Oleh: Yusran Darmawan*
ACARA InTechSEA 2026 akhirnya kelar. Tepuk tangan bergemuruh di ballroom Four Seasons Hotel Jakarta. Menteri ESDM, Kepala Badan POM, pengusaha nasional Arsjad Rasjid, pejabat kementerian, hingga puluhan CEO hadir dalam satu ruangan.
Banyak alumni Unhas yang sukses dan berprestasi juga berkumpul. Mereka datang dari berbagai sektor: pemerintahan, BUMN, perbankan, pertambangan, energi, hingga dunia usaha.
Semua mengakui skala dan kemegahan acara ini. Namun, tidak semua tahu bahwa di balik panggung besar itu ada satu nama yang bekerja sejak awal, mengatur begitu banyak detail, dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Namanya Hendra Noor Saleh.
***
Semuanya bermula pada Juli 2026. Saat itu, saya diundang makan siang di ruangan Wakil Rektor 5 Unhas, Prof. Amir Ilyas. Saya datang bersama Komisaris Hadin, Eka Sastra, dan Komisaris Unhas TV, Hendra Noor Saleh, yang akrab kami sapa Koh Hendra.
Usai makan siang, rombongan menuju lantai delapan untuk bersilaturahmi dengan Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa. Namun, saya dan beberapa direksi Unhas TV diajak Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual, Asmi Citra Malina, untuk bertemu di ruang rapat WR 5.
Di situlah Ibu Citra meminta agar Unhas TV ikut mengelola InTechSEA 2026. Ia menjelaskan bahwa karena keterbatasan anggaran, Unhas TV, sebagai perusahaan milik Unhas, diharapkan ikut terlibat dalam pendanaan.
Saya menyanggupi.
Saya teringat InTechSEA 2025. Ketika itu Unhas TV juga menjadi event organizer. Acaranya digelar dalam skala yang belum terlalu besar di Hotel Unhas. Padahal, sejak saat itu saya melihat potensinya jauh lebih besar.
InTechSEA bisa dibawa ke level nasional. Ia bisa menjadi agenda tahunan yang mempertemukan universitas dengan kementerian, BUMN, perusahaan swasta, investor, dan para pengambil keputusan. Inovasi kampus tidak cukup hanya dipamerkan di lingkungan akademik. Ia harus dibawa ke tempat di mana keputusan, modal, dan kebijakan bertemu.
Beberapa direksi Unhas TV sempat mempertanyakan keputusan saya. Semua meragukan kesiapan kami, sebagai perusahaan milik Unhas di Makassar, untuk menggelar acara itu. Tetapi saya punya satu alasan untuk percaya diri: ada Hendra Noor Saleh.
Koh Hendra pernah memimpin Dyandra Promosindo, salah satu perusahaan event organizer besar di Jakarta yang mengelola berbagai event berskala besar, mulai dari pameran otomotif dan properti hingga konser yang menghadirkan artis-artis internasional.
Saya tidak meragukan pengalamannya. Saya tahu, jika Koh Hendra turun tangan, kami tidak lagi berpikir seperti panitia sebuah kegiatan kampus. Kami bisa mulai berpikir seperti sebuah event organizer profesional.
Keesokan harinya, saya mendiskusikan permintaan Unhas itu kepada Eka dan Koh Hendra. Keduanya antusias. Malah mereka mengusulkan satu gagasan yang pada awalnya terdengar cukup berani: mengapa tidak menggelarnya di Jakarta?
Menurut mereka, Unhas terlalu jarang membuat gebrakan besar di ibu kota. Kita sering nyaman bermain di kandang sendiri, padahal pusat gravitasi pengambilan kebijakan nasional berada di Jakarta.
Jika Unhas ingin mempertemukan pengetahuan dengan kebijakan, industri, investasi, BUMN, dan korporasi besar, maka sesekali Unhas harus datang ke arena itu. Bukan sekadar membawa nama kampus, tetapi membawa solusi akademik atas persoalan-persoalan bangsa.
Gayung bersambut.
Kami membentuk dua tim. Pertama, kepanitiaan dari Unhas yang bertugas mengawal substansi, menunjuk tim juri, serta membangun komunikasi dengan korporasi peserta.
Kedua, tim Unhas TV dan Maradeka Group, holding usaha milik Eka Sastra, yang bergerak menghubungi kementerian, menyiapkan dukungan pendanaan, sekaligus mengorkestrasi awarding night di sebuah hotel bertaraf internasional di Jakarta.
Kami bergerak di jalur masing-masing.
