MAKASSAR, UNHAS.TV— Di tengah meningkatnya ancaman mikroplastik dan nanoplastik terhadap kesehatan manusia serta keberlanjutan ekosistem perairan dunia, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin terus memperkuat gerakan Bank Sampah Plastik yang telah berjalan sejak 2020 sebagai langkah nyata mencegah sampah plastik memasuki lingkungan.
Pada Rabu, 24 Juni 2026, mahasiswa Magang Riset Mandiri Ekotoksikologi Perairan bersama Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc., kembali melakukan kegiatan pengumpulan, pemilahan, dan pengelolaan sampah plastik di lingkungan FIKP Unhas sebagai bagian dari upaya edukasi dan pengendalian pencemaran berbasis kampus.
Program ini digagas oleh Guru Besar Ekotoksikologi Perairan FIKP Unhas, Prof. Khusnul Yaqin, yang selama bertahun-tahun meneliti dampak pencemaran terhadap organisme perairan dan keberlanjutan ekosistem pesisir.
Menurut Prof. Khusnul Yaqin, persoalan mikroplastik tidak cukup diselesaikan melalui penelitian dan publikasi ilmiah semata, tetapi harus dibarengi tindakan nyata yang mampu menghentikan sampah plastik sebelum memasuki lingkungan.
“Setiap botol atau gelas plastik yang berhasil ditahan di darat berarti satu langkah untuk mencegah terbentuknya mikroplastik di sungai, danau, maupun laut,” ujarnya.
Bank Sampah Plastik FIKP Unhas berfungsi sebagai pusat pengumpulan berbagai jenis sampah plastik yang dihasilkan warga kampus, terutama botol minuman dan gelas plastik sekali pakai.
Sampah yang terkumpul kemudian dipilah dan disalurkan ke jaringan pengelolaan sampah yang lebih besar untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
Mahasiswa membangun fasilitas penampungan sederhana berukuran sekitar 1,5 meter × 1,5 meter × 1,5 meter pada salah satu sudut fakultas sebagai pusat pengumpulan sampah plastik.
Dalam satu semester, fasilitas tersebut mampu menampung sekitar 240 botol plastik dan 40 gelas plastik yang berpotensi mencemari lingkungan.
Jumlah itu mungkin terlihat kecil dibandingkan timbulan sampah perkotaan, namun memiliki nilai strategis sebagai media pendidikan lingkungan berbasis praktik.
Prof. Khusnul Yaqin menilai kapasitas penampungan sampah plastik di lingkungan fakultas perlu terus ditambah agar semakin optimal menjaring sampah yang dihasilkan warga kampus.
Langkah Senyap Melawan Mikroplastik Dimulai dari Kampus
Ia menegaskan bahwa kampus harus berfungsi sebagai laboratorium sosial tempat berbagai model pengelolaan sampah diuji, dikembangkan, dan diterapkan secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan learning by doing, mahasiswa diajak memahami bahwa pencemaran plastik merupakan persoalan nyata yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Sebagai pakar ekotoksikologi perairan, Prof. Khusnul Yaqin menjelaskan bahwa plastik yang terbuang ke lingkungan akan mengalami fragmentasi akibat paparan sinar matahari, gelombang, dan berbagai proses fisik lainnya hingga berubah menjadi mikroplastik dan nanoplastik.
Partikel-partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk ke rantai makanan melalui mikroalga, zooplankton, kerang, dan ikan sebelum akhirnya berpotensi kembali dikonsumsi manusia.
Kehadiran mikroplastik di lingkungan perairan tidak hanya mengancam kesehatan organisme, tetapi juga mengganggu berbagai fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia.
Pencemaran mikroplastik dapat menurunkan produktivitas perairan, merusak kualitas habitat, serta mengganggu mekanisme penyimpanan karbon biru (blue carbon) yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim global.
Karena itu, menurut Prof. Khusnul Yaqin, keberadaan bank sampah harus dipandang sebagai bagian penting dari strategi pencegahan pencemaran lingkungan.
“Pengelolaan sampah plastik tidak mungkin dibebankan kepada individu atau segelintir orang sehingga dibutuhkan komitmen bersama dari fakultas, universitas, pemerintah, dan masyarakat,” katanya.
Dari Sampah Menjadi Gerakan Perubahan
Ia menambahkan bahwa berbagai negara telah berhasil menjadikan sampah plastik terpilah sebagai komoditas ekonomi yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai tambah.
Indonesia, menurutnya, memiliki peluang besar untuk mencapai hal serupa apabila sistem pengumpulan dan pengelolaan sampah dibangun secara serius dan terintegrasi.
Bank Sampah Plastik FIKP Unhas menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Setiap botol plastik yang masuk ke tempat penampungan menjadi bagian dari ikhtiar kolektif untuk menjaga lingkungan darat dan perairan dari ancaman pencemaran plastik yang terus meningkat.
Program ini dijalankan bersama mahasiswa Magang Riset Mandiri Ekotoksikologi Perairan Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan FIKP Unhas, yakni Khadijah, Marwa, Erlan, Anto, dan Hani Humairah.
Di bawah bimbingan Prof. Khusnul Yaqin, para mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan pengumpulan dan pengelolaan sampah plastik sebagai bentuk pembelajaran nyata sekaligus kontribusi terhadap perlindungan lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari pencemaran plastik secara teoritis, tetapi juga menjadi bagian dari solusi berkelanjutan untuk mencegah masuknya sampah plastik ke lingkungan darat dan perairan.(*)
BANK SAMPAH - Mahasiswa FIKP Unhas mengelola Bank Sampah Plastik untuk mencegah mikroplastik mencemari perairan. (Foto: FIKP Unhas)




-300x146.webp)


