Internasional
Sport

Apa yang Terjadi Jika Iran Menarik Diri dari Piala Dunia 2026? Gianni Infantino Dibikin Pusing

Gianni Infantino dan FIFA menghadapi krisis yang muncul menjelang Piala Dunia. Iran diindikasi bakal menarik diri dari putaran final Piala Dunia di Meksiko, AS, dan Kanada. (the sun)

ZURICH, UNHAS.TV - Kurang dari 100 hari jelang kick off Piala Dunia 2026 di Mexico City pada 11 Juni mendatang, FIFA menghadapi potensi krisis terbesar dalam sejarah turnamen tersebut.

Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, bayang-bayang mundurnya Iran dari putaran final menempatkan Presiden FIFA Gianni Infantino dalam tekanan berat.

Sejauh ini, belum pernah ada tim yang sudah lolos kualifikasi kemudian dilarang tampil atau mengundurkan diri dari putaran final Piala Dunia. Namun, jika situasi politik dan keamanan Iran tak mereda dalam tiga bulan ke depan, FIFA bisa menghadapi preseden baru.



Stadion sebagai Venue Piala Dunia 2026. (the sun)


Apabila Federasi Sepak Bola Iran secara resmi menyatakan tidak ambil bagian, persoalan itu praktis berada di luar kendali FIFA.

Skenario paling mungkin adalah membuka jalan bagi negara lain di zona Asia. Irak, yang dijadwalkan tampil pada playoff antarbenua bulan ini di Meksiko, berpeluang menggantikan posisi tersebut jika lolos.

Mereka akan menghadapi Bolivia atau Suriname di Monterrey. Jika Irak lolos, Uni Emirat Arab—yang kalah dari Irak dalam perebutan tiket playoff—berpotensi menjadi pihak yang diuntungkan.

Namun, persoalan tak berhenti di situ. Pemerintah Amerika Serikat juga bisa saja menolak memberikan izin masuk bagi tim yang mewakili Republik Islam Iran.

Dengan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah bersama Meksiko dan Kanada, dinamika politik berpotensi berbenturan langsung dengan agenda olahraga.

Isu keamanan menjadi lapisan krisis berikutnya. Aparat keamanan Amerika Serikat sejak awal memang telah bersiap menghadapi lonjakan risiko terorisme.

Situasi terkini di Timur Tengah memperbesar kekhawatiran aksi balasan atau gangguan keamanan selama turnamen berlangsung.

FIFA pernah menghadapi situasi sensitif pada Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan, ketika keamanan diperketat bagi tim Amerika Serikat dan Inggris pasca-serangan 11 September.

Namun, kondisi saat ini dinilai lebih kompleks, mengingat ketegangan geopolitik yang meluas dan kebijakan pembatasan perjalanan yang lebih ketat.

Sejumlah pendukung FC Porto sempat dicegah terbang ke Amerika Serikat pada ajang Piala Dunia Antarklub musim panas lalu.

Pembatasan perjalanan dari Iran, Mesir, Pantai Gading, dan Senegal juga dilaporkan diperketat. Jika kebijakan serupa diterapkan pada Piala Dunia, akses suporter asing bisa menjadi persoalan serius.

Kekerasan Kartel Narkotika

Di Meksiko, kekhawatiran keamanan meningkat setelah pecahnya kekerasan yang dipicu kartel narkotika, terutama di Guadalajara—salah satu kota tuan rumah.

Pemerintah Kanada bahkan mengimbau warganya meningkatkan kewaspadaan saat berada di Meksiko karena tingginya tingkat kriminalitas dan penculikan.

Guadalajara menjadi pusat aksi balas dendam antar-kelompok bersenjata yang sempat menutup sejumlah jalan utama. Situasi ini menambah daftar tantangan bagi penyelenggara yang harus menjamin keselamatan jutaan pengunjung.

Masalah lain muncul di Amerika Serikat, di mana sejumlah kota masih bergulat dengan protes terkait operasi imigrasi oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Ketegangan sosial, kepemilikan senjata yang tinggi, serta aparat yang belum terbiasa menangani gelombang besar suporter sepak bola, berpotensi menciptakan situasi rawan.

Dari sisi infrastruktur, persoalan stadion belum sepenuhnya beres. Di Foxborough, Massachusetts, otoritas kota menolak memperpanjang izin hiburan Stadion Gillette kecuali pemerintah federal, otoritas negara bagian, atau FIFA menanggung biaya tambahan sekitar £6 juta.

FIFA juga berjanji memperbaiki persoalan kualitas lapangan yang sempat menuai kritik pada Piala Dunia Antarklub.

Tujuh dari sebelas stadion di Amerika Serikat—Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Los Angeles, New York, dan Seattle—harus mengganti permukaan sintetis dengan rumput alami. Vancouver di Kanada menghadapi kewajiban serupa.

FIFA berencana mengambil alih pengelolaan stadion lebih awal dengan menempatkan petugas pengawas lapangan guna memastikan standar kualitas terpenuhi.

Faktor cuaca turut menjadi perhatian. Gelombang panas dan kelembapan tinggi yang mengganggu pertandingan musim panas lalu memicu protes dari pemain dan serikat.

Untuk mengurangi risiko, laga sore hari akan lebih banyak digelar di stadion beratap seperti di Dallas, Houston, dan Los Angeles. “Hydration breaks” di tengah babak juga akan diterapkan.

Namun, sejumlah pertandingan tetap dijadwalkan berlangsung di stadion terbuka pada sore dan awal malam. Hukum Amerika Serikat mengharuskan pertandingan dihentikan selama satu jam jika badai petir terdeteksi dalam radius 10 mil dari stadion.

Dengan berbagai variabel—politik, keamanan, infrastruktur, hingga cuaca—Piala Dunia 2026 menghadapi ujian besar bahkan sebelum bola pertama digulirkan. (*)