Eka Sastra menemui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Sekjen Kementerian ESDM Prof. Ahmad Erani Yustika. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kesempatan makan siang bersama Menteri Bahlil di rumah jabatannya. Dalam pertemuan itu, saya menyampaikan undangan agar beliau hadir di acara Unhas.
Dukungan kemudian datang dari Kementerian ESDM. Pertemuan melalui Zoom digelar bersama pihak Unhas, dilanjutkan dengan surat edaran kepada perusahaan-perusahaan pertambangan untuk berpartisipasi dalam InTechSEA.
Setelah urusan kementerian mulai menemukan bentuk, pekerjaan berikutnya adalah mencari lokasi.




Kami mendatangi dan mempertimbangkan sejumlah hotel besar di Jakarta. Patokannya sederhana: jika Unhas hendak datang ke Jakarta, acaranya harus digelar di tempat yang memang terbiasa menjadi tuan rumah kegiatan berskala internasional.
Muncullah sejumlah nama: Hotel Mulia, The Westin, JW Marriott, Le Méridien, hingga Four Seasons Hotel Jakarta. Pilihan akhirnya jatuh pada Four Seasons.
Secara administratif, saya didapuk sebagai pihak yang menandatangani berbagai perjanjian dan dokumen. Namun secara de facto, orang yang paling banyak mengendalikan detail penyelenggaraan acara adalah Koh Hendra.
IKetua Umum Ikatan Alunni Fakultas Ekonomi (Ikafe) Unhas ini merancang kegiatan bersama Ichal, pemilik Red Corner di Makassar yang kini lebih banyak beraktivitas di Jakarta. Mereka menyusun konsep acara, menentukan alur, memikirkan siapa yang hadir, hingga menata ballroom yang selama ini kerap digunakan untuk gala dinner, kegiatan diplomatik, dan berbagai perhelatan besar.
Di situlah saya melihat dari dekat cara kerja Koh Hendra. Ia memahami detail yang bagi orang lain mungkin terlihat sepele, tetapi justru menentukan berhasil atau tidaknya sebuah acara.
Awalnya, misalnya, awarding night dirancang berlangsung malam hari. Koh Hendra justru mengusulkan agar acara dimulai siang.
Alasannya masuk akal. Jika dimulai malam, acara baru efektif berjalan setelah salat Isya. Waktu menjadi pendek. Menjelang pukul 22.00, tamu mulai meninggalkan ruangan. Sebaliknya, jika dimulai pukul 11.00, acara punya napas yang lebih panjang hingga sore. Para pejabat kementerian dan direktur perusahaan juga relatif lebih mudah menyisihkan waktu di tengah agenda kantor mereka.
Detail lain muncul ketika kantor Arsjad Rasjid meminta agar Antea Turk, cicit W.R. Supratman yang viral di media sosial karena memainkan “Indonesia Raya” Stanza III, ikut dihadirkan.
Koh Hendra tidak ingin penampilan itu sekadar menjadi selingan. Ia merancangnya sebagai bagian dari pertunjukan. Penampilan Antea dipadukan dengan musisi etnik yang memiliki pengalaman tampil dalam berbagai panggung internasional. Tujuannya satu: setiap bagian acara harus punya cerita dan meninggalkan kesan.
Menjelang hari H, seluruh vendor dikumpulkan untuk finalisasi.
Sekali lagi saya melihat kepiawaian Koh Hendra. Ia mengatur vendor dan tim kerja agar semuanya bergerak sesuai target. Setiap orang harus tahu tugasnya, setiap perpindahan acara harus punya hitungan waktu, dan setiap kemungkinan harus diantisipasi.
Saya memperhatikan cara kerjanya. Di situ saya memahami bahwa ada perbedaan besar antara sekadar membentuk panitia dan bekerja sebagai event organizer profesional.
Panitia biasanya berpikir bagaimana sebuah acara bisa terlaksana. EO profesional berpikir lebih jauh: bagaimana setiap menit dirancang menjadi pengalaman.
Panggung, pencahayaan, musik, pergerakan tamu, posisi meja, perpindahan pembicara, tayangan di layar, hingga momentum tepuk tangan tidak berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari satu pertunjukan besar yang harus dikendalikan.
Begitu detailnya Koh Hendra bekerja, hingga sehari sebelum kegiatan ia masih berada di lokasi. Ia mengawal vendor memasukkan peralatan, pembangunan booth, pengaturan panggung, hingga koordinasi stage manager, floor director, usher, serta petugas yang mengantar tamu menuju meja masing-masing.
Ia bahkan ikut memperhatikan tata panggung hingga menu yang akan disediakan hotel.
Lalu tibalah hari itu.
