Lingkungan
Makassar

Nyamuk DBD Aktif di Siang Hari, Pakar Ungkap Fakta Aedes Aegypti yang Masih Banyak Disalahpahami

Guru Besar Epidemiologi FKM Unhas Prof Dr drg A Arsunan Arsin MKes CWM saat hadir dalam program Unhas Speak Up di Unhas.Tv, awal Januari 2026. (dok unhas tv)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan.

Namun, di tengah tingginya kasus DBD, masih banyak masyarakat yang keliru memahami perilaku nyamuk penularnya.

Salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah anggapan bahwa nyamuk penyebab DBD aktif pada malam hari, padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Guru Besar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof Dr drg Andi Arsunan Arsin MKes CWM menjelaskan bahwa DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Dari kedua jenis nyamut tersebut, Aedes aegypti menjadi vektor utama di wilayah perkotaan seperti Makassar.

“Jenis nyamuk Aedes itu sebenarnya banyak, bisa puluhan bahkan ratusan. Tetapi yang terbukti menjadi vektor DBD itu hanya Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

"Aedes aegypti ini dominan di perkotaan, sementara albopictus lebih banyak di daerah pedesaan atau pinggiran,” ujar Prof. Arsunan.

Ia menegaskan bahwa nyamuk Aedes memiliki pola aktivitas yang sangat berbeda dengan nyamuk penyebab penyakit lain seperti malaria. Jika nyamuk malaria aktif pada malam hari, maka nyamuk Aedes justru agresif pada siang hari saat manusia beraktivitas.

“Nyamuk DBD ini aktif di siang hari. Berdasarkan penelitian dan pengamatan, puncak aktivitasnya itu pada pagi hari sekitar pukul delapan sampai sepuluh, kemudian sore hari sekitar pukul setengah empat sampai jam lima. Malam hari justru nyamuk ini beristirahat,” jelasnya.

Menurut Prof. Arsunan, pola aktivitas tersebut membuat penularan DBD sangat cepat, terutama pada anak-anak sekolah dan masyarakat dengan mobilitas tinggi.

Berbeda dengan anggapan umum, nyamuk Aedes tidak menggigit hanya satu orang, melainkan bisa berpindah-pindah dalam satu waktu.

“Sebenarnya bukan menggigit, tapi menusuk dengan probosisnya. Ketika dia hinggap dan kita bergerak, darah yang diambil belum cukup, sehingga dia pindah ke orang lain. Karena itu satu nyamuk bisa menularkan virus ke banyak orang dalam waktu singkat,” katanya.

Selain pola aktivitas, ciri fisik nyamuk Aedes juga tergolong mudah dikenali. Prof. Arsunan menyebut nyamuk ini memiliki tanda khas berupa belang hitam putih pada tubuh dan kakinya, serta posisi tubuh yang merapat saat hinggap di kulit manusia.

“Kalau melihat nyamuk dengan lurik hitam putih, itu hampir bisa dipastikan Aedes. Cara hinggapnya juga merapat, tidak menungging seperti nyamuk lain. Ini ciri yang sebenarnya mudah dikenali oleh masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Arsunan mengungkapkan fakta lain yang kerap luput dari perhatian masyarakat, yakni preferensi nyamuk Aedes terhadap air bersih.

Berbeda dengan nyamuk lain yang berkembang di air kotor, nyamuk Aedes aigepty justru sangat menyukai genangan air jernih.

“Nyamuk ini boleh dibilang lebih ‘pemilih’. Dia tidak suka air kotor, justru senang air yang bersih dan jernih. Makanya tempat-tempat seperti bak mandi, talang air, dispenser, pot bunga, wadah air minum hewan, bahkan tetesan air dari AC itu sangat disukai,” jelasnya.

Ia menambahkan, satu ekor nyamuk Aedes betina mampu bertelur hingga puluhan bahkan ratusan butir dalam satu siklus.

Dengan jarak terbang mencapai 50 hingga 100 meter, nyamuk ini dapat dengan mudah menyebar dan menularkan virus ke banyak rumah di sekitarnya.

“Dalam radius 50 sampai 100 meter, nyamuk ini bisa ke mana-mana. Jadi kalau satu rumah lengah, dampaknya bisa ke satu lingkungan. Nyamuk ini tidak memilih orang atau rumah, siapa saja bisa jadi sasaran,” tegas Prof. Arsunan.

Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa upaya pencegahan DBD tidak bisa hanya bertumpu pada fogging, tetapi harus dimulai dari pemahaman yang benar tentang perilaku nyamuk dan pengendalian sumber perkembangbiakannya di lingkungan sekitar.

“Kalau masyarakat sudah paham bagaimana nyamuk ini hidup dan berkembang, sebenarnya kita bisa memutus rantai penularannya. Kuncinya ada pada pengetahuan dan kesadaran untuk menjaga lingkungan secara konsisten,” pungkasnya.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)