Opini
Saintek

Menyelamatkan Harta Karun Ilmiah Ikan Kabumbu (Oryzias Eversi) yang hanya Ada di Toraja dari Gerbang Kepunahan

ky

Oleh: Khusnul Yaqin, Al Maghfira Maharani, Putri Rahastri Adelia, dan Tesalonika Tirsa Rura*

Ikan Oryzias eversi disebut oleh orang Toraja dengan nama kabumbu. Ikan ini hanya ada di Toraja dan lebih spesifik hanya ditemukan di kolam kuno dan alami Tilanga. Sebagaimana saudaranya yang menyebar di hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan, yaitu ikan Oryzias celebensis, O. eversi mempunyai potensi digunakan sebagai ikan model dalam penelitian biologi dan derivatnya seperti dalam bidang ekotoksikologi (Sari et al., 2018; Lalombo et al., 2021; Yaqin et al., 2021; Yaqin et al., 2021; Hardiana et al., 2024).

Sebagai ikan hias, mungkin ikan dari genus Oryzias kurang menarik dibandingkan ikan-ikan lain yang mempunyai warna eksotik, tetapi sebagai ikan model, ikan dari genus Oryzias sangat tepat (Yaqin et al., 2022). Pada ikan O. celebensis telah dikembangkan biomarker sederhana, tetapi efisien, seperti detak jantung untuk mendeteksi bahan pencemar secara in vivo (Lalombo et al., 2025; Yaqin et al., 2025; Reikardi et al., 2025) dan in situ (Yaqin et al., 2024).

Penemuan induk ikan Oryzias eversi di kolam Tilanga bagian atas pada tanggal 26 Agustus 2025, yang tengah membawa 45 embrio pada stadia 37 di perutnya, seolah menjadi kilatan cahaya di tengah kabut kelam yang menyelimuti upaya konservasi ikan endemik Sulawesi. Di Kolam Tilanga, ikan kabumbu sudah sangat sulit ditemukan karena populasinya terus menerus menurun. Beberapa kali tim Thematic Research Group (TRG) Aquatic Ecotoxicology mensurvei ke kolam Tilanga, tetapi tidak menemukan O. eversi. Ikan ini sebenarnya masih ada yang memeliharanya dengan baik, yaitu para ilmuwan di Nagoya, Jepang, dan Bonn, Jerman. Hanya saja, untuk membawa pulang ikan ini ke kolam Tilanga, Tana Toraja, bukan pekerjaan yang gampang karena birokrasinya yang rumit.

Kejadian penemuan ini tidak hanya unik, tetapi juga monumental, sebab ia membuka kembali lembaran optimisme tentang kemungkinan domestikasi ikan ini untuk kepentingan konservasi. Tilanga, yang terletak di jantung Tana Toraja, bukan sekadar lokasi indah penuh mitos lokal, tetapi kini juga menjadi panggung penting bagi biologi konservasi modern. Seekor induk yang tengah membawa embrio dalam jumlah besar membuktikan bahwa O. eversi masih bertahan, walau kini berada di ujung ancaman kepunahan akibat kompetisi dengan ikan introduksi seperti guppy, serta serangan penyakit dan parasit.

Seekor induk ikan Kabumbu (Oryziaseversi
), harta karun ilmiah dari Toraja, ditemukan di Kolam Tilanga. Penemuan ini bagai kilatan cahaya di tengah ancaman kepunahan. Induk ini membawa 45 embrio yang menempel di tubuhnya, sebuah strategi reproduksi unik yang disebut pelvic brooding. Momen langka ini menjadi harapan besar untuk upaya domestikasi dan konservasi, agar ikan endemik Sulawesi ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga terus lestari. Kredit: Khusnul Yaqin.
Seekor induk ikan Kabumbu (Oryziaseversi ). Harta karun ilmiah dari Toraja, ditemukan di Kolam Tilanga. Penemuan ini bagai kilatan cahaya di tengah ancaman kepunahan. Induk ini membawa 45 embrio yang menempel di tubuhnya, sebuah strategi reproduksi unik yang disebut pelvic brooding. Momen langka ini menjadi harapan besar untuk upaya domestikasi dan konservasi, agar ikan endemik Sulawesi ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga terus lestari. Kredit: Khusnul Yaqin.

