News

Dua Periode Prof. Ruslin Memimpin Transformasi Akademik Unhas

undefined

HARI itu, Selasa pagi, 7 Juli 2026, Baruga Andi Pangerang Pettarani kembali dipenuhi tepuk tangan. Di hadapan sivitas akademika Universitas Hasanuddin, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.B.M.Mf., Subsp.Ortognat.D., kembali mengucapkan sumpah jabatan sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan untuk periode kedua.

Wajahnya tampak tenang. Tidak ada selebrasi yang berlebihan. Ia hanya mengangguk pelan, menerima amanah yang kembali diletakkan di pundaknya.

Pelantikan itu bukan sekadar pergantian periode kepemimpinan. Ia merupakan pengakuan atas konsistensi seorang dokter, akademisi, dan pemimpin yang selama ini percaya bahwa perubahan lahir dari kerja yang dilakukan dengan tekun, hari demi hari.

Lahir di Pangkajene pada 2 Juli 1973, Muhammad Ruslin semasa kecil bercita-cita menjadi tentara. Namun, takdir membawanya ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.

Ia kemudian menempuh pendidikan spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial, meraih gelar Magister Kesehatan, serta menyelesaikan pendidikan doktoral di VU University Medical Center Amsterdam, Belanda.

Meski memiliki kesempatan berkarier di luar negeri, ia memilih kembali ke Indonesia. Baginya, ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika kembali kepada masyarakat.

Sebagai dokter bedah mulut, ia telah menangani ribuan pasien, termasuk anak-anak penderita bibir sumbing. "Ketika anak-anak itu pulang setelah operasi, saya membayangkan mereka bisa tertawa tanpa lagi menutup mulut," tuturnya suatu ketika.

Kalimat sederhana itu menggambarkan filosofi hidupnya: profesi dokter bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga mengembalikan harapan dan martabat manusia.

Semangat yang sama kemudian ia bawa ke dunia akademik.

Setelah menjadi dosen, profesor, dan Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, Ruslin dipercaya menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Tantangan yang dihadapinya tidak ringan.

Dunia pendidikan tinggi sedang berubah cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis.

Di bawah kepemimpinannya, Universitas Hasanuddin melahirkan Kurikulum 2023 (K-23) dengan Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK). Melalui kebijakan ini, mahasiswa tidak lagi hanya dinilai dari aktivitas di ruang kelas.


Prestasi kompetisi, organisasi, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, publikasi ilmiah, hingga magang memperoleh pengakuan sebagai bagian dari capaian akademik.

Transformasi itu diikuti dengan fleksibilitas tugas akhir, digitalisasi sistem akademik, penguatan budaya riset, pembinaan kewirausahaan mahasiswa, perluasan program internasional, hingga peningkatan kesempatan magang di dalam dan luar negeri.

Seluruh kebijakan diarahkan pada satu tujuan: melahirkan lulusan yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global.

Hasilnya mulai terlihat.

Pada 2024, Universitas Hasanuddin mencatat sejarah dengan membawa pulang Piala Adhikarta Kertawidya pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraan PIMNAS, perguruan tinggi dari Indonesia Timur berhasil keluar sebagai juara umum.

Prestasi itu ternyata bukan kebetulan. Setahun kemudian, ketika Universitas Hasanuddin dipercaya menjadi tuan rumah PIMNAS 2025 di Makassar, kampus merah kembali mempertahankan Piala Adhikarta Kertawidya dan tampil sebagai juara umum untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Gelar back-to-back tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan itu lahir dari sistem pembinaan yang matang, budaya akademik yang kuat, dan transformasi pendidikan yang dijalankan secara konsisten.

Meski memegang jabatan strategis di universitas, Ruslin tidak pernah benar-benar meninggalkan identitasnya sebagai dokter. Ia masih terlibat dalam berbagai operasi bibir sumbing gratis bagi masyarakat.

Baginya, ruang operasi dan ruang akademik sesungguhnya memiliki tujuan yang sama: mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Barangkali di situlah letak kepemimpinannya. Ia memahami bahwa memimpin universitas tidak jauh berbeda dengan melakukan operasi. Keduanya membutuhkan diagnosis yang tepat, keberanian mengambil keputusan, ketelitian, dan kesabaran. Tidak ada perubahan besar yang lahir dari tindakan yang tergesa-gesa.

Ketika pada 7 Juli 2026 ia kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, sesungguhnya yang diperpanjang bukan sekadar masa jabatan. Yang diperpanjang adalah kepercayaan terhadap cara berpikirnya—bahwa pendidikan harus terus bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya.

Dua periode kepemimpinan telah ia jalani. Berbagai capaian telah ditorehkan. Namun, bagi Prof. Muhammad Ruslin, semua itu bukanlah garis akhir yang harus dirayakan. Ia tidak sibuk memikirkan jabatan berikutnya atau penghargaan yang akan datang. Ia hanya ingin terus bekerja, terus mengabdi, dan terus menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Dahulu ia mengembalikan senyum seorang anak melalui pisau bedah. Kini ia berusaha menghadirkan harapan bagi puluhan ribu mahasiswa melalui kebijakan akademik. Medannya berubah. Alat perjuangannya berubah. Tetapi tujuan hidupnya tetap sama: membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Khalil Gibran pernah menulis, "Work is love made visible." Kerja adalah cinta yang mengejawantah.

Barangkali itulah cara paling tepat memahami perjalanan Prof. Muhammad Ruslin. Bekerja, baginya, bukan sekadar menjalankan profesi atau mengemban amanah. Bekerja adalah cara mencintai sesama.

Selama masih diberi kesempatan mengabdi, selama masih ada senyum yang dapat dikembalikan dan masa depan yang dapat dibangun, di situlah ia ingin terus bekerja, dengan cinta.