Mahasiswa
News
Program
Unhas Story

Dari 'Pilihan Terakhir' ke Panggung Dunia, Catatan Perjalanan Andi Riska Respati



Andi Riska Respati, Duta Bahasa Berbakat Sulselbar 2025. (dok unhas tv)


Di Malaysia, Riska mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional dan memilih mengambil peran lebih besar sebagai sekretaris.

Keputusan itu berangkat dari keyakinan yang ia pegang: semakin besar tanggung jawab yang diambil, semakin banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik.

Kisah KKN-nya tidak hanya berisi agenda formal. Yang paling membekas justru momen-momen kecil saat disambut siswa setiap pagi, mendengar sapaan “selamat pagi” yang membuat lelah semalam terasa lebih ringan.

Di lapangan, ia merasakan energi yang jarang ditemukan di ruang kelas kampus: rasa berguna yang nyata, karena ada manusia lain yang menunggu kontribusi.

Namun tantangan juga hadir dalam bentuk yang tidak romantis: perbedaan kemampuan siswa. Ada anak yang lebih tua belum bisa membaca, sementara yang lebih muda sudah lancar.

Situasi itu menuntut pendekatan pengajaran yang fleksibel, tidak bisa disamaratakan. Dari sini, Riska belajar bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi, tapi membaca konteks sosial, ekonomi, dan budaya yang melatarinya.

Soal dukungan, pengalaman luar negeri itu juga memperlihatkan satu hal penting: mobilitas akademik sering kali bergantung pada kemampuan mengelola sumber daya.

Riska memanfaatkan beasiswa dan mengatur keuangan dengan rapi. Ia menabung, menahan konsumsi, dan menjadikan dana pendidikan sebagai alat untuk membuka pengalaman baru, bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Anak Migran dan Merawat Inklusivitas

Riska kemudian mengikuti seleksi duta bahasa—yang prosesnya dikenal panjang dan ketat. Ia datang dengan gagasan yang tidak sekadar kosmetik.

Isu yang diangkatnya adalah bahasa bagi anak migran Indonesia di Malaysia yang tidak mengenal bahasa Indonesia. Tema itu lahir dari pengalaman lapangan, bukan dari brainstorming yang dipaksa dalam semalam.

Dalam ajang tersebut, ia juga menampilkan tarian yang merepresentasikan budaya Bugis, termasuk narasi tentang tradisi, peran perempuan, serta kekayaan simbolik daerah.

Ini bukan sekadar pertunjukan panggung; ia menjadikannya media untuk menegaskan bahwa bahasa dan budaya saling terkait.

Di titik ini, Riska memaknai bahasa sebagai alat penghubung dan pintu inklusivitas. Ia menyinggung pentingnya bahasa isyarat sebagai bagian dari komunikasi yang setara.

Pesannya sederhana tetapi tajam: komunikasi bukan cuma urusan “bisa bicara”, melainkan juga urusan “memberi ruang” bagi siapa pun untuk dipahami.

Sebagai duta literasi, Riska tidak berhenti pada program seremonial. Ia menyimpan rencana yang lebih konkret: menjadikan tesisnya—tentang pelayanan publik berbasis komunitas—sebagai buku materi ajar.

Baginya, pengalaman pengabdian di luar negeri memperlihatkan masalah yang berulang, yakni kurikulum dan metode sering tidak konsisten karena bergantung pada siapa yang datang mengajar.

Ia ingin meninggalkan jejak yang lebih tahan lama: bahan ajar yang bisa dipakai berkelanjutan.

Rencana jangka panjangnya juga jelas, memperluas pengalaman internasional lewat program pertukaran pelajar ke Turki, dengan harapan risetnya kelak bisa diterbitkan di jurnal internasional.

Langkah itu terdengar besar, tetapi konsisten dengan pola hidup yang ia bangun: mengambil peluang, menanggung konsekuensi, dan terus bertumbuh.

Di akhir, pesan Riska kepada mahasiswa lain tampak klise jika hanya dibaca sebagai slogan. Tapi ketika ditempatkan dalam perjalanan hidupnya—dari “pilihan terakhir” sampai prestasi internasional—pesan itu menjadi lebih masuk akal: jangan takut gagal, terus mencoba, dan berani memulai dari diri sendiri.

Karena barangkali, yang membedakan mahasiswa biasa dengan mahasiswa yang punya jejak bukanlah bakat semata. Melainkan keberanian untuk mengambil peran—dan kesediaan membayar harga dari peran itu dengan kerja keras.

Di ujung obrolan, ia menyebut rencana jangka pendek: menyelesaikan skripsi. Jangka panjang: mendaftar pertukaran pelajar ke Turki, berharap bisa meneliti dan mempublikasikan di jurnal internasional.

Lalu ia menutup dengan pesan yang sederhana, nyaris klise, tapi terasa tulus karena hidupnya memang bergerak dengan prinsip itu: jangan takut gagal, berani mencoba, mulai dari diri sendiri.

Ada juga pepatah Bugis yang ia simpan rapat—ia sebut sebagai kalimat kesayangan: suara mencerminkan kata-kata, kata-kata mencerminkan tindakan, tindakan memperjelas siapa diri kita sebenarnya.

Itulah inti kisah Rizka. terpilih sebagai Duta Bahasa Berbakat Sulawesi Selatan–Sulawesi Barat 2025, dan juga Duta Literasi Universitas Hasanuddin adalah sebuah lompatan. 

Ia tidak menjadikan prestasi sebagai pajangan, melainkan jejak dari tindakan yang dipilih—sering kali di menit terakhir, sering kali dengan rasa takut—namun selalu dengan keberanian untuk mengambil peran yang lebih besar, supaya hidup mengajarinya lebih banyak. (*)