Karier
Sosial

Dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman: Mengukur Negeri dengan Nalar dan Nurani

Buku Amril Taufik Gobel - Indonesia di Tengah Badai Zaman - Jilid 1, Negeri di Persimpangan. (Cover Buku)

UNHAS.TV — Di tengah banjir informasi, kegaduhan politik, tekanan ekonomi, krisis lingkungan, dan percepatan teknologi, Amril Taufik Gobel memilih jalan yang relatif sunyi: menulis.

Ia menyusun kegelisahan tentang Indonesia ke dalam dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman, yang terdiri atas Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa.

Dua buku karya insinyur bergelar IPU dan ASEAN Engineer itu menghimpun 63 tulisan. Temanya bergerak dari persoalan kemanusiaan, pangan, ekonomi, lingkungan, dan kecerdasan buatan hingga kesehatan jiwa, demokrasi, pendidikan, serta kepemimpinan masa depan.

Dwilogi ini tidak menawarkan satu jawaban besar yang diklaim mampu menyelesaikan seluruh persoalan bangsa.

Buku tersebut bekerja dengan cara yang lebih sederhana: memeriksa gejala, menunjukkan titik rawan, lalu mengajukan pertanyaan yang kerap tenggelam dalam riuh perdebatan publik.



Amril Taufik Gobel, Vice President Procurement EPC dan Investasi, Divisi Supply Chain Management PT Nindya Karya. (Dok ATG)


Di tangan Amril, isu kebijakan tidak berhenti sebagai angka dan istilah teknis. Persoalan itu ditarik kembali kepada manusia yang menanggung akibatnya.

Jilid pertama, Negeri di Persimpangan, memuat 34 tulisan yang sebelumnya terbit di rubrik Opini Kabarika.id sepanjang 2025–2026. Tulisan itu dibagi menjadi empat bagian: Kemanusiaan dan Solidaritas; Pangan, Pertanian, dan Lingkungan; Ekonomi dan Kebijakan Negara; serta Dunia Digital dan Kecerdasan Buatan.

Susunan tersebut menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang sekaligus berhadapan dengan disrupsi teknologi, krisis pangan dan iklim, ketimpangan ekonomi, serta dominasi algoritma.

Tema-tema itu tidak dipilih dari kejauhan. Amril menulis tentang penjaga Rinjani, pengemudi ojek daring yang kehilangan nyawa, petani yang menggantungkan harapan pada musim, serta nelayan yang bertahan di tengah perubahan global.

Ia juga membahas rupiah digital, tekanan terhadap kelas menengah, ancaman deepfake, dan kesepian pada zaman hiperkoneksi.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Selatan (PWI Sulsel), Suwardi Thahir, menilai tulisan-tulisan tersebut seperti “berita zaman” yang diolah menjadi renungan dengan usia lebih panjang daripada sebuah tajuk.

"Amril tidak sekadar memindahkan peristiwa ke halaman buku. Ia berusaha mencari makna sosial di balik setiap kabar," tulisnya mengomentari buku tersebut.

Di titik itu, latar belakang Amril sebagai insinyur teknik mesin menjadi penting. Ia bukan wartawan penuh waktu, melainkan praktisi konstruksi yang terbiasa membaca struktur, risiko, dan titik kritis.

Cara berpikir itu masuk ke dalam tulisannya. Masalah diperlakukan seperti bangunan: bebannya harus dihitung, sambungannya diperiksa, dan bagian yang paling mungkin runtuh mesti segera diperkuat.

Namun logika teknis tersebut tidak berdiri sendiri. Suwardi menyebut Amril memadukan disiplin seorang perekayasa dengan kepekaan, data, konteks, dan empati.

Karena itu, tulisannya tidak hanya menjawab apa yang terjadi, tetapi juga mempertanyakan siapa yang dirugikan dan kebijakan apa yang perlu dibenahi.

Karakter tersebut juga ditangkap Muhammad Sapri Pamulu, mantan Direktur Utama PT Indah Karya dan Deputi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia.

Menurut dia, dwilogi ini menghadirkan sosok insinyur yang tidak berhenti pada beton dan baja. Tanggung jawab keinsinyuran melampaui proyek fisik karena berkaitan dengan pengabdian kepada kemanusiaan dan pembangunan peradaban.

Penilaian itu menemukan dasarnya dalam metode yang berulang pada tulisan Amril. Penulis mengenali masalah, memetakan hubungan antarfaktor, lalu menawarkan kemungkinan jalan keluar.

Kendati menggunakan disiplin berpikir teknis, buku ini tidak berubah menjadi laporan yang kering. Bahasa yang dipakai jernih dan reflektif. Penulis tidak banyak mengumbar istilah rumit, meskipun beberapa bagian menyampaikan posisi moral secara tegas.

Buku Kedua: Merawat Jiwa Bangsa

>> Baca Selanjutnya