Makassar

Aklamasi Ulama Sulsel, Guru Besar Bahasa Arab Unhas AG Prof. Najmuddin Kembali Pimpin MUI Sulsel hingga 2031

AG Prof. Najmuddin kembali memimpin MUI Sulsel hingga 2031 melalui aklamasi ulama se-Sulawesi Selatan. (Foto: Departemen Sastra Asia Barat, Unhas). AG Prof. Najmuddin kembali memimpin MUI Sulsel hingga 2031 melalui aklamasi ulama se-Sulawesi Selatan. (Foto: Departemen Sastra Asia Barat, Unhas).

MAKASSAR, UNHAS.TV- Palu keputusan akhirnya diketukkan di ruang Musyawarah Daerah IX Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan, Ahad, 23 Agustus 2026, ketika AG Prof. Dr. H. Najmuddin H. Abd. Safa, M.A. kembali dipercaya memimpin MUI Sulsel untuk masa khidmat 2026–2031.

Keputusan yang diumumkan pada pukul 12.00 WITA di Hotel Four Points by Sheraton Makassar itu menjadi puncak Musda IX yang berlangsung sejak 22 Agustus 2026 dengan melibatkan perwakilan MUI kabupaten dan kota, organisasi kemasyarakatan Islam, perguruan tinggi, pondok pesantren, serta berbagai unsur umat.

Namanya mengemuka melalui proses musyawarah mufakat setelah tim formatur berdiskusi secara intensif selama sekitar 50 menit untuk memastikan kesinambungan kepemimpinan dan kekuatan struktur organisasi MUI Sulsel selama lima tahun mendatang.

Ketua tim formatur, Ir. H. Andi Thaswin Abdullah, memimpin sidang penetapan, sedangkan hasil rapat dibacakan Ketua Steering Committee di hadapan seluruh peserta dan utusan Musda IX.

Tepuk tangan peserta pun menandai dimulainya periode kedua kepemimpinan ulama dan akademisi kelahiran Bone tersebut setelah kepercayaan forum kembali berlabuh kepadanya secara aklamasi.

Keterpilihan itu bukan sekadar pengulangan amanah, melainkan penegasan bahwa kesinambungan program, keteduhan dakwah, dan kemampuan mempertemukan beragam unsur keislaman tetap dipandang penting untuk menghadapi perubahan sosial di Sulawesi Selatan.

Musyawarah yang Menjaga Kesinambungan

Dalam kepengurusan inti periode 2026–2031, AG Prof. Najmuddin didampingi tiga wakil ketua umum, yakni Prof. Dr. H. M. Ghalib, M.A., Prof. Dr. H. Mustari Bosra, M.A., dan Prof. Dr. H. Muammar Bakry, M.Ag.

Posisi Sekretaris Umum dipercayakan kepada Prof. Dr. H. Andi Marjuni, M.Pd., sedangkan Ir. H. Andi Thaswin Abdullah mengemban amanah sebagai Bendahara Umum.

Susunan tersebut mempertemukan pengalaman ulama, kekuatan akademik, dan kemampuan pengelolaan organisasi yang diharapkan dapat menjadikan MUI Sulsel semakin tanggap terhadap persoalan keagamaan, pendidikan, sosial, dan kemanusiaan.

Komposisi lengkap pengurus pada tingkat komisi, lembaga, dan badan otonom akan dirumuskan melalui rapat lanjutan tim formatur sebelum pelantikan serta pelaksanaan program kerja periode baru.

Musda IX mengusung tema “Meneguhkan Peran Ulama dalam Merekatkan Ukhuwah dan Mengawal Transformasi Umat Menuju Sulawesi Selatan yang Berkeadaban,” sebuah gagasan yang menempatkan ulama sebagai penjaga nilai sekaligus penggerak perubahan sosial.

Tema itu sejalan dengan tantangan MUI Sulsel untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan hubungan kemanusiaan di tengah derasnya arus informasi, polarisasi pandangan keagamaan, perubahan teknologi, serta persoalan kesejahteraan masyarakat.

AG Prof. Najmuddin menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang kembali diberikan para ulama dan organisasi kemasyarakatan Islam seraya menegaskan komitmennya memperkuat sinergi keumatan, mengembangkan dakwah yang sejuk, dan mengawal fatwa strategis bagi kemaslahatan masyarakat Sulawesi Selatan.

Dari Ruang Akademik hingga Forum Dunia Islam

Di balik keteduhan penampilannya sebagai ulama, AG Prof. Najmuddin memiliki perjalanan panjang sebagai dosen dan Guru Besar bidang Bahasa Arab di Departemen Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, tempat ia mengabdikan keahliannya dalam linguistik, tata bahasa, sastra, dan pengajaran bahasa Arab.

Jejak pengabdiannya di Unhas juga mencakup amanah sebagai Sekretaris Jurusan Sastra Asia Barat pada 1990–1996, Ketua Jurusan Sastra Asia Barat pada 2000–2004, Wakil Dekan I Fakultas Sastra pada 2009–2013, serta Ketua Senat Fakultas Ilmu Budaya pada 2014–2021.

Keterlibatannya dalam pendidikan tinggi membuat kepemimpinannya di MUI Sulsel memiliki fondasi akademik yang kuat karena pandangan keagamaan tidak hanya diletakkan dalam kerangka normatif, tetapi juga dipertemukan dengan kajian bahasa, budaya, sejarah, dan realitas sosial.

Pengalaman akademiknya turut membawanya ke panggung internasional ketika ia pernah diundang ke Teheran, Iran, untuk menghadiri Konferensi Persatuan Dunia Islam yang mempertemukan ulama dan cendekiawan dari berbagai negara dalam pembicaraan mengenai persaudaraan, perdamaian, dan kerja sama antarumat Islam.

Kehadiran dalam forum tersebut memperkaya perspektifnya mengenai pentingnya dialog lintas mazhab dan bangsa, terutama ketika dunia Islam menghadapi perpecahan internal, konflik geopolitik, ekstremisme, dan krisis kemanusiaan.

Selama dosen aktif di Unhas, ia  menjadi inisiator dan inspirator dalam berbagai penelitian bahasa Arab bersama sivitas akademika Departemen Sastra Asia Barat FIB Unhas, termasuk kajian pengembangan aplikasi pengidentifikasi verba bahasa Arab. 

Amanah Besar di Tengah Perubahan Zaman

Dengan pengalaman yang mempertemukan pesantren, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, dan forum internasional, AG Prof. Najmuddin menghadapi masa jabatan keduanya dengan tuntutan agar MUI tidak hanya hadir ketika persoalan keagamaan menjadi perdebatan, tetapi juga aktif membangun literasi, perdamaian, moderasi, dan kesejahteraan umat.

Kepemimpinannya diharapkan semakin menguatkan jembatan antara ulama dan umara, memperluas kerja sama dengan kampus dan pesantren, serta menghadirkan panduan keagamaan yang jernih di tengah perkembangan kecerdasan buatan, disinformasi digital, perubahan sosial, dan kerentanan generasi muda.

Musda IX akhirnya bukan hanya memilih kembali seorang ketua, melainkan memperbarui harapan agar MUI Sulsel tumbuh sebagai rumah bersama yang meneduhkan, menjaga persatuan, merawat keberagaman, dan mengarahkan transformasi masyarakat menuju Sulawesi Selatan yang berkeadaban.(*)