Laporan EKA SASTRA dari World Economic Forum di Davos, Swiss*
Memasuki hari ketiga World Economic Forum (WEF) 2026, Davos benar-benar memasuki fase yang paling menentukan.
Jika hari pertama dipenuhi pembacaan risiko global, dan hari kedua diwarnai perdebatan tentang arah sistem dunia, maka hari ketiga menjadi panggung kepemimpinan.
Pada tahap inilah, pernyataan para kepala negara dan elite global tidak lagi dibaca sebagai wacana, melainkan sebagai sinyal kebijakan yang nyata dan berpotensi membentuk arah dunia dalam waktu dekat.
Alhamdulillah, pagi itu cuaca terasa sedikit lebih bersahabat. Matahari muncul di balik pegunungan Alpen dan membuat udara Davos tidak sedingin hari-hari sebelumnya.
Namun, kehangatan alam itu berbanding terbalik dengan suhu politik global yang terasa semakin tinggi.
Di sekitar Davos Congress Centre, arus manusia kian padat. Kepala negara, CEO korporasi global, akademisi, investor, hingga diaspora dari berbagai negara bergerak dari satu sesi ke sesi lain, membawa kegelisahan yang sama tentang masa depan dunia, sekaligus harapan bahwa masih ada ruang untuk dialog dan kerja sama.
Di tengah dinamika tersebut, kehadiran Indonesia terasa semakin menonjol dan percaya diri. Indonesia Pavilion resmi dibuka oleh Rosan Roeslani, Menteri Investasi Indonesia sekaligus CEO Danantara.
Sejak pagi, paviliun ini menjadi ruang pertemuan yang hidup. Delegasi bisnis, mitra internasional, pejabat pemerintah, serta diaspora Indonesia dari berbagai penjuru dunia silih berganti hadir, menciptakan suasana yang lebih cair dibandingkan forum-forum formal di ruang utama WEF.
Percakapan di ruang ini terasa lebih membumi dan konkret. Hilirisasi industri, transisi energi, stabilitas makroekonomi, serta iklim investasi Indonesia menjadi topik utama yang dibahas.
Saya juga bertemu sejumlah diaspora Indonesia yang kini berkiprah di sektor keuangan, teknologi, dan industri global. Dengan bangga, mereka memperkenalkan Indonesia sebagai negara yang semakin relevan dalam percakapan ekonomi dunia, bukan lagi sekadar pasar, tetapi mitra strategis dengan agenda pembangunan yang semakin jelas.
Pidato Donald Trump: Kepemimpinan yang Mengguncang
Hari ketiga WEF juga ditandai oleh pidato Donald Trump yang langsung menyedot perhatian dunia. Dalam special address-nya, Trump menegaskan Amerika Serikat sebagai “mesin ekonomi dunia” dan menekankan bahwa kekuatan ekonomi AS merupakan penopang utama stabilitas global.
Pada saat yang sama, ia melontarkan kritik keras terhadap Eropa serta kembali menyinggung Greenland sebagai wilayah strategis bagi kepentingan ekonomi dan keamanan Amerika Serikat.
Meski Trump menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer, pernyataannya memperjelas satu hal penting. Dunia tengah memasuki fase persaingan terbuka antar-kekuatan besar, di mana ekonomi, keamanan, dan geopolitik semakin sulit dipisahkan.
Pernyataan ekonomi tidak lagi berdiri sendiri, dan isu perdagangan, energi, serta rantai pasok kini selalu bersinggungan langsung dengan kalkulasi strategis dan keamanan nasional.
Respons Global: Dunia Tanpa Kepastian Lama
Pidato Trump memicu respons cepat dari para pemimpin lain. Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa dunia sedang bergerak menuju tatanan tanpa aturan yang jelas.
Sementara Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan bahwa rules-based order lama tidak akan kembali, dan negara-negara menengah justru harus mengambil peran lebih besar untuk menjaga stabilitas global di tengah tarik-menarik kepentingan negara besar.
Kontras pandangan ini membuat Davos hari ketiga terasa tegang, namun sekaligus jujur. Dunia tidak lagi berbicara tentang idealisme globalisasi seperti dua dekade lalu, ketika pasar diyakini akan otomatis membawa stabilitas politik dan kesejahteraan sosial.
Kini, percakapan bergeser ke pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana negara melindungi kepentingan domestiknya tanpa sepenuhnya memutus kerja sama internasional, bagaimana menjaga rantai pasok di tengah konflik geopolitik, serta bagaimana menghadapi tekanan sosial akibat ketimpangan dan perlambatan ekonomi.
Di banyak forum, isu-isu seperti proteksionisme, de-risking dari negara tertentu, keamanan energi, hingga kedaulatan teknologi muncul berulang kali.
Para pemimpin bisnis tidak lagi hanya berbicara tentang ekspansi pasar, tetapi juga tentang mitigasi risiko politik, ketidakpastian regulasi, dan potensi konflik yang bisa mengganggu investasi.
Sementara para pemimpin negara berbicara tentang stabilitas, namun dengan nada yang jauh lebih berhati-hati, seolah menyadari bahwa konsensus global yang dulu menjadi fondasi kerja sama internasional kini semakin rapuh.
Dalam suasana seperti itu, Davos tidak lagi terasa sebagai ruang perayaan globalisasi, melainkan sebagai ruang negosiasi. Negara dan korporasi sama-sama sedang menyusun ulang strategi bertahan, menimbang ulang aliansi, dan mencari bentuk kerja sama baru yang lebih selektif.
Fragmentasi ekonomi dan politik bukan lagi sekadar konsep akademik, tetapi realitas yang membentuk hampir setiap keputusan besar yang dibicarakan di forum ini.
Indonesia di Tengah Panggung Dunia
Di tengah ketegangan tersebut, posisi Indonesia terasa relatif konstruktif. Tidak konfrontatif, tidak defensif, tetapi dialogis. Indonesia Pavilion menjadi simbol pendekatan ini, menawarkan kerja sama, stabilitas, dan peluang konkret di tengah dunia yang sedang mencari titik pijak baru.
Bagi Indonesia, pelajaran hari ketiga WEF terasa sangat jelas. Kepemimpinan global tidak selalu harus lantang, tetapi harus konsisten, kredibel, dan dapat dipercaya.
Dalam forum seperti Davos, kepercayaan tidak dibangun lewat satu pidato atau satu kesepakatan, melainkan melalui rekam jejak kebijakan yang stabil, komitmen pada aturan main, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan tanggung jawab global.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, kepercayaan justru menjadi mata uang yang paling mahal. Investor, mitra dagang, dan lembaga keuangan global mencari negara yang tidak mudah berubah arah, tidak reaktif terhadap gejolak politik jangka pendek, dan mampu menjaga kesinambungan agenda pembangunan.
Bersama pengusaha Arsjad Rasjid dan Tony Wenas


-300x235.webp)




_7-300x189.webp)
