Catatan Perjalanan EKA SASTRA di Mesir–Maroko–Andalusia (3)*
Jujur saja, ada rasa sedih sedikit waktu kapal mulai meninggalkan Maroko. Beberapa hari sebelumnya kami masih di Marrakech dan Tangier, bertemu banyak orang, mendengar banyak bahasa, dan merasakan sendiri betapa terbuka dan hangatnya orang-orang di sana.
Maroko pamit dengan kesan yang sangat manusiawi. Tapi begitulah perjalanan, selalu ada yang harus ditinggalkan supaya kita bisa menemukan yang lain.
Di depan kami terbentang Selat Gibraltar. Saya senang karena tempat baru sudah menunggu, tapi anehnya, begitu kapal bergerak ke arah Tarifa, pikiran saya malah lari ke belakang, lebih dari seribu tahun.
Saya membayangkan Tariq ibn Ziyad menyeberangi laut yang sama pada tahun 711, dari Afrika Utara menuju Semenanjung Iberia. Bukit karang tempat ia mendarat kemudian dikenal sebagai Jabal Tariq, Gunung Tariq, yang lama-lama berubah bunyi menjadi Gibraltar.
Kami tentu datang dengan cara yang jauh berbeda. Tidak ada pasukan, cuma dua orang pejalan dengan beberapa koper dan rasa penasaran. Tapi di atas kapal itu saya merasa perjalanan ini mulai berganti warna.
Rasanya bukan lagi sekadar pindah dari Afrika ke Eropa, melainkan masuk ke sebuah ruang sejarah yang dulu pernah tersambung begitu erat. Tarifa jadi pintu masuk pertama kami. Dari sana kami lanjut ke Sevilla.
Sevilla
Sevilla cantik sekali. Di Real Alcázar saya berjalan pelan dari satu ruangan ke ruangan lain, dan mata saya terus saja ingin berhenti: ukiran di dinding, lengkungan, taman, kolam, pola-pola geometris yang seperti tidak ada habisnya.
Ada satu hal yang langsung terasa di sana. Pergantian penguasa ternyata tidak selalu berarti pergantian kebudayaan. Istana ini terus dibangun dan diperluas setelah Sevilla jatuh ke tangan raja-raja Kristen, tapi jejak seni Andalusia tetap hidup di dalamnya. Pengrajinnya, tekniknya, pola-polanya, juga selera keindahannya, diteruskan dalam bentuk yang baru.

Dari situ saya mulai berpikir bahwa peradaban tidak selalu ikut mati ketika kerajaannya runtuh. Kadang ia cuma pindah tempat tinggal, masuk ke dalam bahasa, bangunan, musik, dan cara orang menikmati sesuatu yang indah.
Malamnya kami menonton flamenco. Kalau siang tadi Andalusia bicara lewat batu dan ukiran, malam itu ia bicara lewat petikan gitar, suara penyanyi, tepuk tangan, dan gerak tubuh para penarinya.
Di dalamnya ada sedih, ada marah, ada berani, ada gembira, kadang semuanya dalam satu lagu. Saya tidak tahu apakah sebuah kota bisa punya suara. Tapi malam itu, Sevilla rasanya punya.
Córdoba
Dari Sevilla kami ke Córdoba. Pagi-pagi saya jalan dulu menyusuri Judería, kawasan Yahudi lama. Gangnya sempit-sempit, rumahnya putih-putih, dan di salah satu sudutnya masih berdiri sebuah sinagoga kecil.
Tidak lama kemudian saya masuk ke Mezquita-Catedral. Di bangunan inilah saya betul-betul merasakan bagaimana sejarah bisa hidup berdampingan dalam satu atap. Lengkungan merah-putih yang berulang di atas ratusan tiang membawa kita kembali ke masa keemasan Córdoba Islam.
Di salah satu sisinya, mihrab masih berdiri dengan kaligrafi dan mozaik yang indahnya bikin terdiam. Lalu cuma beberapa langkah dari situ, ada ruang katedral. Semuanya di bangunan yang sama, dan kawasan Yahudi yang tadi pagi saya lewati juga tidak jauh dari sana.
Saya berdiri cukup lama di dalam. Ada rasa tenang yang susah saya jelaskan.
Saya membayangkan sebuah kota tempat Muslim, Yahudi, dan Kristen pernah tinggal berdekatan. Tentu tidak selalu damai. Ada konflik, rebutan kekuasaan, ketegangan, dan politik yang naik-turun.

Tapi ada juga masa ketika perjumpaan itu menghasilkan sesuatu yang besar: ilmu, filsafat, kedokteran, matematika, dan tradisi penerjemahan yang membuat Córdoba pernah jadi salah satu pusat pengetahuan terpenting di dunia.
Saya jadi berpikir, mungkin peradaban besar memang tidak lahir dari kekuatan politik saja. Ia tumbuh ketika orang mau membuka diri pada ilmu yang datang dari orang lain.
Granada
Perjalanan lalu membawa kami ke Granada. Kalau Córdoba terasa seperti puncak sebuah peradaban, Granada lebih mirip bab terakhirnya yang panjang. Di sinilah Alhambra berdiri.
Pagi itu saya dan istri masuk ke kompleks istana Nasrid. Tadinya saya membayangkan Alhambra sebagai bangunan yang megah dan besar. Ternyata yang saya temukan jauh lebih halus dari itu.
Hampir di setiap sudut ada air yang mengalir. Ada taman, ada permainan cahaya dan bayangan, ada kaligrafi Arab yang memenuhi dinding. Ada ruangan yang suasananya berubah hanya karena matahari bergeser sedikit.
Yang paling membuat saya kagum adalah cara para pembangunnya memperlakukan air. Air dialirkan dari pegunungan, lewat kanal, taman, kolam, sampai ke halaman-halaman istana. Air di sini tidak sekadar dipakai. Gemericiknya jadi bagian dari suasana, pantulannya jadi bagian dari cahaya. Cahaya pun begitu. Ia tidak asal masuk lewat jendela, tapi seperti sengaja diatur untuk bergerak bersama ruangan.
Di situ saya bisa merasakan setinggi apa selera seni dan penguasaan teknik masyarakat yang membangunnya. Keindahan di Alhambra bukan hiasan yang ditempel belakangan. Ia sudah jadi bagian dari cara bangunan itu hidup.
Saya dan istri berjalan pelan, sesekali berhenti, memotret, ngobrol, kadang diam saja. Di perjalanan seperti ini saya makin sadar bahwa kebersamaan tidak selalu butuh percakapan yang panjang. Kadang cukup berjalan berdua, melihat sesuatu yang indah, lalu menyimpannya di ingatan masing-masing.
Peradaban yang Tidak Benar-Benar Pergi
Dari Tarifa ke Sevilla, lalu Córdoba dan Granada, saya akhirnya tidak lagi melihat Andalusia semata-mata sebagai kisah kejayaan Islam yang pernah ada lalu hilang. Saya melihatnya sebagai sejarah yang berlapis-lapis. Islam datang dari Afrika Utara dan bertemu dengan tradisi Iberia, Romawi, Visigoth, Yahudi, dan Kristen.
Ketika kekuasaan berganti, semua itu tidak lenyap begitu saja. Ada yang dihancurkan, ada yang diubah, ada yang dipertahankan, ada pula yang diserap oleh mereka yang datang belakangan.
Di Sevilla saya melihatnya di Alcázar. Di Córdoba, di Mezquita-Catedral dan gang-gang Judería. Di Granada, di Alhambra.

Perjalanan ini membuat saya lebih hati-hati memakai kata "kejayaan" dan "keruntuhan". Kerajaan memang bisa runtuh, penguasa bisa berganti, bendera bisa diturunkan. Tapi peradaban punya umur yang lebih panjang. Ia tetap tinggal di dalam bahasa, makanan, bangunan, musik, ilmu, teknologi, dan cara manusia memandang keindahan.
Waktu berdiri bersama istri di Alhambra, saya tidak merasa sedang berada di makam sebuah peradaban. Saya merasa peradaban itu masih bicara. Lebih dari lima abad setelah Kerajaan Nasrid berakhir, orang dari berbagai negara masih terus datang.
Mereka masih berdiri lama di depan ukirannya, masih mendengarkan gemericik airnya, masih memandangi cahaya yang jatuh lewat lengkungannya. Dan barangkali, seperti saya, mereka juga bertanya-tanya bagaimana masyarakat yang kekuasaannya sudah lama hilang bisa meninggalkan sesuatu yang masih menyentuh hati orang sampai hari ini.
Mungkin di situ salah satu ukuran sebuah peradaban. Yang penting ternyata bukan berapa lama ia berkuasa, tapi berapa lama nilai, ilmu, dan keindahannya tetap hidup setelah kekuasaannya selesai.
Dan mungkin itu juga yang diajarkan perjalanan. Kita berangkat untuk melihat tempat-tempat. Tapi kalau kita mau berjalan cukup pelan, kita pulang membawa cara pandang yang lain tentang manusia, sejarah, dan dunia.(*)
*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Universitas Hasanuddin






_1-300x172.webp)

