UNHAS.TV - Telepon berdering, dan dari seberang terdengar kabar, "Saya menuju Pelita Raya sekarang, Pak. Kita ketemu di sana, dekat pertigaan Monginsidi, Pelita Raya."
Lima menit kemudian tiba di tujuan, sesuai foto yang dikirim melalui pesan pendek. Hariansyah tampak berdiri di samping taksi Bluebird yang ia bawa. Senyumnya mengembang ketika kami saling memandang.
"Kita ngopi saja dulu," ajak Hariansyah setelah menuntaskan tugasnya mengantar penumpang dari kawasan Pantai Losari ke Jalan AP Pettarani.
Sesungguhnya pertemuan ini bukan sekadar wawancara lanjutan, tetapi reuni kecil-kecilan sesama Antek: Anak Teknik. Kami sama-sama pernah kuliah di Teknik Mesin Universitas Hasanuddin dengan kekhususan minat pada metalurgi. Hariansyah angkatan 1994, saya 1990.
Pertemuan pertama kami terjadi di Pool Mallengkeri, akhir pekan lalu. Pool ini adalah pusat operasional Bluebird di Makassar yang menempati sebagian lahan di Terminal Mallengkeri, Kota Makassar. Sekitar 30 meter dari tempat itu, berdiri tegak gerbang perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.
"Belum cukup setahun kami di sini," ungkap Hariansyah saat itu. "Sebelumnya kami di Barawaja sejak 2015, lalu pindah ke Jalan Adipura, dan sekarang di lokasi ini. Pool ini menampung sekitar 170 armada."
Hariansyah masih seperti kala mahasiswa. Ia selalu tenang berbicara, banyak senyum, dan kadang kala tertawa saat membandingkan masa mahasiswa dengan keadaan sekarang. "Ya, kita pernah bermimpi jadi insinyur lalu berada di dunia yang sama sekali berbeda, tetapi semangat KOFTTE tidak pernah berubah: Keep on Fighting 'Till the End."
Perkenalan Hariansyah dengan Bluebird tidak pernah direncanakan. Setelah lulus dari Unhas tahun 1998, pria kelahiran Toli-Toli, Sulawesi Tengah, itu langsung merantau ke Jakarta dan diterima di perusahaan yang menjanjikannya bisa magang di Jepang. Janji yang kemudian tidak pernah terwujud, mungkin karena saat itu situasi negara sedang tidak stabil. Indonesia sedang dilanda krisis moneter.
Hariansyah kemudian berbalik arah ke perusahaan lain dan diterima sebagai tenaga pemasaran. Ia cukup lama di sana. Tahun 2008, petaka menghantam kehidupannya. Rumah mertua yang ia tempati di pinggiran kawasan Jakarta Pusat, terbakar. Hampir semua barang berharga miliknya hangus terbakar, termasuk ijazah SD hingga perguruan tinggi. Beruntung, mertuanya masih menyimpan salinan ijazah.
Hariansyah bersama mertua, istri, dan anak sulungnya yang masih berusia satu tahun itu terpaksa mengungsi ke rumah orang lain. Pekerjaan sebelumnya sudah ia tinggalkan karena harus fokus merawat anaknya yang sakit. Berat? Tentu saja.
Setelah keadaan mulai membaik, ia mulai melamar pekerjaan lagi. Bluebird Pool Garuda Kemayoran kebetulan sedang mencari driver. Ia memberanikan diri ikut tes karena ia pernah punya pengalaman sebagai driver di perusahaan sebelumnya.
"Saya ingat, saat itu tersisa tiga orang tetapi hanya saya yang diterima, lainnya ditolak dan disuruh mengulang. Mendapatkan pekerjaan berarti mendapatkan kembali marwah sebagai kepala keluarga," katanya.
Hariansyah berdiri di samping taksi Bluebird yang dibawanya. (Dok Unhas TV)
-300x169.webp)
-300x167.webp)






