MAKASSAR, UNHAS.TV – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara mahasiswa mengakses informasi dan memperoleh pengetahuan.
Berbagai referensi perkuliahan kini tersedia melalui internet dan buku elektronik. Namun, kemudahan teknologi tersebut belum sepenuhnya menggeser kebiasaan membaca buku fisik di kalangan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
Sejumlah mahasiswa masih mengandalkan buku cetak sebagai sumber utama pembelajaran. Mereka menilai buku fisik membantu memahami materi perkuliahan secara lebih mendalam.
Teknologi digital dan AI tetap digunakan, tetapi fungsinya lebih banyak sebagai pendukung proses belajar.
Kebiasaan tersebut terlihat pada Andi Raihana Zuleyka dan Azizah Mardhatillah Sudarman, mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Keperawatan Unhas.
Keduanya mengaku masih rutin menggunakan buku sebagai referensi akademik, terutama untuk memahami materi yang berkaitan dengan bidang keilmuan mereka.
Andi Raihana mengatakan, pembelajaran di program studi fisioterapi masih banyak mengandalkan referensi berbentuk buku.
Dosen juga menganjurkan mahasiswa membaca buku untuk memperkuat pemahaman terhadap materi perkuliahan.
"Kalau dari fisioterapi sendiri itu sebenarnya kita juga lebih sering baca buku. Jadi kalau misal mau bilang kita pakai AI secara keseluruhan juga kayaknya enggak sepenuhnya. Karena materi-materi itu juga banyak dari buku dan memang dianjurkan untuk baca buku," kata Andi.

MEMBACA BUKU - Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas Hasanuddin, Andi Raihana Zuleyka dan Azizah Mardhatillah Sudarman, membaca buku fisik di Perpustakaan Pusat Unhas, Makassar, Senin (2/11/2026). Keduanya mempertahankan kebiasaan membaca untuk memperdalam materi perkuliahan di tengah perkembangan teknologi AI. (Unhas TV/ Kautsar Ardiansyah R)
Bagi Andi, membaca buku tidak hanya berkaitan dengan tuntutan akademik. Ia juga berusaha mempertahankan kebiasaan membaca di tengah padatnya aktivitas perkuliahan.
Meski begitu, ia mengakui sejumlah buku akademik menggunakan istilah dan bahasa yang terkadang sulit dipahami.
Dalam kondisi tersebut, Andi memanfaatkan AI untuk membantu menyederhanakan penjelasan materi. Teknologi itu membantunya memahami konsep yang belum jelas tanpa meninggalkan buku sebagai sumber referensi utama.
Pandangan serupa disampaikan Azizah Mardhatillah. Menurut dia, dosen di Program Studi Fisioterapi masih aktif memberikan rekomendasi buku sebagai bahan bacaan mahasiswa. Referensi tersebut dinilai penting untuk memperdalam penguasaan ilmu fisioterapi.
"Terus kalau dari fakultas sendiri, bahkan dari fisioterapi, dari dosen-dosen kami itu sering menganjurkan kami buat baca buku dari referensi yang diberikan karena itu bisa bantu kita buat lebih memperdalam keilmuan di dalam fisioterapi," ujar Azizah.
Penggunaan buku fisik juga berkaitan dengan kenyamanan dan konsentrasi saat membaca. Andi menilai perangkat digital memiliki potensi mengganggu perhatian karena notifikasi dan aktivitas lain yang muncul di layar.
Gangguan tersebut dapat membuat mahasiswa kehilangan fokus sebelum menyelesaikan bacaan.
"Kalau misal kita pakai tab atau pakai apa gitu untuk membaca, kan pasti banyak kita di-distract-nya. Kayak sempat ada notif, langsung tiba-tiba bacanya enggak selesai. Jadi untuk biar bisa fokus, bisa mendalam yang dibaca itu kalau pakai buku fisik menurut saya lebih enak," tuturnya.
Pengalaman kedua mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa perubahan teknologi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap buku cetak.
Dalam lingkungan perguruan tinggi, pemilihan sumber belajar tetap berkaitan dengan karakter materi, kebutuhan akademik, dan kenyamanan mahasiswa.
Kehadiran AI justru membuka kemungkinan penggunaan sumber pengetahuan secara lebih beragam. Buku fisik dapat menjadi rujukan utama untuk mempelajari materi, sedangkan teknologi digital membantu pencarian informasi dan penjelasan konsep yang sulit dipahami.
Di tengah semakin mudahnya informasi diperoleh, kemampuan membaca secara kritis dan memahami referensi tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan tinggi. Bagi mahasiswa Unhas tersebut, kemajuan teknologi tidak menghapus posisi buku fisik dalam proses pembelajaran.
(Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)
MEMBACA BUKU - Mahasiswa Universitas Hasanuddin, tampak masih banyak yang memillih membaca buku fisik di Perpustakaan Pusat Unhas, Makassar, Senin (2/11/2026). Mereka mempertahankan kebiasaan membaca untuk memperdalam materi perkuliahan di tengah perkembangan teknologi AI. (Unhas TV/ Kautsar Ardiansyah R)



-300x240.webp)

-300x180.webp)


