BOSTON, UNHAS.TV - Laga Inggris melawan Ghana di fase grup Piala Dunia 2026 tidak hanya berakhir tanpa gol, tetapi juga meninggalkan ketegangan di tepi lapangan.
Gelandang Inggris, Jude Bellingham, terlibat adu mulut panas dengan staf pelatih Ghana menjelang jeda babak pertama, sebelum akhirnya ditenangkan oleh rekan setim dan ofisial Inggris.
Insiden itu bermula sesaat sebelum peluit turun minum dibunyikan. Bellingham melakukan pelanggaran terlambat terhadap bek Ghana, Jerome Opoku, di dekat area bangku cadangan.
Tekel tersebut memicu protes dari kubu Ghana karena dianggap cukup keras dan layak diganjar kartu kuning. Namun wasit tidak memberikan hukuman disiplin kepada pemain Real Madrid itu.
Ketegangan berlanjut ketika para pemain dan staf bergerak menuju lorong ruang ganti. Bellingham terlihat terlibat perdebatan dengan Asisten Pelatih Ghana, John Paintsil.
Keduanya tampak saling melontarkan kata-kata kasar. Situasi makin memanas setelah pelatih kepala Ghana, Carlos Queiroz, ikut mendekati Bellingham.
Dengan nada tinggi, Queiroz sempat berusaha menghampiri pemain berusia 22 tahun itu, tetapi ditahan oleh beberapa anggota stafnya sendiri.
Dari kubu Inggris, asisten pelatih Anthony Barry dan gelandang Morgan Rogers berusaha meredakan emosi Bellingham.
Pemain sayap Inggris, Noni Madueke, juga terlihat berada di sekitar kerumunan ketika perdebatan berlangsung. Ketegangan baru mereda setelah kedua kubu dipisahkan dan bergerak masuk ke ruang ganti.
Seusai pertandingan, Queiroz menjelaskan bahwa ia awalnya hanya ingin menegur Bellingham agar lebih tenang setelah pelanggaran terhadap pemain Ghana.
Menurut mantan pelatih Portugal itu, tekel Bellingham berbahaya karena mengenai kaki pemainnya yang tidak berada dalam kondisi sepenuhnya bugar.
“Saya hanya ingin mengatakan kepadanya agar tenang dengan tekel seperti itu,” kata Queiroz. Ia menilai pelanggaran tersebut seharusnya dapat berbuah kartu kuning.
Queiroz menyebut reaksi Bellingham kemudian memicu perdebatan. Meski begitu, ia berusaha menurunkan tensi insiden tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari emosi pertandingan.
Queiroz mengatakan sepak bola bukan arena yang steril dari benturan emosi. Ia menyebut para pemain dan pelatih berada dalam tekanan besar untuk menang.
Menurut dia, satu kata yang keluar dari batas kewajaran bisa menyalakan api kecil, tetapi para profesional seharusnya mampu segera mendinginkannya.
Bagi Bellingham, laga ini sebenarnya menjadi momen penting dalam karier internasionalnya. Ia mencatatkan penampilan ke-50 bersama tim nasional Inggris.
Pada usia 22 tahun 359 hari, Bellingham melewati catatan Wayne Rooney sebagai pemain termuda Inggris yang mencapai jumlah penampilan tersebut.
Kesulitan Bongkar Pertahanan Ghana
Namun malam bersejarah itu tidak berjalan mulus bagi Inggris. Tim asuhan Thomas Tuchel kesulitan membongkar pertahanan Ghana sejak awal pertandingan.
Ghana bermain rapat, disiplin, dan berhasil membuat Inggris tidak mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran pada babak pertama.
Tuchel mencoba mengubah arah pertandingan dengan memasukkan sejumlah pemain dari bangku cadangan.
Bukayo Saka, Nico O’Reilly, Eberechi Eze, dan Morgan Rogers diturunkan untuk menambah daya dobrak.
Bellingham termasuk pemain yang kemudian ditarik keluar. Perubahan itu tidak cukup untuk memecah kebuntuan.
Ghana justru beberapa kali memberi ancaman melalui serangan balik. Tim Afrika itu juga merasa dirugikan oleh keputusan wasit dan VAR.
Queiroz memprotes keras satu insiden di babak kedua yang menurutnya layak berbuah penalti dan kartu merah untuk pemain Inggris.
Ia menyindir penggunaan VAR dengan nada sarkastis, sebelum kemudian meminta maaf atas gaya bicaranya dalam konferensi pers. “Apakah VAR masih bekerja di Piala Dunia?” kata Queiroz.
Ia menyebut perangkat itu seperti sedang “pergi minum kopi” ketika Ghana membutuhkan keputusan penting. Beberapa saat kemudian, ia mengatakan komentar tersebut disampaikan sebagai lelucon agar tidak terkena hukuman.
Bellingham juga sempat berisiko terkena hukuman lain. Ia terlihat menutup mulut ketika berbicara dengan Jordan Ayew dalam situasi konfrontatif.
Dalam aturan baru Piala Dunia, pemain yang menutup mulut saat berhadapan dengan lawan dapat dikenai sanksi kartu merah. Sebelumnya, Miguel Almiron menjadi pemain pertama yang diusir karena aturan tersebut dalam laga Paraguay melawan Turki.
Hasil imbang 0-0 membuat Inggris gagal memaksimalkan dominasi penguasaan bola. Ghana, yang datang dengan rencana merusak ritme permainan lawan, berhasil membawa pulang satu poin berharga.
Bagi Inggris, pertandingan ini menjadi peringatan bahwa materi pemain bertabur bintang tidak selalu cukup ketika berhadapan dengan lawan yang bertahan rapat dan bermain dengan disiplin tinggi. (*)
PERTENGKARAN - Gelandang Timnas Inggris Jude Bellingham terlibat pertengkaran sengit dengan Pelatih Ghana Carlos Queiroz saat jeda pertandingan, Rabu (24/6/2026) pagi. (Screenshot The Sun)







-300x225.webp)
