
Pengalaman panjangnya dalam rekonstruksi Aceh dan Nias pascabencana, tugas kemanusiaan ASEAN pasca Topan Nargis di Myanmar, serta upaya penurunan emisi karbon di REDD plus memperkaya perspektifnya.
Baginya, pembangunan tidak berarti apa apa jika tidak menyentuh kehidupan manusia secara langsung, lebih dari sekadar deret angka di laporan resmi.
Kini, setelah menutup bab kepemimpinan besar di MRT Jakarta, William terus bergerak membuka ruang baru bagi gagasan dan kolaborasi.
BACA: Mencari Jejak Makassar dalam La Carrefour Javanais
Saat ini, ia menjabat sebagai COO Indonesian Business Council (IBC), sebuah asosiasi para pemimpin bisnis yang fokus memperkuat daya saing dan kesejahteraan bangsa melalui penelitian dan advokasi kebijakan, serta mendorong kolaborasi publik-swasta.
Tidak berhenti di situ, ia juga memimpin ekosistem inovasi transportasi nasional sebagai Presiden Intelligent Transport System (ITS) Indonesia, serta menggerakkan perubahan global melalui perannya sebagai Ketua Gerakan 5P Global di Indonesia.
Di tingkat strategis, ia turut mengawal agenda keberlanjutan dengan duduk sebagai dewan pembina World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Indonesia Climate and Growth Dialogue (ICGD).
Semua peran itu menunjukkan satu hal: ia terus menyalakan visi besar tentang Indonesia yang lebih maju, cerdas, dan berpihak pada masa depan.
Ilmu yang Tidak Disimpan, tetapi Dipulangkan
Ada satu kalimat yang berulang kali ia ucapkan di buku Membangun MRT Pendidikan adalah jembatan untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Ia telah menyeberangi jembatan itu dua kali, pertama ketika meninggalkan Indonesia untuk belajar, dan kedua ketika kembali dengan tekad untuk membangun negeri dengan ilmu yang ia bawa pulang.
Semua penghargaan hanyalah penanda perjalanan. Tujuan sejatinya adalah Indonesia yang bergerak maju, lebih adil, dan lebih manusiawi.
Kisah William Sabandar adalah bukti bahwa perjalanan besar sering dimulai dari ruang ruang sederhana.
Dari kelas kecil dengan kipas angin tua di Makassar, dari lorong lorong Fakultas Teknik Unhas yang penuh catatan belajar dan mimpi masa depan, dari perpustakaan yang tak selalu lengkap, dan dari langkah seorang mahasiswa yang percaya bahwa ilmunya kelak akan bermakna bagi banyak orang.
Dari tempat yang tampak biasa itulah, ia menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya namanya disebut di panggung internasional sebagai Alumni Australia Terbaik 2025.
William menjadi contoh bahwa seorang anak dari kampung halaman yang jauh, dari Toraja dan Makassar, dapat berdiri tegak membawa gagasan besar. Ia menunjukkan bahwa perubahan tidak lahir dari panggung yang megah, tetapi dari keberanian untuk berjalan, belajar, dan bekerja melampaui batas diri sendiri.
Kini, ketika namanya kian menggema, pesan dari perjalanan itu terasa begitu terang: apa pun latar belakangmu, ilmu yang kau tekuni dengan sungguh sungguh akan menemukan jalannya untuk kembali membangun bangsa.
Selamat Om Willy !
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.


-300x200.webp)





