Budaya
Makassar

Dilatih Zainal Dg Beta, Museum Kota Makassar Ajak Anak Muda Melukis dengan Tanah Liat

TANAH LIAT - Peserta program “Belajar Bersama di Museum” berfoto dengan pelopor seni lukis tanah liat Indonesia, Zainal Beta di Museum Kota Makassar, Minggu-Senin (5-6/7/2026). (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Museum Kota Makassar menggelar program “Belajar Bersama di Museum” dengan tema melukis menggunakan tanah liat pada Minggu-Senin, 5-6 Juli 2026.

Kegiatan ini menghadirkan pelopor seni lukis tanah liat Indonesia, Zainal Daeng Beta, sebagai pembimbing peserta.

Area museum di Jalan Balaikota, Makassar, tampak lebih hidup dari biasanya. Anak-anak, pelajar, hingga masyarakat umum duduk bersama, menggoreskan tanah liat ke atas media lukis.

Mereka tidak sekadar membuat gambar, tapi juga belajar bahwa bahan sederhana dari alam dapat menjadi medium ekspresi seni.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Kota Makassar, Sri Wanti Mamonto, mengatakan kegiatan ini dibuka untuk umum dengan kuota 100 peserta selama dua hari. Setiap hari, panitia menerima 50 peserta.



TANAH LIAT - Peserta program “Belajar Bersama di Museum” berfoto bersama dengan pelopor seni lukis tanah liat Indonesia, Zainal Beta di Museum Kota Makassar, Minggu-Senin (5-6/7/2026). (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)


Program ini menjadi bagian dari agenda tahunan Museum Kota Makassar yang didukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Makassar 2026.

Menurut Sri, pemilihan tanah liat sebagai media lukis bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat, tanah liat dinilai lebih hemat dan tidak bergantung pada bahan baku berbasis kimia.

Museum, kata dia, ingin menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan biaya besar. Cara ini juga dianggap dekat dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, yang akrab dengan tanah, kerajinan, dan tradisi visual.

“Tujuan kegiatan ini, khususnya di Museum Kota Makassar, adalah membuka wawasan anak muda bahwa museum bukan hanya tempat pameran benda-benda bersejarah. Museum juga ruang terbuka, public space, untuk berekspresi dan berkarya,” kata Sri Wanti di sela kegiatan.

Ia mengatakan, selama ini sebagian masyarakat masih melihat museum sebagai ruang yang kaku dan monoton. Lewat kegiatan interaktif, pengelola museum ingin mengubah pandangan itu.

Museum, menurut dia, harus menjadi tempat belajar yang hidup, dekat dengan warga, dan mampu merawat ingatan budaya melalui cara yang menyenangkan.



Pelukis Tanah Liat Makassar Zainal Dg Beta. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)


Zainal Dg Beta, yang membimbing langsung peserta, juga menyampaikan pesan tentang pentingnya mencintai budaya sendiri.

Ia meminta generasi muda tidak hanya menjadi penonton budaya luar, tetapi berani mengenali, mengolah, dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah masing-masing.

Pesan itu ia sampaikan sambil memperlihatkan teknik dasar mengolah tanah liat menjadi sapuan warna dan tekstur.

“Kenallah budaya luar, tapi cintailah budayamu. Kalau bukan kita yang mencintai, siapa lagi?” kata Zainal. Ia juga mendorong anak-anak muda dari daerah membawa identitas budayanya ke ruang publik, termasuk ke Makassar.

Kegiatan dua hari itu ditutup dengan harapan agar museum terus menjadi ruang kreatif bagi warga. Bagi peserta, museum hari itu bukan lemari masa lalu, melainkan ruang praktik budaya bersama warga.

Sri Wanti mengatakan Museum Kota Makassar akan mempertahankan program serupa sebagai agenda tahunan untuk memacu kreativitas masyarakat dan memperkuat pelestarian budaya lokal.

(Radina Sinja Putri / Tri Novianti Utami Putri / Kautsar Ardiansyah / Unhas TV)