Econotalks
Ekonomi
Program

Bukan Hanya Kerusakan Alam, Bencana Juga Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Bahtiar Herman SE MM hadir dalam program Econotalks di Studio Unhas.TV, Jumat (11/9/2026). (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Bencana alam tidak hanya memberikan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan terhadap aktivitas ekonomi.

Gangguan terhadap produksi, distribusi, hingga pendapatan masyarakat menjadi bagian dari dampak lanjutan yang muncul ketika bencana terjadi.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam program Econotalks Unhas TV dengan tema “Dari Karhutla hingga Erupsi Gunung Api: Siapkah Ekonomi Indonesia Hadapi Efek Domino?” yang menghadirkan narasumber Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Bahtiar Herman SE MM.

Dalam diskusi tersebut, Bahtiar membahas bagaimana bencana dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi, sektor yang terdampak, kelompok masyarakat yang rentan, serta pentingnya membangun ketahanan ekonomi sebelum krisis terjadi.

Menurut Bahtiar, bencana mulai menjadi persoalan ekonomi ketika dampak kerusakan yang terjadi mulai menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.

“Bencana masalah ekonomi itu ketika kerusakan akan mulai menciptakan biaya, menghilangkan pendapatan, dan tentu menghambat transaksi,” jelas Bahtiar.

Ia menjelaskan bahwa bencana seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun erupsi gunung api dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi, terutama sektor yang memiliki ketergantungan terhadap mobilitas, distribusi, dan aktivitas masyarakat.

Salah satu sektor yang cepat terdampak adalah transportasi dan logistik karena gangguan pada sektor tersebut dapat menghambat pergerakan barang maupun bahan baku. Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap proses produksi hingga harga barang di masyarakat.

“Transportasi terganggu, bahan baku terlambat, produksi menurun, pasokan yang berkurang, biaya yang meningkat, hingga output akhirnya adalah harga yang berpotensi akan naik,” ujarnya.

Menurut Bahtiar, kondisi tersebut menunjukkan adanya efek domino ekonomi, di mana gangguan pada satu sektor dapat merambat ke sektor lainnya.

Ia memberikan contoh bahwa erupsi gunung api yang menyebabkan gangguan penerbangan tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga dapat memengaruhi sektor pariwisata, perhotelan, restoran, hingga pelaku usaha yang bergantung pada aktivitas wisata.

Selain berdampak terhadap dunia usaha, bencana juga memberikan tekanan besar bagi masyarakat yang memiliki ketergantungan terhadap pendapatan harian.

Bahtiar menyebut kelompok seperti petani, nelayan, pedagang kecil, UMKM mikro, pekerja pariwisata, dan pekerja informal menjadi kelompok yang lebih rentan ketika aktivitas ekonomi terhenti.

“Ketika pendapatan mereka langsung berhenti dan tidak punya banyak cadangan keuangan, itu yang paling rentan terkena dampak langsung oleh bencana alam,” jelasnya.

Menurutnya, kerentanan tersebut terjadi karena sebagian masyarakat tidak memiliki cukup ruang finansial untuk menghadapi kondisi ketika sumber pendapatan utama mereka terganggu.

Dalam perspektif dunia usaha, Bahtiar menyampaikan bahwa perusahaan perlu memiliki strategi untuk menghadapi berbagai risiko eksternal, termasuk bencana alam.

Menurutnya, perusahaan perlu membangun kesiapan melalui pengelolaan rantai pasok, penyediaan alternatif sumber bahan baku, serta perencanaan keberlanjutan bisnis agar mampu beradaptasi ketika terjadi gangguan.

Ia menilai ketahanan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan bagaimana merespons bencana setelah terjadi, tetapi juga bagaimana mempersiapkan langkah sebelum krisis berlangsung.

“Jangan menunggu bencana datang baru kita berkoordinasi. Jangan menunggu distribusi berhenti baru kita mencari substitusi. Karena ketahanan dibangun sebelum terjadi krisis,” ungkap Bahtiar.

Dari sisi pemerintah, Bahtiar menjelaskan bahwa penanganan dampak ekonomi akibat bencana tidak hanya bergantung pada ketersediaan anggaran, tetapi juga bagaimana pembiayaan tersebut dapat digunakan secara cepat, fleksibel, dan tepat sasaran.

Menurutnya, Indonesia memiliki sejumlah instrumen pembiayaan untuk menghadapi bencana, seperti APBN, APBD, dana siap pakai BNPB, hingga skema pembiayaan risiko bencana.

Namun, tantangannya adalah memastikan dukungan tersebut dapat menjangkau masyarakat terdampak secara efektif.

Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi nasional masih memiliki kemampuan dalam menghadapi berbagai guncangan akibat bencana. Namun, tingkat ketahanan setiap daerah memiliki perbedaan sehingga kesiapsiagaan tetap menjadi faktor penting.

“Ketahanan nasional tidak berarti semua daerah sama kuat. Guncangan bisa menjadi lebih sistemik apabila bencana terjadi bersama di wilayah tertentu dan berlangsung lama,” jelasnya.

Melalui Econotalks Unhas TV bertema “Dari Karhutla hingga Erupsi Gunung Api: Siapkah Ekonomi Indonesia Hadapi Efek Domino?”, Universitas Hasanuddin menghadirkan ruang diskusi mengenai hubungan antara risiko bencana dan keberlanjutan ekonomi.

Pembahasan tersebut menegaskan bahwa kesiapan menghadapi bencana tidak hanya berkaitan dengan penanganan kondisi darurat, tetapi juga kemampuan membangun ketahanan ekonomi melalui kesiapan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)