Ballroom Four Seasons Hotel Jakarta berubah menjadi ruang pertemuan yang megah. Panggung berdiri dengan tata cahaya yang elegan. Meja dan kursi ditata menyerupai sebuah jamuan resmi. Para tamu berdatangan dengan busana bernuansa etnik. Sebagian besar mengenakan jas.
Di ruangan itulah Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa mengatakan, “Unhas sangat jarang menggelar acara berskala nasional di Jakarta, di satu hotel semegah ini.”
Seorang mantan anggota DPR RI, Ichi Fauziah, bahkan sempat tidak percaya ketika diberi tahu bahwa ini adalah acara Unhas. Ia mengira Kementerian ESDM yang mengelola kegiatan tersebut.
Kesan serupa saya dengar dari Kak Asmawi Syam, mantan Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia.
Saya sendiri sempat beberapa kali berdiri dan memandang ballroom dengan perasaan nyaris tidak percaya.
.webp)
Koh Hendra semalam sebelum kegiatan digelar

Eka Sastra dan panitia Unhas

kehadiran jurnalis media nasional
Hampir semua media nasional hadir. Ketika berjalan ke lobi hotel, saya melihat para pejabat eselon I Kementerian ESDM, termasuk Sekjen, berdatangan untuk mendampingi Menteri Bahlil. Para CEO dan pimpinan perusahaan memenuhi ruangan.
Mereka melihat InTechSEA bukan lagi sebagai acara internal sebuah kampus di Makassar. Mereka datang karena melihat ada sesuatu yang penting sedang berlangsung.
Bagi saya, Awarding Night InTechSEA 2026 adalah salah satu mahakarya Hendra Noor Saleh.
Di tangan seseorang yang puluhan tahun hidup dalam industri event, sebuah acara tidak hanya diselenggarakan. Ia dikonstruksi sebagai pengalaman. Ada ritme, ada kejutan, ada momentum, dan ada kesan yang dibawa pulang oleh setiap orang yang hadir.
Namun, pelajaran terbesar dari Koh Hendra justru bukan soal bagaimana membuat ballroom terlihat megah. Saya belajar bahwa sebuah institusi juga harus berani menaikkan standar dirinya sendiri.
Selama ini kita mungkin terlalu sering mengukur kemampuan berdasarkan apa yang biasa kita lakukan. Acara kampus dibuat dengan standar acara kampus. Pertemuan akademik diselenggarakan untuk komunitas akademik. Kita merasa cukup ketika ruangan penuh, sambutan selesai, foto bersama dilakukan, lalu laporan pertanggungjawaban disusun.
InTechSEA memberi pengalaman berbeda.
Kampus bisa berdiri di ruangan yang sama dengan menteri, CEO, pengusaha, regulator, investor, dan media nasional. Para akademisi tidak hanya datang membawa teori. Mereka membawa gagasan dan inovasi untuk dibicarakan dengan orang-orang yang memiliki kewenangan, modal, jaringan, dan kemampuan untuk mengeksekusinya.
Barangkali inilah makna paling penting dari seluruh kemegahan itu. Bukan Four Seasons-nya. Bukan panggungnya. Bukan pula siapa saja tokoh yang datang.
Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk membawa Unhas keluar dari halaman rumahnya sendiri.
Malam setelah acara selesai, panggung perlahan dibongkar. Lampu-lampu dimatikan. Booth yang sehari sebelumnya dibangun dengan begitu serius mulai dilepas. Para tamu pulang, vendor mengemas peralatan, dan ballroom kembali menjadi ruangan hotel seperti biasanya.
Kemegahan sebuah event memang hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi standar yang ditinggalkannya bisa bertahan jauh lebih lama. Saya ingat tuturan Anwar Mattawape, CEO Titah Grup: “Saya tidak menyangka bisa hadir di acara sebesar ini. Acara ini membuat standar baru, yang susah dicapai di tahun-tahun mendatang.”
Bagi saya, itulah jejak Koh Hendra dalam InTechSEA 2026. Ia bukan hanya membantu kami membuat sebuah acara besar. Ia memperlihatkan kepada kami bahwa Unhas juga bisa bermain di panggung yang lebih besar.
Setelah hari itu, pertanyaannya bukan lagi: bisakah Unhas membuat acara sebesar ini di Jakarta? Kita sudah tahu jawabannya.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih menantang: setelah berhasil masuk ke panggung nasional, seberapa jauh Unhas berani melangkah?
*Penulis adalah Direktur Utama PT Hadin Media Nusantara, yang membawahi unit bisnis Unhas TV dan Unhas Press, serta beberapa unit bisnis lainnya.
undefined





_1-300x169.webp)


