasaan dan keamanan nasional.

Kedua, kecerdasan buatan dan risiko sosial. Peringatan para eksekutif global tentang disrupsi pekerjaan akibat kecerdasan buatan menggeser diskusi dari sekadar inovasi menuju tanggung jawab sosial.

Teknologi menjanjikan produktivitas, tetapi tanpa kebijakan pelatihan ulang dan perlindungan sosial, ia berpotensi memperlebar kesenjangan yang sudah ada.


>> Baca Selanjutnya