Mahasiswa
Sulsel

Dari Natural hingga Fully Washed, KKN-T Unhas Dorong Mutu Kopi Pattaneteang Naik Kelas

OLAH KOPI - Mahasiswa KKN-T Gelombang 116 Unhas melatih langsung petani Desa Pattaneteang, Bantaeng, mengolah kopi pascapanen dengan metode natural, honey, dan fully washed, Kamis (30/7/2026). (Dok KKN-T Unhas)

BANTAENG, UNHAS.TV - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menggelar edukasi dan pelatihan pengolahan pascapanen kopi di Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Kamis (30/7/2026).

Program individu itu dijalankan Muh. Syukur, mahasiswa Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai teknik pengolahan biji kopi agar mutu, cita rasa, dan nilai jual hasil panen petani lokal meningkat.

Muh. Syukur mengatakan pengolahan pascapanen menjadi salah satu tahapan penting yang menentukan kualitas akhir biji kopi. Karena itu, pelatihan difokuskan pada tiga teknik pengolahan, yakni natural, honey, dan fully washed.

“Setiap metode pengolahan memiliki karakteristik cita rasa dan proses yang berbeda. Kami ingin memberikan pemahaman praktis kepada petani agar mereka memiliki variasi teknik olah yang dapat disesuaikan dengan permintaan pasar,” kata Syukur.

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa terlebih dahulu memberikan materi mengenai pemetikan ceri kopi pada tingkat kematangan optimal atau petik merah. Peserta juga mendapat penjelasan tentang sortasi awal, pengelolaan fermentasi, hingga proses pengeringan yang menentukan mutu akhir kopi.

Materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung. Pada metode natural, ceri kopi dikeringkan secara utuh bersama kulit dan daging buah. Teknik ini umumnya menghasilkan karakter rasa lebih manis dengan nuansa buah.

Sementara pada metode honey, kulit luar ceri dikupas, tetapi lapisan lendir atau mucilage tetap dipertahankan selama proses pengeringan. Cara tersebut dapat menghasilkan keseimbangan antara rasa manis dan keasaman.

Adapun metode fully washed dilakukan dengan mengupas kulit ceri dan membersihkan lapisan lendir melalui proses fermentasi serta pencucian menggunakan air.

Teknik ini diarahkan untuk menghasilkan profil rasa yang lebih bersih atau clean cup dengan karakter keasaman yang lebih menonjol.

Mahasiswa berharap petani Desa Pattaneteang dapat menerapkan ketiga metode tersebut secara tepat dan konsisten. Variasi teknik pengolahan dinilai dapat memberi pilihan produk dengan karakter berbeda sesuai kebutuhan pasar.

“Harapannya, para petani dapat mengaplikasikan metode natural, honey, maupun fully washed secara mandiri sehingga daya saing dan nilai ekonomis kopi dari desa ini semakin meningkat,” ujar Syukur.

Penerapan teknik pascapanen yang lebih baik juga diharapkan membuka peluang pasar lebih luas sekaligus mendorong peningkatan pendapatan petani kopi Pattaneteang. (*)