News

Dari Makassar ke Helsingborg: Ketika Suara Indonesia Menggema di Panggung Dunia

Tim Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin (PSM Unhas) tampil di panggung World Choir Games 2026 di Helsingborg, Swedia. (Dok Unhas TV)

Catatan Eka Sastra dari Helsingbord, Swedia*

Ada kebanggaan yang sulit digambarkan ketika saya duduk di antara penonton World Choir Games 2026 di Helsingborg, Swedia, menyaksikan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Hasanuddin (PSM Unhas) tampil di panggung dunia.

Saya datang ke Helsingborg sebagai Ketua Rombongan Universitas Hasanuddin. Karena itu, bagi saya perjalanan ini sejak awal bukan sekadar perjalanan menghadiri sebuah kompetisi.

Ada nama universitas yang kami bawa. Ada nama Makassar dan Sulawesi Selatan.Yang lebih besar lagi, ada nama Indonesia yang ikut kami titipkan melalui suara mahasiswa-mahasiswa kita.

Ketika PSM Unhas mulai bernyanyi, semua perjalanan panjang, latihan, persiapan dan pengorbanan seperti menemukan jawabannya. Penampilan mereka luar biasa.

Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah ketika penampilan itu berakhir dan penonton berdiri memberikan standing applause.

Di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari Makassar, di hadapan masyarakat dan komunitas paduan suara dari berbagai belahan dunia, anak-anak muda Universitas Hasanuddin mampu membuat orang berdiri memberikan penghormatan.

Saya melihatnya bukan semata sebagai penghargaan terhadap sebuah penampilan musik. Saya melihatnya sebagai penghormatan terhadap kualitas anak-anak muda Indonesia.

Mengapa Helsingborg?

Selama berada di sini, saya beberapa kali bertanya: mengapa sebuah perhelatan sebesar World Choir Games memilih Helsingborg?

Helsingborg bukan Stockholm, London atau Paris. Ia bukan sebuah metropolitan dunia. Tetapi setelah beberapa hari berada di kota ini, saya mulai memahami jawabannya.

Helsingborg adalah salah satu kota bersejarah di Swedia. Letaknya sangat strategis di tepi Selat Oresund, berhadapan langsung dengan Helsingør di Denmark. Pada bagian ini, jarak antara Swedia dan Denmark sangat dekat sehingga daratan di seberang dapat terlihat dengan mata telanjang.

Nama Helsingborg sendiri berkaitan dengan posisi geografis tersebut. Hals merujuk pada bagian selat yang menyempit, sementara borg berarti benteng. Nama kota ini telah tercatat sejak abad ke-11.

Posisi strategis itu membuat Helsingborg selama berabad-abad menjadi tempat penting dalam sejarah Skandinavia. Kota ini pernah berada di bawah kekuasaan Denmark sebelum wilayah Skåne berpindah kepada Swedia melalui Perjanjian Roskilde tahun 1658. 

Sampai hari ini, Kärnan, menara pertahanan abad pertengahan yang berdiri di pusat kota, menjadi pengingat masa ketika Helsingborg adalah sebuah benteng penting.

Mungkin di situlah saya menemukan salah satu makna paling menarik dari World Choir Games 2026.

Sebuah kota yang dahulu menjaga perbatasannya dengan benteng, hari ini membuka pintunya kepada dunia melalui kebudayaan.

Helsingborg juga memiliki tradisi budaya yang kuat, fasilitas pertunjukan yang baik, ruang publik yang hidup, serta konektivitas yang sangat baik dengan kawasan Skandinavia dan Eropa. Sementara Swedia sendiri dikenal memiliki tradisi paduan suara yang panjang dan kuat.

World Choir Games 2026 menjadi lebih istimewa karena inilah pertama kalinya Swedia menjadi tuan rumah World Choir Games.

Olimpiade Paduan Suara Dunia

World Choir Games bukan kompetisi biasa. Perhelatan ini sering disebut sebagai “Olympics of Choral Music”. World Choir Games pertama kali diselenggarakan di Linz, Austria, pada tahun 2000. 



Gagasannya sederhana tetapi kuat: jika olahraga dapat mempertemukan bangsa-bangsa melalui Olimpiade, musik juga dapat melakukan hal yang sama.

Semangat itu kemudian dirangkum dalam sebuah kalimat: “Singing Together Brings Nations Together.” Bernyanyi bersama mendekatkan bangsa-bangsa.

Sejak pertama kali diselenggarakan, World Choir Games berkembang menjadi salah satu pertemuan komunitas paduan suara terbesar di dunia.

World Choir Games ke-14 di Helsingborg berlangsung pada 6–16 Agustus 2026. Sekitar 8.500 penyanyi dari lebih dari 40 negara, yang tergabung dalam lebih dari 160 paduan suara, datang ke kota ini.

Kompetisinya terbagi dalam 19 kategori, dengan dua tingkatan utama: Open Competition dan Champions Competition. Kategori yang dipertandingkan sangat beragam, mulai dari paduan suara anak, remaja, mixed choir dan chamber choir, hingga sacred music, gospel, pop, contemporary music, folklore dan indigenous music.

Tetapi kemegahan World Choir Games tidak hanya terlihat dari angka.

Selama hampir dua minggu, Helsingborg seperti berubah menjadi kota musik. Paduan suara dapat ditemui di gedung pertunjukan, gereja, taman, pusat kota dan berbagai ruang publik. Ada kompetisi, konser persahabatan, workshop, parade bangsa, hingga berbagai perjumpaan informal antarpeserta.

Bendera berbagai negara berkibar. Bahasa yang berbeda terdengar di jalan-jalan. Kostum tradisional berbagai bangsa bertemu. Tetapi ketika musik dimulai, bahasa seakan tidak lagi menjadi penghalang.

Ketika PSM Unhas Membuat Penonton Berdiri

Bagi saya pribadi, tentu ada satu bagian World Choir Games yang jauh lebih emosional. Penampilan PSM Unhas.

Sebagai bagian dari peserta, saya mengetahui bahwa untuk sampai ke panggung Helsingborg bukanlah perjalanan sederhana.

Di balik beberapa menit penampilan di atas panggung terdapat proses panjang: latihan, disiplin, pembentukan tim, penggalangan dukungan, perjalanan ribuan kilometer, dan keberanian mahasiswa-mahasiswa kita untuk mengukur kemampuan mereka dengan kelompok paduan suara dari berbagai negara.

Karena itu, ketika mereka akhirnya berdiri di panggung World Choir Games, yang saya lihat bukan hanya sekelompok mahasiswa yang sedang bernyanyi.

Saya melihat Universitas Hasanuddin berdiri di panggung dunia. Kemudian mereka bernyanyi. Suara-suara itu berpadu dengan energi, ekspresi dan karakter yang kuat. Dan ketika lagu terakhir berakhir, sesuatu yang membanggakan terjadi.

Penonton berdiri. Standing applause diberikan kepada PSM Unhas. Saat itulah saya merasa bahwa perjalanan dari Makassar ke Helsingborg telah mendapatkan maknanya.

Kita mungkin datang dari sebuah universitas yang secara geografis jauh dari pusat-pusat kebudayaan Eropa. Tetapi kualitas tidak mengenal jarak geografis. Ketika anak-anak muda kita diberi kesempatan, dipersiapkan dengan baik dan berani memasuki panggung internasional, mereka mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.

Dari Makassar, Maluku dan Papua untuk Indonesia

Kami ternyata tidak sendiri. Di Helsingborg saya juga bertemu dan menyaksikan kehadiran saudara-saudara kita dari Universitas Pattimura, Maluku, dan Universitas Cenderawasih, Papua. Kehadiran mereka memberikan makna tersendiri bagi perjalanan ini.

Bayangkan peta Indonesia. Dari Makassar, Maluku hingga Papua, mahasiswa-mahasiswa dari kawasan timur Indonesia menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju sebuah kota kecil di utara Eropa.

