Makassar

BPBD Makassar Perkuat SALAMA, Edukasi Anak Tangguh Bencana Sejak Dini

INOVASI SALAMA - Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Dr Muhammad Fadli (kanan) saat menjelaskan inovasi program Sahabat Anak Lewat Afirmasi tentang Aman Bencana (SALAMA) dalam dalam Forum Riset dan Inovasi Daerah Angkatan II, Senin, 6 Juli 2026. (Dok Pemkot Makassar)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kota Makassar memperkuat inovasi SALAMA, akronim dari Sahabat Anak Lewat Afirmasi tentang Aman Bencana.

Program ini disiapkan sebagai upaya membangun budaya sadar dan tangguh bencana sejak usia dini, sekaligus menjadi salah satu inovasi yang akan diajukan dalam penilaian Innovative Government Award atau IGA 2026 oleh Kementerian Dalam Negeri.

Penguatan SALAMA menjadi salah satu agenda dalam Forum Riset dan Inovasi Daerah Angkatan II yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah atau BRIDA Kota Makassar, Senin (6/7/2026).

Forum tersebut menjadi ruang pendampingan bagi perangkat daerah untuk menyiapkan dokumen, bukti dukung, serta memperkuat substansi inovasi yang akan dinilai.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Dr Muhammad Fadli, mengatakan inovasi kebencanaan tidak boleh berhenti pada orientasi penghargaan. Menurut dia, program semacam SALAMA harus membawa perubahan nyata bagi masyarakat.

“Selama ini paradigma penanggulangan bencana lebih banyak berorientasi pada penanganan setelah kejadian. Maka melalui inovasi SALAMA, kami ingin mengubah pendekatan itu dengan membangun kesiapsiagaan sejak usia dini,” kata Fadli.

Ia menjelaskan, penguatan SALAMA tidak hanya menyasar kelengkapan administrasi dan penyusunan evidence penilaian.

BPBD juga menitikberatkan peningkatan kualitas program dan perluasan implementasi di sekolah-sekolah. Hingga pertengahan 2026, SALAMA telah menjangkau 18.090 anak di Kota Makassar.

Saat ini program tersebut telah diterapkan di 30 sekolah yang tersebar pada tujuh kecamatan rawan bencana. BPBD menargetkan perluasan implementasi hingga 100 sekolah sepanjang 2026.

SALAMA dikembangkan oleh Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Makassar. Program ini dirancang sebagai pendidikan kebencanaan yang dekat dengan dunia anak-anak.

Materinya mencakup pengenalan jenis dan risiko bencana, simulasi penyelamatan diri, pengenalan alat keselamatan, permainan edukatif, serta penguatan mental dan psikologis melalui metode Hypno-Shield.

Menurut Fadli, pendekatan tersebut membuat anak tidak hanya memahami bencana secara teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan praktis saat menghadapi keadaan darurat.

“Ketika anak-anak memahami risiko bencana, mengetahui cara menyelamatkan diri, dan mampu bertindak tepat saat keadaan darurat, maka kita sedang membangun budaya aman bencana yang akan bertahan hingga mereka dewasa,” ujarnya.

Fadli mengatakan keberhasilan SALAMA sebelumnya telah mendapat pengakuan melalui Innovative Mayor Award 2025. Capaian itu menjadi dorongan bagi BPBD Makassar untuk menyempurnakan program agar manfaatnya lebih luas.

Tim Inovasi sekaligus Fasilitator Lapangan SALAMA, Nurmadia Syam, mengatakan pendampingan BRIDA menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas inovasi dan dokumentasi evidence.

Menurut dia, bukti dukung tidak cukup hanya berupa dokumen administratif, tetapi harus mampu menunjukkan dampak program di lapangan.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap bukti yang disajikan benar-benar merepresentasikan manfaat inovasi bagi masyarakat,” kata Nurmadia.

Ia menambahkan, indikator SALAMA disusun untuk menggambarkan perubahan perilaku, peningkatan pengetahuan, serta kesiapsiagaan anak setelah mengikuti program.

BPBD Makassar berharap SALAMA tidak hanya kompetitif dalam IGA 2026, tetapi juga dapat menjadi model pendidikan kebencanaan berbasis anak yang direplikasi pemerintah daerah lain. (*)