
Dalam konteks inilah, stabilitas makroekonomi, kepastian regulasi, serta kesinambungan proyek hilirisasi dan transisi energi menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia, bukan sekadar urusan domestik.
Lebih dari itu, posisi Indonesia sebagai negara menengah dengan pengaruh regional yang kuat memberi ruang untuk memainkan peran penyeimbang di tengah rivalitas kekuatan besar.
Tidak harus memilih konfrontasi, tetapi menawarkan platform dialog, kerja sama Selatan–Selatan, serta kemitraan strategis yang berbasis kepentingan bersama. Kepemimpinan semacam ini mungkin tidak selalu menjadi sorotan utama media global, namun justru di situlah letak kekuatannya, membangun kepercayaan secara perlahan, konsisten, dan berjangka panjang.
Penutup: Tantangan di Davos
Hari ketiga WEF Davos 2026 menegaskan bahwa dunia sedang memasuki babak baru kepemimpinan global, yang lebih tegas, lebih kompetitif, dan sarat ketidakpastian.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran Indonesia yang aktif, percaya diri, dan berorientasi solusi menjadi aset strategis yang tidak kecil, baik bagi diplomasi ekonomi maupun posisi Indonesia di panggung global.
Namun, kehadiran di forum global seperti Davos bukanlah tujuan akhir. Tantangan sesungguhnya justru menunggu di dalam negeri, bagaimana komitmen yang dibawa ke panggung internasional diterjemahkan menjadi kebijakan yang konsisten, proyek yang berkelanjutan, serta manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Kepercayaan global hanya akan bertahan jika ia ditopang oleh kinerja domestik yang kuat.
Davos kembali mengingatkan saya bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan besar, tetapi juga oleh negara-negara yang mampu membangun kepercayaan, menjaga konsistensi, serta menawarkan kerja sama yang rasional di tengah perubahan besar yang belum sepenuhnya kita pahami arahnya.
Dan di tengah kabut pegunungan Alpen yang perlahan turun saat sore menjelang, satu hal terasa semakin jelas, pekerjaan membangun kepercayaan itu tidak selesai di ruang konferensi, tetapi harus terus dikerjakan, hari demi hari, jauh dari sorotan kamera dunia.
*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Allumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin








