MAKASSAR, UNHAS.TV - Gelombang demonstrasi terus meluas di Republik Islam Iran sejak sepekan terakhir. Bahkan sudah merenggut jiwa warga Iran.
Aksi unjuk rasa yang awalnya dipicu kekecewaan pelaku usaha terhadap melemahnya perekonomian nasional dan anjloknya nilai tukar Rial terhadap Dolar Amerika Serikat kini berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas.
Pengamat Timur Tengah sekaligus Dosen Sastra Asia Barat Universitas Hasanuddin (Unhas), Supratman SS MA PhD, menilai eskalasi demonstrasi di Iran tidak bisa dilepaskan dari konstruksi narasi yang dibangun media internasional.
“Yang banyak diangkat oleh media internasional adalah kelompok anti-pemerintah. Sementara masyarakat yang masih mendukung pemerintah Iran hampir tidak mendapat ruang pemberitaan,” ujar Supratman, pada Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah Iran berada di ambang kehancuran politik, padahal realitas di lapangan jauh lebih kompleks.
Ia mengakui adanya kelompok masyarakat yang menentang pemerintah, namun menegaskan bahwa dukungan terhadap pemerintahan Republik Islam Iran juga masih kuat.
“Terjadi ketimpangan representasi. Pihak yang tidak sejalan dengan kepentingan kekuatan global cenderung dipinggirkan, sementara kelompok yang sejalan justru dibesarkan,” katanya.
Supratman menilai, demonstrasi yang terjadi saat ini juga mengindikasikan adanya upaya sistematis untuk mengganti bentuk pemerintahan Republik Islam Iran.
Hal tersebut terlihat dari munculnya seruan terbuka agar Iran kembali ke sistem monarki di bawah keluarga Pahlavi.
“Dalam beberapa demonstrasi terlihat jelas tuntutan agar Reza Pahlavi kembali berkuasa. Ini menunjukkan ada kelompok yang secara terang-terangan ingin mengakhiri sistem Republik Islam Iran dan mengembalikan pemerintahan kerajaan Persia,” jelasnya.
Ia menambahkan, wacana tersebut tidak terlepas dari dukungan kekuatan eksternal, khususnya Amerika Serikat dan Israel, yang sejak lama berupaya mengganti sistem pemerintahan di Iran.
Menurut Supratman, kembalinya rezim Pahlavi akan membuka kembali hubungan erat Iran dengan Amerika Serikat seperti yang terjadi sebelum Revolusi Islam 1979.
Hubungan Iran dan Venezuela
Lebih jauh, Supratman juga mengaitkan situasi di Iran dengan dinamika geopolitik global, termasuk hubungan erat Iran dan Venezuela.
Ia menilai penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat mengirim pesan politik yang kuat kepada negara-negara yang menentang hegemoni Washington.
“Penangkapan Maduro bukan hanya soal Venezuela. Itu juga pesan bagi Iran dan negara lain yang berseberangan dengan Amerika. Venezuela dan Iran selama ini memiliki hubungan ekonomi dan politik yang erat, termasuk dalam melawan dominasi Amerika,” ujarnya.
Menurutnya, terganggunya kerja sama ekonomi Iran dan Venezuela akibat situasi tersebut turut memperberat tekanan ekonomi di Iran, yang kemudian menjadi salah satu pemicu membesarnya aksi unjuk rasa.
“Ini bukan sekadar persoalan domestik Iran. Ada konteks geopolitik yang lebih besar di balik eskalasi demonstrasi yang kita saksikan hari ini,” pungkas Supratman.
Sementara Pemerintah Iran mengambil langkah tegas dengan memutus jaringan internet dan telepon di seluruh wilayah negara sejak Kamis (8/1/2026) malam waktu setempat. Kebijakan ini dilakukan seiring meningkatnya intensitas demonstrasi di sejumlah kota besar.
Direktur keamanan siber NetBlocks, Alp Toker, menyebut pemutusan jaringan internet merupakan upaya pemerintah untuk membatasi arus informasi dari dalam negeri ke dunia luar.
Dengan terputusnya akses komunikasi, para pengunjuk rasa kesulitan menyebarkan informasi, sementara pemantauan internasional terhadap situasi di Iran juga menjadi terbatas.
Dampak dari unjuk rasa, sebanyak 45 pengunjuk rasa tewas. Laporan Lembaga Swadaya Masyarakat Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Norwegia menyebut sedikitnya 45 orang pengunjuk rasa tewas, termasuk delapan anak-anak.
Selain itu, sekitar 100 orang dilaporkan mengalami luka serius dan lebih dari 2.000 orang telah ditahan akibat bentrokan dengan aparat keamanan.
(Achmad Ghiffary M / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)
Pengamat Timur Tengah sekaligus Dosen Sastra Asia Barat Universitas Hasanuddin (Unhas), Supratman SS MA PhD. (unhas tv/moh resha makaram)







-300x169.webp)
