Lifestyle
Pendidikan

Bukan Sekadar Menunggang, Kenali Karakter Kuda untuk Hindari Risiko Kecelakaan

Stage Manager Hotel Kuda Unhas, Malloangeng SPt di lokasi Hotel Kuda Unhas, Makassar, Senin (12/10/2026). Hotel Kuda Unhas adalah fasilitas penangkaran, latihan, dan wisata edukasi berkuda yang terletak di lingkungan Kampus Unhas. (Unhas TV / Andrea Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Mengenali karakter dan kondisi fisik kuda menjadi hal penting dalam olahraga berkuda. Pemahaman terhadap kebiasaan, perubahan perilaku, hingga postur tubuh kuda diperlukan untuk menjaga keselamatan penunggang sekaligus mendukung performa kuda sesuai tujuan penggunaannya.

Stage Manager Hotel Kuda Unhas, Malloangeng SPt menjelaskan bahwa salah satu langkah utama dalam mengenali karakter kuda adalah melalui horsemanship, yakni pemahaman terhadap karakter, kebiasaan, dan perilaku kuda dalam aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, perubahan perilaku yang tidak biasa dapat menjadi indikasi adanya gangguan pada kondisi kuda.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah perilaku pawing, yaitu kebiasaan kuda mengais-ngais tanah secara berulang. Perilaku tersebut dapat mengindikasikan rasa tidak nyaman atau rasa sakit, termasuk kemungkinan mengalami kolik.

“Pertama, ketika kita mau mengenali karakter kuda, kita harus melakukan yang namanya horsemanship. Horsemanship itu bagaimana kita mengenali karakter-karakter dan kebiasaan-kebiasaan dari kuda kita. Ketika tingkah lakunya berbeda daripada biasanya, berarti itu ada masalah,” ungkap Malloangeng.

Ia menambahkan, pengamatan terhadap kebiasaan kuda di dalam kandang maupun saat ditunggangi perlu dilakukan secara rutin. Penunggang juga harus memahami respons kuda, terutama ketika menunjukkan perilaku seperti mengangkat kaki depan atau menendang.

Menurut Malloangeng, komunikasi dengan pelatih sebelum menunggangi kuda menjadi langkah penting untuk mengetahui karakter dan kebiasaan kuda yang akan digunakan.

Selain itu, penunggang perlu memahami teknik pengendalian tali kendali serta memperhatikan situasi di sekitar kuda untuk mengantisipasi perubahan perilaku yang tidak terduga.

Di sisi lain, penilaian performa kuda juga perlu mempertimbangkan jenis dan tujuan penggunaannya. Kuda yang dipersiapkan untuk pacuan memiliki kebutuhan berbeda dengan kuda yang dilatih untuk olahraga berkuda atau equestrian, termasuk nomor jumping.

Malloangeng menjelaskan, kondisi fisik menjadi salah satu aspek yang dapat digunakan untuk menilai potensi performa kuda.

Pengamatan dapat dilakukan terhadap postur tubuh, posisi kaki belakang, serta bentuk punggung untuk melihat kesesuaiannya dengan aktivitas yang akan dijalani.

Menurutnya, bentuk kaki dan punggung menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam menilai kondisi fisik kuda. Namun, penilaian tersebut tetap perlu disesuaikan dengan tujuan penggunaannya, baik untuk pacuan maupun olahraga berkuda.

Dengan memahami karakter, kebiasaan, serta kondisi fisik kuda, penunggang dapat menyesuaikan pendekatan dan teknik berkuda sesuai kebutuhan.

Pengamatan yang konsisten dan komunikasi dengan pelatih menjadi bagian penting untuk menjaga keselamatan sekaligus mendukung performa kuda dalam berbagai aktivitas berkuda.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)