Bagi masyarakat akademik dan pemerhati konservasi, penemuan ini seperti pesan mendesak bahwa O. eversi tidak boleh hanya dicatat dalam literatur sebagai spesies endemik yang pernah ada di Sulawesi. Ia harus dijaga, dikelola, dan bila perlu didomestikasi. Karena itu, penetasan embrio dalam skala laboratorium, pembesaran larva, hingga pemeliharaan dalam sistem pemeliharaan terkontrol merupakan tahap awal yang mendesak untuk dilakukan. Domestikasi tidak boleh dipandang sekadar sebagai strategi pemeliharaan ikan bernilai ekonomi, melainkan lebih sebagai jembatan antara konservasi dan keberlanjutan biodiversitas.

Penelitian-penelitian terbaru telah mengungkapkan keunikan biologis dari O. eversi. Schüller et al. (2022) menunjukkan bahwa spesies ini memiliki mekanisme unik berupa plug dalam sistem reproduksinya. Plug ini berfungsi sebagai jangkar bagi filamen telur sehingga embrio dapat menempel kuat pada tubuh induk hingga menetas. Filamena atau vili pada permukaan embrio pada O. eversi jumlahnya sedikit, tidak sama dengan embrio Oryzias yang lain. Dalam konteks hewan model, sedikitnya jumlah vili memudahkan pengamatan embrio di laboratorium. Fenomena brooding semacam ini jarang ditemukan pada ikan teleost lain, dan menjadikan O. eversi sebagai contoh luar biasa dari adaptasi reproduktif.

Pada saat yang sama, penelitian Herder et al. (2012) menegaskan bahwa O. eversi bukan hanya fenomena biologis, tetapi juga bukti bahwa Sulawesi merupakan hotspot radiasi adaptif ikan padi (ricefish) dengan pola reproduksi yang sangat beragam. Dari perspektif evolusi, strategi pelvic brooding yang dimiliki O. eversi adalah jalur evolusi baru yang memungkinkan spesies ini bertahan di ekosistem kolam berbatu di Toraja. Fakta ini semakin menguatkan alasan kenapa spesies ini wajib dipertahankan: ia adalah saksi hidup dari perjalanan panjang evolusi ikan endemik Sulawesi.

Namun, ancaman di depan mata tidak bisa diabaikan. Masuknya ikan guppy dan spesies introduksi lain ke habitat alami telah menciptakan tekanan kompetitif yang luar biasa. Guppy, dengan kemampuan reproduksi yang tinggi, dapat menggeser O. eversi baik dari sisi pakan maupun ruang hidup. Selain itu, infeksi parasit dan penyakit semakin mempercepat penurunan populasinya. Maka dari itu, konservasi in-situ (di habitat asli) tidak cukup. Harus ada strategi ex-situ berupa domestikasi yang terencana dan berbasis ilmu.

Domestikasi ikan liar, termasuk O. eversi, tidaklah sederhana. Tahapan-tahapannya melibatkan serangkaian proses ilmiah yang harus dilakukan dengan cermat. Pertama, tahap penangkapan induk dan penetasan telur dalam skala laboratorium. Telur yang dibawa induk perlu dipantau dalam kondisi terkontrol agar tingkat keberhasilan menetas tinggi. Kedua, tahap pemeliharaan larva, yang membutuhkan perhatian ekstra karena fase larva sangat rentan terhadap perubahan kualitas air dan penyakit. Ketiga, tahap pembesaran juwana hingga dewasa, di mana aspek pakan, kepadatan tebar, dan kualitas lingkungan menjadi kunci.

Keempat, tahap adaptasi dalam sistem pemeliharaan di laboratorium atau ruang indoor lainnya, yaitu bagaimana ikan yang terbiasa dengan habitat alaminya di kolam Tilanga dapat beradaptasi di kolam atau akuarium terkontrol. Kelima, tahap pembiakan berulang dalam kondisi domestik, yang menjadi penentu apakah ikan dapat beradaptasi penuh dan melanjutkan siklus hidupnya di luar habitat asli. Setiap tahap ini menuntut ketelitian ilmiah, kesabaran, dan keberlanjutan dukungan fasilitas laboratorium.

Dalam konteks O. eversi, domestikasi juga menyimpan dimensi filosofis dan kultural. Toraja, dengan tradisi leluhurnya yang menjunjung tinggi relasi dengan alam, menjadi tempat simbolis yang kaya makna. Penyelamatan ikan ini bukan hanya soal menjaga satu spesies, melainkan juga tentang menghormati warisan ekologi tanah Toraja. Bila ikan ini punah, kita tidak hanya kehilangan entitas biologis, tetapi juga sepotong sejarah evolusi dan budaya. Oryzias bukan sekadar ikan kecil, melainkan juga representasi keterhubungan antara manusia, alam, dan waktu.

Selain dimensi kultural, domestikasi O. eversi dapat menjadi pintu masuk bagi inovasi ilmiah dan ekonomi. Pengembangan teknik pembiakan, penelitian tentang fisiologi reproduksi, hingga eksplorasi potensi ikan ini sebagai model biologi baru, semua membuka peluang besar bagi Indonesia. Kita tahu bahwa medaka (Oryzias latipes) telah menjadi organisme model penting di dunia biologi dan biomedis, serta ekotoksikologi. Mengapa O. eversi, dengan keunikan pelvic brooding-nya, tidak bisa menjadi ikon baru dari Indonesia?

Sulawesi, dengan kekayaan endemiknya, bisa tampil sebagai pusat riset ikan padi dunia, sejajar dengan Jepang dan negara lain. Namun, semua itu hanya mungkin jika spesies ini diselamatkan dari ancaman kepunahan melalui domestikasi.

Untuk mencapai hal ini, diperlukan sinergi berbagai pihak. Akademisi, pemerintah daerah, komunitas lokal, hingga organisasi internasional harus bergerak bersama. Laboratorium di universitas perlu menjadi pusat pembiakan awal, sementara masyarakat lokal diberdayakan untuk menjaga habitat alami. Pemerintah harus memastikan regulasi yang melarang introduksi ikan asing ke ekosistem endemik serta mencegah terjadinya pencemaran perairan baik oleh limbah industri maupun domestik.

Di sisi lain, kolaborasi internasional sangat diperlukan untuk mendukung penelitian lanjutan, terutama terkait genetika, fisiologi reproduksi, dan pengelolaan kesehatan ikan. Tanpa dukungan lintas sektor, upaya domestikasi bisa berhenti di tengah jalan.

Kita juga tidak boleh melupakan dimensi etis. Domestikasi yang berorientasi konservasi harus berbeda dari budidaya komersial yang mementingkan produksi massal. Tujuan utama dari domestikasi O. eversi adalah memastikan kelangsungan hidup spesies, menjaga keragaman genetik, dan mengembalikannya ke alam pada kondisi yang tepat. Itu artinya, setiap langkah harus memperhatikan kesejahteraan ikan, menghindari inbreeding, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Konservasi bukanlah proyek instan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan.

Dengan latar belakang itu, penemuan induk O. eversi yang membawa 45 embrio di Tilanga bukan hanya sebuah catatan lapangan. Ia adalah alarm sekaligus harapan. Alarm, karena menandakan populasi alami kian langka dan terancam. Harapan, karena menunjukkan potensi besar untuk domestikasi dan pelestarian.

Seperti yang digambarkan Schüller et al. (2022) tentang kompleksitas morfologi reproduktif ikan ini, dan ditegaskan Herder et al. (2012) tentang posisinya dalam radiasi adaptif ikan padi Sulawesi, O. eversi adalah harta karun ilmiah yang tak ternilai. Kehilangan spesies ini berarti kehilangan satu bab penting dalam buku besar evolusi biologi ikan dunia.

Maka, sudah saatnya kita menanggapi penemuan ini dengan aksi nyata. Penetasan embrio di laboratorium, pembesaran larva, pembentukan koloni domestik, hingga penelitian lanjutan tentang kesehatan dan genetika harus segera dimulai. Jika tahap-tahap domestikasi dijalankan dengan baik, bukan tidak mungkin suatu hari nanti O. eversi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di luar habitat aslinya, bahkan menjadi spesies ikon dalam riset biologi global.

Toraja akan dikenang bukan hanya karena budayanya yang eksotik dan menarik, tetapi juga karena perannya dalam menyelamatkan seekor ikan mungil yang menyimpan kisah besar.

Penemuan ini harus menjadi momentum untuk memperluas cakrawala konservasi kita. Jangan sampai O. eversi bernasib sama dengan spesies endemik lain yang punah dalam keheningan kepedulian. Dengan domestikasi, kita tidak hanya menjaga keberadaan spesies, tetapi juga merawat harapan, menjaga kebanggaan, dan menulis ulang narasi bahwa manusia mampu menjadi penjaga, bukan penghancur, kehidupan.

*Penulis adalah Guru Besar dan Para Mahasiswa pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin

Daftar Pustaka:

  • Hardiana, A.D., Yaqin, K., & Rahim, S.W. 2024. Detection of triclosan pollutants adsorbed on polypropylene microplastics using simple biomarkers in the embryos of Oryzias javanicus (Bleeker, 1854). Journal of Sustainability Science and Management, 19(10): 115–132.
  • Herder, F., Hadiaty, R.K., & Nolte, A.W. 2012. Pelvic-fin brooding in a new species of riverine ricefish (Atherinomorpha: Beloniformes: Adrianichthyidae) from Tana Toraja, Central Sulawesi, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology, 60(2): 467–476.
  • Lalombo, Y.I., Yaqin, K., & Rahim, S.W. 2025. The use of simple biomarkers on Oryzias celebensis embryos for toxicity determination in Tallo River sediment semi-in situ. Journal of Sustainability Science and Management, 20(3): 459–477.
  • Lalombo, Y.I.S., Yaqin, K., & Omar, A. 2021. Nutrient absorption rate of Oryzias celebensis embryo (Laju Penyerapan Nutrisi Embrio Oryzias celebensis). Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, 5(2): 67–71.
  • Reikardi, D.A., Sodiqah, Y., Basri, S.W.G., Masdipa, A., Karim, M., Mutmainnah, A., Ramadan, F., & Yaqin, K. 2025. In vivo assessment of Ocimum sanctum and ciprofloxacin against Escherichia coli in Oryzias celebensis embryos using heart rate as a non-destructive biomarker. Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries, 29(4): 5053–5067.
  • Sari, D.K., Andriani, I., Yaqin, K., & Satya, A.M. 2018. The use of endemic Sulawesi medaka fish (Oryzias celebensis) as an animal model candidate. In: Proceedings of the 20th FAVA Congress & The 15th KIVNAS PDHI. Makassar. pp. 564–565.
  • Schüller, A., Vehof, J., Hilgers, L., Spanke, T., Wipfler, B., Wowor, D., Mokodongan, D.F., Wantania, L.L., Herder, F., & Parenti, L.R. 2022. How to stay attached—Formation of the ricefish plug and changes of internal reproductive structures in the pelvic brooding ricefish, Oryzias eversi Herder et al. (2012) (Beloniformes: Adrianichthyidae). Journal of Morphology, 283(11): 1451–1463.
  • Yaqin, K., Lalombo, Y.I., Omar, S. bin A., Rahim, S.W., & Sari, D.K. 2022. Survival rates of Oryzias celebensis embryo reared in different media in an attempt to provide embryos for ecotoxicological studies. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 12(5): 2008–2014.
  • Yaqin, K., Rahim, S.W., Parawansa, B.S., Kudsiah, H., Tambaru, R., Sari, D.K., Riani, E., Hardiana, A.D.M., & Lalombo, Y.I. 2024. Toxicity detection of pollutants in the Tallo River using simple biomarkers of Oryzias celebensis embryo. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 14(2): 664–674.
  • Yaqin, K., Rahim, S.W., & Idris, R.I. 2025. The potential use of Oryzias celebensis embryo heart rate as a simple and non-invasive biomarker to detect the adverse effects of UV-C light. Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries, 29(2).
  • Yaqin, K., Rahim, S.W., Sari, D.K., & Tresnati, J. 2021. Can Oryzias celebensis embryo be transported dry? In: IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. vol. 934. IOP Publishing. p. 012067.
  • Yaqin, K., Rahim, S.W., & Sari, D.K. 2021. Dry transportation of Oryzias wolasi embryo for ecotoxicological studies. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 860(1): 012102.