.webp)
Dengan menguasai produksi pengetahuan melalui kampus dan riset strategis, Tiongkok tidak hanya menjadi produsen barang, tetapi juga penentu standar teknologi dan arah perkembangan global.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Tiongkok bukanlah soal meniru skala atau sistem politiknya, melainkan memahami arsitektur kebijakan inovasi. Industrialisasi tanpa integrasi kampus hanya akan berhenti pada hilirisasi fisik, bukan hilirisasi pengetahuan.
Kampus perlu dinilai bukan semata dari jumlah publikasi, tetapi dari relevansi riset terhadap agenda nasional. Negara dituntut berani menetapkan prioritas riset dan industri secara konsisten, sementara kolaborasi kampus dan industri harus dilembagakan, bukan diserahkan pada kebetulan.
Seperti diingatkan Albert Einstein, pengetahuan bukan sekadar informasi, melainkan kemampuan untuk menerapkannya. Tanpa penerapan, riset kehilangan daya transformasinya.
Transformasi ekonomi Tiongkok, pada akhirnya, bukanlah keajaiban. Ia adalah hasil dari disiplin strategi, konsistensi kebijakan, serta integrasi yang serius antara negara, kampus, dan industri. Dalam ekonomi berbasis teknologi, kampus bukan pelengkap pembangunan, melainkan fondasi daya saing bangsa.
Tiongkok memahami hal ini lebih awal dan mengeksekusinya dengan tekun. Tantangan bagi Indonesia, termasuk bagi kampus kampus seperti UNHAS, adalah menjadikan pendidikan tinggi bukan sekadar ruang produksi ilmu, tetapi mesin penggerak transformasi ekonomi nasional.
*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAI) Universitas Hasanuddin








