GOWA, UNHAS.TV - Polusi udara di Indonesia tidak hanya bersumber dari kendaraan bermotor. Pembakaran sampah, kebakaran hutan dan lahan, emisi industri, serta penggunaan bahan bakar fosil ikut memperburuk kualitas udara.
Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, mulai dari gangguan pernapasan hingga gangguan psikologis.
Dosen Teknik Lingkungan Universitas Hasanuddin, Dr. Eng. Irwan Ridwan Rahim, S.T., M.Eng., mengatakan persoalan polusi udara di Indonesia jauh lebih kompleks dibanding sekadar emisi transportasi.
Menurut dia, sejumlah kebiasaan masyarakat dan aktivitas berbasis lahan turut menjadi sumber pencemar yang signifikan.
“Selain transportasi, faktor lain seperti pembakaran sampah dan kebakaran hutan juga sangat berpengaruh. Bahkan di daerah yang tidak padat, kalau ada kebakaran hutan, polusinya bisa sangat besar,” kata Irwan di Kampus Teknik Unhas, Gowa, Selasa (5/5/2026).
Selama ini, sektor transportasi memang kerap disebut sebagai penyumbang utama polusi udara, terutama di wilayah perkotaan.
Namun di banyak daerah, praktik pembakaran sampah masih menjadi persoalan serius. Cara instan untuk mengurangi timbunan sampah itu menghasilkan asap dan partikel berbahaya yang langsung mencemari udara di sekitar permukiman.

Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Unhas Dr Eng Ir Irwan Ridwan Rahim ST MT. (Dok Unhas TV)
Asap dari pembakaran sampah dapat menyebar ke lingkungan rumah, sekolah, dan ruang publik. Dalam kondisi tertentu, paparan ini berlangsung berulang karena kebiasaan membakar sampah dilakukan secara rutin.
Akibatnya, warga yang tinggal di sekitar lokasi pembakaran menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan.
Sumber pencemar lain yang tak kalah besar adalah kebakaran hutan dan lahan. Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada wilayah yang terbakar, tetapi juga dapat menyebarkan asap hingga lintas daerah.
Kabut asap yang muncul dalam skala luas membuat kualitas udara menurun drastis dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Irwan menjelaskan, dampak polusi udara dapat dibedakan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, masyarakat dapat mengalami batuk, iritasi, atau sesak napas setelah terpapar udara tercemar.
Dirasakan Kelompok Rentan
Keluhan ini biasanya lebih cepat dirasakan oleh kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan riwayat penyakit pernapasan.
“Dampak polusi itu ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek mungkin batuk atau sesak napas, tapi jangka panjang bisa sampai ke penyakit serius bahkan gangguan psikologis,” ujar Irwan.
Paparan jangka panjang terhadap udara tercemar berpotensi memicu penyakit kronis, termasuk kanker paru-paru.
Lingkungan dengan kualitas udara buruk juga dapat meningkatkan tekanan kesehatan masyarakat, termasuk risiko gangguan mental akibat hidup dalam kondisi yang tidak sehat dan tidak nyaman.
Tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di berbagai kota besar menjadi salah satu indikator memburuknya kualitas udara. Penyakit ini kerap muncul ketika masyarakat terus-menerus terpapar asap, debu, dan partikel halus dari berbagai sumber pencemar.
Selain berdampak pada kesehatan, polusi udara turut mempercepat krisis iklim. Emisi dari industri, transportasi, pembakaran sampah, dan penggunaan bahan bakar fosil berkontribusi terhadap peningkatan gas rumah kaca. Kondisi ini memperparah pemanasan global dan menambah beban lingkungan.
Karena itu, pengendalian polusi udara tidak cukup hanya menyasar kendaraan bermotor. Perlu perubahan kebiasaan masyarakat, pengelolaan sampah yang lebih baik, pencegahan kebakaran hutan, serta pengawasan terhadap emisi industri.
Tanpa langkah menyeluruh, ancaman polusi udara akan terus berulang dan menekan kualitas hidup masyarakat.
(Rahmatia / Muh Resha Maharam / Unhas TV)
Ilustrasi polusi udara ancam lingkungan dan kesehatan warga. (ChatGPT)



-300x169.webp)
-300x169.webp)



