Oleh: Prof Dr Eng Ir Adi Maulana ST MPhil *)
Di tengah perubahan besar dunia kerja global, satu kenyataan semakin nyata: peluang kerja tidak lagi dibatasi oleh batas negara.
Tenaga terampil kini bergerak lintas kawasan, mengikuti kebutuhan industri global yang terus berkembang. Pada saat yang sama, Indonesia masih menghadapi tantangan klasik: tidak semua lulusan terserap optimal di pasar kerja domestik.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia masih berada di kisaran hampir 5 persen.
Angka ini memang membaik dibanding masa pandemi, tetapi tetap berarti jutaan orang—terutama usia muda dan lulusan baru—sedang mencari pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka.
Banyak di antaranya bukan tidak mampu, melainkan belum terhubung dengan ekosistem kerja yang tepat.
Di sisi lain, banyak negara maju justru menghadapi masalah sebaliknya: kekurangan tenaga kerja terampil akibat penuaan penduduk dan perubahan struktur ekonomi.
Sektor kesehatan, perikanan modern, teknologi terapan, logistik, manufaktur presisi, hingga layanan perawatan lansia mengalami kekosongan yang tidak mudah diisi. Ini membuka ruang besar bagi tenaga kerja terdidik dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sinilah perguruan tinggi perlu mengambil peran baru—bukan hanya mencetak lulusan, tetapi menjembatani mereka dengan ekosistem kerja global secara aman, legal, dan bermartabat.
Komitmen Unhas: Migrasi Kerja sebagai Ekosistem Ilmiah dan Sosial
Universitas Hasanuddin (Unhas) memandang mobilitas kerja internasional bukan sekadar isu ekonomi, melainkan bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia.
Karena itulah Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa, berinisiatif untuk membentuk Unhas Migrant Centre, sebuah pusat layanan yang dirancang untuk membangun ekosistem pendukung pekerja migran terampil.
Hal ini sebagai wujud dari salah satu misi beliau untuk terus membawa Unhas agar memberikan dampak positif bagi maayarakat. Bukan hanya tingkat lokal tapi juga global.
Pendekatan ini berbeda dari pola lama yang seringkali bersifat parsial. Unhas Migrant Centre tidak hanya berbicara tentang keberangkatan tenaga kerja, tetapi membangun sistem yang mencakup promosi peluang, penyaluran berbasis kompetensi, serta pengawasan dan perlindungan.
Bagi kami, pekerja migran bukan sekadar “tenaga kerja luar negeri”. Mereka adalah duta profesional Indonesia yang membawa reputasi, etos kerja, dan kapasitas intelektual bangsa di panggung global.
Mengapa Unhas?
Sebagai perguruan tinggi berbasis maritim di kawasan timur Indonesia, Unhas memiliki kekuatan akademik pada bidang kelautan, perikanan, lingkungan pesisir, kesehatan, teknologi terapan, dan ekonomi sumber daya.
Banyak dari bidang ini sangat relevan dengan kebutuhan global—terutama dalam konteks blue economy, ketahanan pangan laut, manajemen lingkungan, dan layanan kesehatan masyarakat.
Dengan basis keilmuan tersebut, Unhas memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk memastikan lulusannya tidak hanya kompeten secara ilmiah, tetapi juga siap bersaing di pasar kerja internasional dengan standar yang diakui dunia.
Mendukung Agenda Presiden: Membuka Lapangan Kerja dengan Perspektif Global
Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden terus mendorong pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas SDM.
Unhas Migrant Centre adalah salah satu bentuk konkret kontribusi perguruan tinggi terhadap agenda tersebut.
Membuka akses kerja global bagi lulusan bukan berarti mengabaikan pembangunan dalam negeri.
Sebaliknya, ini justru: mengurangi tekanan pengangguran usia produktif, meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pendapatan yang lebih baik, mendorong transfer pengetahuan dan standar kerja global ketika pekerja kembali, serta memperluas jejaring internasional Indonesia di sektor strategis.
Yang terpenting, semua ini harus berjalan dalam kerangka legal, terlatih, dan terlindungi.
Skema Layanan Unhas Migrant Centre
Untuk memastikan proses yang terstruktur dan aman, Unhas Migrant Centre mengembangkan alur layanan sebagai berikut:
1. Edukasi & Literasi Global
Mahasiswa dan alumni diberikan informasi tentang tren kebutuhan tenaga kerja global, negara tujuan, standar kompetensi, bahasa, dan budaya kerja.
2. Pemetaan Kompetensi
Peserta mengikuti asesmen untuk memetakan keahlian, minat, dan kesiapan kerja internasional.
3. Pelatihan & Sertifikasi
Peserta difasilitasi mengikuti pelatihan tambahan dan sertifikasi sesuai standar internasional pada bidang masing-masing.
4. Job Matching dengan Mitra Resmi
UNHAS bekerja sama dengan mitra industri dan lembaga resmi untuk memastikan penempatan kerja yang sesuai dan legal.
5. Pendampingan Pra-Keberangkatan
Peserta mendapatkan pembekalan hukum, kontrak kerja, hak dan kewajiban, serta aspek sosial-budaya negara tujuan.
6. Monitoring & Kanal Pengaduan
Selama bekerja di luar negeri, pekerja tetap terhubung dengan pusat melalui sistem monitoring dan kanal komunikasi jika terjadi kendala.
7. Program Reintegrasi & Jejaring Alumni Global
Setelah masa kerja selesai, alumni didorong berbagi pengalaman, transfer pengetahuan, dan membangun jejaring profesional global.
Dengan skema ini, migrasi kerja tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari siklus pengembangan SDM berbasis kampus.
Dari Kampus ke Dunia
Unhas percaya bahwa masa depan lulusan tidak boleh bergantung pada keberuntungan semata. Masa depan harus dibangun lewat sistem, kolaborasi, dan visi jangka panjang.
Melalui Unhas Migrant Centre, kami ingin memastikan bahwa perjalanan lulusan dari kampus menuju dunia kerja global berlangsung dengan kompetensi, perlindungan, dan martabat.
Karena pada akhirnya, ketika lulusan Indonesia berdiri percaya diri di panggung dunia, yang terangkat bukan hanya nama pribadi—tetapi juga nama bangsa.
*) Adi Maulana, Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Inovasi, Kewirausahaan dan Bisnis Universitas Hasanuddin dan Penanggungjawab Migrant Centre Unhas
Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan Unhas Prof Dr Eng Ir Adi Maulana ST MPhil. (dok unhas tv)








