MAKASSAR, UNHAS.TV - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) menggelar kuliah umum internasional yang membahas naskah sastra lisan Bugis-Makassar, Sinrilikna Kapallak Talumbattua di Ruang Senat FIB Unhas, Kampus Tamalanrea, Selasa (23/6/2026).
Kuliah umum tersebut menghadirkan akademisi asal Filipina, Professor Ivie Carbon Esteban. Ia membawakan materi bertema “The Language of Prophecy in the Sinrilikna Kapallak Talumbattua (SKT): A Post-Colonial Reading”.
Forum ini mengupas bahasa, makna, sejarah, identitas, serta pesan-pesan profetik dalam naskah Sinrilik melalui pendekatan poskolonial.
Dalam pemaparannya, Professor Ivie menjelaskan bahwa pendekatan poskolonial memberi ruang untuk membaca ulang teks-teks tradisional sebagai sumber pengetahuan lokal.
Menurut dia, naskah lama tidak sekadar menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga merekam pengalaman sosial, dinamika kekuasaan, dan memori kolektif masyarakat.
Ia menilai Sinrilikna Kapallak Talumbattua memiliki posisi penting dalam memahami sejarah Makassar abad ke-17, terutama periode 1666-1669.
Rentang sejarah itu terkait dengan dinamika politik Kerajaan Gowa, Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, serta perubahan besar yang membentuk identitas masyarakat Sulawesi Selatan hingga kini.
“Ini cerita tentang perang Makassar abad ke-17, perang Makassar 1666-1669,” kata Ivie dalam kuliah umum tersebut.
Menurut Ivie, pemahaman terhadap naskah dan sejarah lokal menjadi penting bagi generasi muda. Ia mengatakan mahasiswa perlu mengenal cerita, tokoh, dan pengalaman sejarah masyarakatnya sendiri agar tidak kehilangan pijakan dalam membaca identitas masa kini.
“Kalau mahasiswa sekarang tidak punya pemahaman tentang sejarah mereka, itu akan mengubah cara kita melihat kerajaan-kerajaan sekarang,” ujarnya.
Selain menyoroti sejarah Makassar, Ivie juga membahas kedekatan budaya masyarakat di kawasan Melayu-Polinesia.
Ia melihat adanya hubungan historis antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina melalui kesamaan bahasa, kosakata, serta warisan budaya. Kesamaan itu, kata dia, menunjukkan bahwa kajian naskah lokal dapat dibaca dalam konteks regional yang lebih luas.
Ivie menyebut beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa Filipina memiliki kemiripan karena berasal dari rumpun bahasa yang sama.
Baginya, hal tersebut menarik karena memperlihatkan keterhubungan masyarakat Asia Tenggara, bukan hanya melalui sejarah politik, tetapi juga melalui bahasa dan kebudayaan.
“Kita satu bangsa dalam dunia Melayu-Polinesia. Bahasa kita serumpun, dan banyak kata yang sama dengan bahasa Malaysia, bahasa Indonesia, dan bahasa Filipina,” kata dia.
Kuliah umum ini diikuti mahasiswa, dosen, peneliti, serta masyarakat umum. Peserta tampak antusias mengikuti diskusi, terutama saat pembahasan bergerak dari teks Sinrilik menuju isu identitas, kolonialisme, dan pelestarian warisan budaya.
Melalui kegiatan ini, FIB Unhas membuka ruang akademik untuk mempertemukan kajian sastra lokal dengan perspektif global.
Naskah Sinrilik tidak hanya dibaca sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai dokumen pengetahuan yang membantu masyarakat memahami sejarah, identitas, dan hubungan antarkawasan di Asia Tenggara.
(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)
KULIAH UMUM - FIB Unhas menggelar kuliah umum internasional yang membahas naskah sastra lisan Bugis-Makassar, Sinrilikna Kapallak Talumbattua di Ruang Senat FIB Unhas, Kampus Tamalanrea, Selasa (23/6/2026). (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)








