.webp)
Talkshow bertajuk AI untuk Anak Bangsa yang digelar TV Tempo bekerja sama dengan Unhas TV di Studio Utama Unhas TV, Gedung BRI Microfinance Lantai 2, Kampus Unhas, Makassar, Senin (20/4/2026).
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Jamaluddin Jompa, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai diskusi mengenai AI menjadi sangat relevan di lingkungan kampus karena mahasiswa akan hidup dan bekerja di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.
Menurut guru besar Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas ini, kecakapan memanfaatkan AI harus berjalan seiring dengan kedewasaan moral dan kesadaran hukum.
“Kegiatan ini sangat penting karena membahas AI dalam perspektif komunikasi, etika, dan juga perlindungan hukum. Mahasiswa sebagai generasi muda harus mampu memahami dan memanfaatkan teknologi ini secara bijak untuk masa depan,” ujar Prof Jamaluddin.
Nada serupa disampaikan Direktur TV Tempo Anton Aprianto. Ia menyebut disrupsi digital, termasuk AI, sebagai kenyataan yang tak bisa dihindari.
Karena itu, ruang diskusi publik dinilai perlu terus dibuka agar masyarakat tidak hanya terpukau oleh manfaat teknologi, tetapi juga cukup waspada terhadap risiko yang menyertainya.
“Kami melihat bahwa disrupsi digital dan AI adalah keniscayaan. Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa AI memiliki banyak manfaat, namun juga memiliki tantangan yang harus dipahami bersama,” kata Anton.
Talkshow itu memperlihatkan satu hal yang kini makin jelas: pembahasan tentang AI tidak lagi cukup berhenti pada aspek teknis. Dalam dunia komunikasi, persoalannya telah bergeser ke soal nilai, tanggung jawab, dan perlindungan terhadap publik.
Ketika teknologi mampu meniru bahasa, gambar, bahkan logika produksi media, maka pertanyaan tentang siapa yang mengendalikan, untuk tujuan apa, dan dengan batas apa menjadi semakin mendesak.
Melalui forum ini, penyelenggara berharap generasi muda tidak berhenti sebagai pengguna teknologi semata. Mereka didorong menjadi subjek yang mampu memahami, mengendalikan, dan memanfaatkan AI secara bijak, etis, dan bertanggung jawab.
Di tengah derasnya disrupsi digital, itulah yang tampaknya ingin ditekankan: masa depan komunikasi bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin, tetapi juga oleh kejernihan manusia dalam mengaturnya.
(Rahmatia Ardi / Unhas TV)







_1-300x182.webp)
