Mahasiswa
Pendidikan
Terkini

Disrupsi AI Mengguncang Dunia Komunikasi, Mahasiswa Diingatkan Soal Etika dan Perlindungan Hukum

Talkshow bertajuk AI untuk Anak Bangsa yang digelar TV Tempo bekerja sama dengan Unhas TV di Studio Utama Unhas TV, Gedung BRI Microfinance Lantai 2, Kampus Unhas, Makassar, Senin (20/4/2026). (Unhas TV/Paramitha)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kian masif mulai memaksa dunia komunikasi meninjau ulang batas-batas etik, tanggung jawab, dan perlindungan hukum.

Isu itu mengemuka dalam talkshow bertajuk AI untuk Anak Bangsa yang digelar TV Tempo bekerja sama dengan Unhas TV di Studio Utama Unhas TV, Gedung BRI Microfinance Lantai 2, Kampus Unhas, Makassar, Senin (20/4/2026).

Forum ini menghadirkan akademisi dan praktisi media untuk membahas bagaimana AI tidak lagi berdiri sebagai teknologi masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat digital.

Dalam konteks komunikasi, kehadiran AI memunculkan dua wajah sekaligus: sebagai alat yang mempercepat produksi, distribusi, dan pengolahan informasi, tetapi juga sebagai sumber persoalan baru yang menyentuh wilayah etika, kontrol, bahkan hukum.

Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Prof Yudho Giri Sucahyo, mengatakan AI sesungguhnya bukan teknologi baru.

Menurut dia, fondasi AI telah berkembang sejak dekade 1980-an, tetapi baru pada era digital sekarang mengalami lonjakan penggunaan yang sangat luas.

Karena itu, tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar memahami cara kerja teknologinya, melainkan memastikan arah pemanfaatannya.

“Teknologi AI saat ini sudah hadir di tengah-tengah kita dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi pada dasarnya bersifat netral, sehingga bagaimana kita memanfaatkannya sangat bergantung pada manusia itu sendiri, apakah untuk hal yang positif atau negatif,” kata Prof Yudho.

Pernyataan itu menjadi salah satu benang merah diskusi: AI tidak pernah benar-benar berdiri netral ketika masuk ke ruang sosial. Di tangan pengguna yang bertanggung jawab, ia dapat menjadi instrumen efisiensi dan inovasi.

Namun di ruang komunikasi yang serba cepat, teknologi yang sama juga berpotensi memperbesar manipulasi informasi, mengaburkan otentisitas karya, dan mendorong penyebaran konten tanpa pertimbangan etik yang memadai.

Karena itu, para pembicara menekankan pentingnya pemahaman etika, terutama bagi generasi muda yang kini menjadi kelompok pengguna terbesar teknologi digital.

Dalam lanskap komunikasi modern, mahasiswa dan anak muda tidak hanya hadir sebagai konsumen informasi, tetapi juga produsen pesan yang setiap hari bersentuhan dengan algoritma, platform, dan perangkat berbasis AI.

Kecakapan Memanfaatkan AI 

>> Baca Selanjutnya