UNHAS.TV - Di masa kekinian, bahasa yang kerap digunakan di media sosial, tampak ringkas, lincah, kadang lucu, tapi sering juga menyenggol.
Nah, bahasa itulah yang dibahas Prof Dr Munira Hasjim SS MHum, guru besar sosiolinguistik Fakultas Ilmu Budaya Unhas, dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV, Desember 2025 lalu.
Ia memulai dengan kalimat yang terdengar sederhana tetapi menyimpan konsekuensi sosial. Bahasa bukan sekadar alat mengirim pesan, melainkan cermin sikap, nilai, dan hubungan.
Bahasa, kata Prof Munira, bekerja sebagai penanda. Tentang siapa kita, dengan siapa kita bicara, dan seberapa jauh kita menghormati orang lain.Di era layar sentuh sekarang ini, cermin itu memantulkan sesuatu yang berbeda.
Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet Indonesia pada 2024 mencapai 79,5%.
Angka itu menjelaskan mengapa ruang digital terasa seperti alun-alun: ramai, terbuka, dan siapa saja bisa berteriak.
Laporan DataReportal juga mencatat pada Januari 2025 terdapat 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia—sekitar 50,2% dari populasi.
Di tempat seperti itu, bahasa tak lagi sekadar milik “dua orang yang sedang bercakap”. Ia cepat menjadi tontonan publik, bahkan ketika penulisnya merasa sedang berbicara privat.
Prof Munira menyebut perubahan ini sebagai alasan ia mengembangkan gagasan “sosiolinguistik transformatif” cara membaca bahasa sebagai sesuatu yang bergerak mengikuti perubahan masyarakat, terutama ketika teknologi mengubah cara manusia berinteraksi.
"Dulu, percakapan berjejak pada suara, intonasi, gestur, dan konteks ruangan. Sekarang, sebagian besar percakapan kehilangan rambu-rambu itu. Yang tersisa: teks, emoji, stiker, dan sering kali prasangka pembaca," ujarnya.
Contoh kecilnya, kata magister humaniora lulusan UGM (2004) ini: pertanyaan “Apa kabar?” di ruang tatap muka biasa dijawab “baik”. Di ruang digital, jawaban bisa berubah menjadi emoji jempol.
Bagi sebagian orang, itu tanda persetujuan yang praktis. Bagi yang lain, jempol bisa terbaca dingin, sinis, atau “ya sudah, terserah”. Media sosial memudahkan, tapi pada saat yang sama menambah peluang salah tafsir.
Di sinilah peringatan Prof Munira menancap. Bersikap bijak dalam memilih dan menyortir bahasa. Bagi ilmu yang ia geluti, sosiolinguistik, konteks adalah segalanya.
Prof Munira mengutip kerangka klasik Dell Hymes yang dikenal dengan akronim SPEAKING: setting (tempat), participants (peserta), ends (tujuan), act sequence (urutan tuturan), key (nada), instrumentalities (saluran), norms (norma), dan genre (jenis tuturan).
Dalam dunia tatap muka, banyak unsur itu terbaca otomatis—kita tahu sedang bicara dengan dosen, teman sebaya, atau orang tua; kita paham sedang di ruang rapat atau di warkop.
Di media sosial, sebagian unsur itu kabur, bahkan hilang. Akibatnya, orang cenderung menulis seperti sedang bicara dengan teman dekat, padahal yang membaca bisa siapa saja—dari atasan sampai orang yang tak mengenal konteks candaan.
Lebih jauh Prof Munira memberi contoh yang terasa sangat Indonesia: istilah-istilah gaul yang bagi sebagian orang adalah tanda keakraban, bagi sebagian lain terdengar seperti penghinaan.
Kata-kata seperti itu bekerja sebagai penanda solidaritas—semacam sandi sosial. Di dalam kelompok, ia bisa menjadi perekat. Di luar kelompok, ia bisa menjadi pemantik konflik. Bahasa yang sama, di telinga berbeda, berubah arti.
Masalahnya, media sosial gemar memecah percakapan menjadi potongan-potongan. Komentar dicabut dari konteks. Tangkapan layar berpindah tangan.
Satu kalimat yang diniatkan sebagai gurauan dapat menjelma “bukti” untuk menyerang seseorang. Prof Munira mengingatkan, orang kerap lupa bahwa bahasa yang mereka tulis bukan hanya dibaca oleh lawan bicara, melainkan oleh pihak lain yang tak mereka undang.
Bahasa untuk Ruang Publik
>> Baca Selanjutnya
Guru Besar Sosiolinguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Prof Dr Munira Hasjim SS MHum. (dok unhas tv)

-300x169.webp)