Mereka membawa lagu. Mereka membawa kebudayaan. Dan mereka membawa Merah Putih. Masing-masing hadir dengan karakter dan kekuatan mereka sendiri, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: mereka ikut mengharumkan nama Indonesia.

Bagi saya, ini juga sebuah pesan penting. Selama ini pembicaraan tentang internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia sering kali terlalu berpusat pada Jakarta atau Jawa. Tetapi Helsingborg menunjukkan bahwa talenta berkelas dunia juga tumbuh dari kampus-kampus di Indonesia Timur.

Dari Makassar. Dari Ambon. Dari Papua. Ketika mereka diberikan panggung, mereka mampu membuat dunia mendengarkan.

Harmoni sebagai Pelajaran

Ada sesuatu yang menarik dari sebuah paduan suara. Harmoni tidak tercipta karena semua orang menyanyikan nada yang sama. Ada soprano. Ada alto. Ada tenor. Ada bass. Masing-masing berbeda.

Justru karena perbedaan itulah sebuah komposisi menjadi indah. Tetapi ada satu syarat: setiap orang tidak hanya harus mampu mengeluarkan suara. Ia juga harus mampu mendengarkan suara orang lain.

Saya kira dunia hari ini membutuhkan pelajaran sederhana itu. Kita hidup ketika berbagai konflik dan ketegangan kembali muncul di banyak tempat. Negara berlomba memperkuat pengaruh. Politik identitas menguat. Perbedaan sering dipandang sebagai ancaman.

World Choir Games menawarkan pesan yang sebaliknya. Bahwa perbedaan tidak harus dihilangkan untuk menghasilkan kebersamaan. Perbedaan hanya perlu menemukan harmoni.

Mungkin karena itu World Choir Games jauh lebih besar daripada sebuah kompetisi. Ia adalah diplomasi melalui musik. Orang datang membawa identitas negaranya masing-masing, tetapi mereka pulang dengan pengalaman bertemu manusia dari bangsa lain.

Dari Benteng Menuju Jembatan

Setiap kali berjalan melewati Kärnan, benteng tua yang menjadi salah satu simbol Helsingborg, saya memikirkan ironi sejarah kota ini.

Berabad-abad lalu, benteng dibangun untuk mempertahankan wilayah dari manusia yang datang dari seberang. Hari ini manusia dari berbagai penjuru dunia justru diundang datang.

Dahulu orang datang membawa senjata. Hari ini mereka datang membawa lagu. Dahulu Helsingborg adalah benteng. Hari ini ia menjadi jembatan. Bagi saya, di situlah makna terbesar World Choir Games 2026.

Saya datang ke Helsingborg sebagai Ketua Rombongan Universitas Hasanuddin dengan harapan melihat mahasiswa-mahasiswa kami memberikan penampilan terbaik.

Saya mendapatkan lebih dari itu. Saya menyaksikan PSM Unhas membuat penonton dunia berdiri memberikan penghormatan. Saya menyaksikan saudara-saudara kita dari Universitas Pattimura dan Universitas Cenderawasih ikut membawa nama Indonesia ke panggung internasional.

Saya melihat bagaimana sebuah kota kecil mampu menggunakan kebudayaan untuk mempertemukan ribuan manusia dari lebih dari 40 negara.

Pada akhirnya, mungkin itulah pelajaran yang akan saya bawa pulang dari Helsingborg. Bahwa menjadi bagian dari dunia tidak selalu berarti menjadi negara yang paling besar, paling kaya atau paling kuat.

Kadang-kadang dunia akan berhenti dan mendengarkan ketika kita memiliki sesuatu yang indah untuk disampaikan. Di Helsingborg, anak-anak muda Indonesia telah melakukannya.

Mereka datang dari Makassar, Maluku dan Papua. Mereka berdiri di panggung dunia. Mereka bernyanyi. Dunia berdiri memberikan penghormatan.


*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi Indonesia (IKAIE(. Kini dipercaya sebagai Komisaris Utama PT Hadin Metavisi Akademika, holding bisnis milik Universitas Hasanuddin.