MAKASSAR, UNHAS.TV - Lalat selama ini lekat dengan citra hewan pengganggu, kotor, dan pembawa penyakit. Namun di laboratorium biomedis, berhasil mengubah citra buruk itu.
Di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin (Unhas), lalat buah justru dipakai sebagai kunci untuk mempercepat riset penyakit dan membuka peluang baru dalam pengembangan obat, termasuk pengujian aspirin sebagai kandidat anti diabetes.
Pemanfaatan lalat buah atau Drosophila melanogaster itu dikembangkan oleh Unhas Fly Research Group. Tim ini menjadikan lalat buah sebagai organisme model untuk mempelajari berbagai penyakit manusia, mulai dari infeksi, diabetes, hingga kanker.
Pendekatan itu dipilih karena dinilai lebih efisien dibanding penggunaan hewan coba konvensional seperti tikus dan mencit.
Ketua Unhas Fly Research Group, Prof. Firzan Nainu, mengatakan lalat buah memberi keuntungan besar dalam penelitian karena memiliki siklus hidup pendek dan kemiripan biologis yang cukup dekat dengan manusia.
Menurut dia, sekitar 60-75 persen kesamaan genetik itu membuat berbagai proses biologis pada lalat buah dapat dipakai untuk membaca mekanisme yang juga terjadi pada tubuh manusia.
“Kami mencoba melihat apakah obat yang sudah lama digunakan seperti aspirin ini bisa memiliki manfaat lain, misalnya sebagai anti diabetes,” kata Prof Firzan di Studio Unhas TV, Makassar, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia mengatakan penggunaan lalat buah memungkinkan proses pengujian berjalan jauh lebih cepat. Peneliti tidak perlu menunggu bertahun-tahun seperti pada hewan mamalia untuk melihat dampak suatu zat atau obat.
“Dengan menggunakan lalat buah, proses pengujian bisa dilakukan lebih cepat karena siklus hidupnya singkat. Jadi kita tidak perlu menunggu bertahun-tahun seperti pada hewan mamalia, dalam hitungan bulan kita sudah bisa melihat hasilnya,” ujar dia.
Pendekatan itu dikenal sebagai drug repurposing, yaitu upaya mencari fungsi baru dari obat lama yang sudah terbukti aman digunakan pada manusia.
Dalam konteks ini, aspirin yang selama ini dikenal luas sebagai obat anti nyeri dan antiradang diteliti kembali untuk melihat kemungkinan manfaat lain dalam penanganan diabetes.
Bagi tim peneliti, keunggulan lalat buah tidak hanya terletak pada ukurannya yang kecil. Organisme ini juga memungkinkan pengamatan biologis dari fase muda hingga tua dalam waktu singkat.
Karena itu, model ini juga mulai dipakai untuk riset penuaan atau aging, termasuk untuk menguji zat tertentu yang diduga dapat memperlambat proses penurunan fungsi tubuh.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan kondisi riset di Indonesia yang kerap terkendala biaya dan waktu. Penggunaan lalat buah membuka jalan bagi penelitian yang lebih cepat, lebih hemat, dan lebih terukur.
Di saat yang sama, metode ini juga mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih etis seiring meningkatnya perhatian global terhadap kesejahteraan hewan dalam penelitian ilmiah.
Temuan dan pengembangan riset ini menunjukkan bahwa inovasi ilmiah tidak selalu lahir dari perangkat yang rumit atau organisme yang besar.
Di tangan peneliti, makhluk kecil yang selama ini dianggap remeh justru berubah menjadi alat penting untuk memahami penyakit dan mencari jalan baru bagi pengobatan.
(Rahmatia Ardi / Unhas TV)
Prof Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD - Ketua Unhas Fly Research Group. (Dok Unhas TV)








